Daun

Kamis, 15 Agustus 2013

Aku akan menjadi pedang tanpa lumuran darah

Aku akan menjadi seorang pejuang
Aku akan menjadi seorang pembela
Meskipun tiada yang tahu jenis apa pedang ku
Meskipun tiada yang tahu, siapa atau apa sasaran pedang ku

Bukan karena aku ingin dikenal
Bukan karena kepopuleran semata
Aku ingin mengubah dunia dengan pedang ku ini
Pedang yang jika ku hunuskan
Mereka akan menelan darah mereka sendiri

Aku ingin mengasah pedang ini
Pedang yang semakin lama dimainkan
Akan semakin tajam
Pedang yang semakin lama dihunuskan
Akan semakin indah

Pedang itu adalah jari-jari ku
Pedang yang siaga siang dan malam tanpa harus diasah di atas batu lebih dulu
Pedang yang diasah saat pedang itu dimainkan, bukan sebelum dimainkan
Pedang yang akan bertambah tajam

Pedang itu memiliki sasaran
Tapi tak semudah itu,
Pedang itu melewati sebuah perantara yang tiada batas
Perantara itu adalah buku

Melalui perantara itu,
Melalui tempat di mana orang-orang akan melihatnya, di mana tidak ada satupun yang bisa mencegah untuk membacanya
Bukankah, buku adalah jendelanya dunia?
Ya, buku adalah perantara bagiku dan pedangku
Kami tidak bisa dipisahkan

Kami akan tembus perantara dan menghunus sasaran
Sasaranku adalah dunia
Dunia yang tanpa batas
Dunia yang akan terperangah meelihat pedang yang begitu tajam
Dunia akan menelan ludah mereka sendiri karena begitu takjub

Tidak
Tidak hanya sampai situ
Pedang ini akan merubah dunia
Ya, aku harap begitu
Pedang yang tidak hanya membuat orang-orang tertegun
Tapi  pedang yang membuat orang menjadi,

Bangkit
Damai
Berubah
Paham

Ya,
Begitulah harapanku
Harapan seorang anak tujuh belas tahun
Harapan menjadi pedangnya dunia
Pedang yang memberikan perubahan baik
Pedang yang berada di jalan-Nya
Tanpa menumpahkan setetes darah

Rabu, 14 Agustus 2013

Apa simfoni itu...dimainkan untuk mu, kawan?

Entah itu kabar buruk atau kabar baik
Aku tidak tahu, kawan
Entah itu kabar burung atau nyata
Aku tidak tahu, kawan

Kenapa?
Kau begitu jauh di sana, kawan
Menndengar kabar itupun sungguh ragu buatku
Buat kami

Tidak, simfoni langit telah dimainkan untuk mu
Kau bahkan tak bisa menolaknya sedikitpun
Simfoni langit mengalunkan lagu untuk mu
Apakah kau sempat menolak?
Bahkan kami tak tahu, kawan

Biar
Biar do'a yang selalu menyertai simfoni itu
Karena Dia tak mungkin salah memilih simfoni
Dia Yang Maha Penyayang
Yang Maha kehendak

Tak ada satupun yang mampu menolak simfoni itu
Meski gunung yang gagah
Lautan yang luas dan mentari yang panas
Bersekongkol menolak simfoni-simfoni itu

Ya, kawan
Kami bahagia atas kebahagiaan mu dan menderita atas derita mu
Meski tak tahu keaslian kabar itu
Kabar yang entah baik atau buruk

Entahlah~

Sabtu, 10 Agustus 2013

SANG PERINDU



Aduhai
Rembulan itu indah, bukan?
Terlihat begitu bulat
Begitu jingga
Begitu menawan di tengah hamparan  hitam

Sinarnya membuat berjuta rindu
Bulatnya membuat tambah membesar
Seiring pesan rindu yang ia tampung
Begitu indah, membuat berjuta rasanya saat dipandang

Aduhai, pagi
Kabut yang mengungkung segar , menggelantung indah
Beningnya embun menggelayut di di dedaunan
Udara paginya membuat semangat menatap janji-janji indah
Begitu menyenangkan membuat rindu semalam berharap balasan

Kabutnya membuat kerinduan itu berbuah janji
Embunnya nan bening itu mengubah kerinduan itu menjadi berjuta harapan
Udara segarnya menelusuk kalbu
Membuat perindu bernyanyi ria
Lihat, rindu yang menyesakkan dada
Berubah begitu indah
Begitu menyenangkan

Aduhai, siang
Panasnya membakar jiwa
Teriknya buat peluh mengalir tak tertahankan
Perjuangan tiada batas membara saat itu
Baik pun buruk
Sibuk tiada berarah


Panas mentari membuat jutaan rindu ini terlupakan
Lihat, siapalah yang sibuk tanyakan rindu?
Menyibukan diri demi janji-janji langit
Rindu itu lenyap ke bagian dalam
Didorong
Demi sesuatu yang lebih indah

Kerinduan itu berpeluh jiwa
Beruabah jadi usaha

Entahlah

Aduhai, sunset
Detik-detik tenggelamnya begitu mendebar-debar
Lautan yang biru mengubah diri demi keindahannya
Mentari yang tenggelam  begitu jingga bagai rembulan bukan?
Begitu indah

Detik-detik tenggelammu sungguh mendebarkan
Bagai lautan perasaan ini
Detik-detik perpisahan sungguh sangat mendebarkan
Membuat panah-panah tertancap tajam ke setiap isi kalbu
Warna jingganya membuat sang perindu mengucap pesnanya
Menatapnya dengan begitu sendu
Kalbu dipenuhi harap
Apakah kerinduan itu kan sampai padanya?

Aduhai, sang perindu
Tiada mengenal usia, tiada mengenal batasan
Selalulah sama bentuknya
Tiada siang, tiada malam
Selalu begitulah rasanya

Mendebarkan
Menyakitkan
Menyenangkan
Membahagiakan
Menyedihkan

Setidaknya, kita tahu
Selama kita masih merindu
Kita masih mempunyai hati
Meski sepotong hatinya telah pergi
Menjadi hal yang pantas dirindukan

Jumat, 02 Agustus 2013

Kesempurnaan manusia?



Di sana hujan
Manusia meminta agar cepat berhenti
Demi acara yang mungkin hanya sesaat
Tak peduli meski menyan menusuk kehidung
Di sana panas
Banyak menggeraung agar hujan datang membasahi
Merasa paling tahu, berkata sudah bocorlah neraka-Nya

Si coklat
Bersolek bagai tepung, berbela menyakiti diri
Berharap mengelupas menjadi putih
Si Putih
Terik mentari diterjang, bagai cucian siang
Demi hasil maksimal berharap mencoklatlah ia

Si kurus
Tak henti melahap tak peduli resiko
Berharap esok ‘kan berisi
Si gemuk
Berdiet tak sehat bagai menerjang kematian, mabuk lari tak peduli pagi, siang, malam
Tiada henti berharap esok ‘kan terlihat kecil di depan cermin kejujuran

Tuhan, apa maksud kesempurnaan makhluk-Mu, manusia?
Apa segala  hal?
Akal, hati, bersih, kotor
Baik, jahat
Mengeluh tiada henti
Bersyukur tiada banyak?

Tuhan,
Malaikat dan syaithan kah yang menjadi isi kesempurnaan ini?
Selain akal yang Kau beri khusus untuk manusia?
Apa ini yang membuat kami menjadi sempurna?

Simfoni Langit

Ku menatap
Rembulan yang benderang
Membuat semua nampak menyenangkan
Membuat hati terus bertanyaaa
Apakah kau juga menatap rembulan?

Percikan air membuat tenang
Bagai simfoni-Nya
Sendu terdengar membuat damai
Seperti menatap ketenangan di wajah mu
Membuat hati terus bertanya
Siapakah ketenangan wajah bagi mu?

Angin berhembus membuat rindu
Dedaunan yang terbang menari
Bagai kupu-kupu
Seindah simfoni-Nya yang mengagumkan
Ku lantunkan atas nama cinta

Membuat nalar tak henti bertanya
Apakah kau lantunkan untuk ku?

Simfoni langit terdengar
Membuat beribu tulisan hebat
Simfoni langit dimainkan
Tiada bisa dihentikan

Membuat berjuta jiwa bertanya
Tiadakah bisa kita menghentikanya?
Duhai, simfoni langit
Tiada daya lagi menghentikan semua
Simfoni itu terdengar membuat berjuta bahagia
Membuat berjuta derita
Membuat kisah-kisah terindah dari-Nya

-dzia-

Lyric Simfoni Hitam - Sherina Munaf

Malam sunyi ku impikan mu
Ku lukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpi mu

Di hati ku terukir nama mu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hati mu

R : T'lah ku nyanyikan
      Alunan-alunan sendu ku
      T'lah ku bisikan
      Cerita-cerita gelap ku
         T'lah ku abaikan
         Mimpi-mimpi dan ambisi ku
         Tapi mengapa ku takkan bisa
         Sentuh hati mu

Bila saja kau di sisi ku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku dirindu mu

R : T'lah ku nyanyikan
      Alunan-alunan sendu ku
      T'lah ku bisikan
      Cerita-cerita gelap ku
         T'lah ku abaikan
         Mimpi-mimpi dan ambisi ku
         Tapi mengapa ku takkan bisa
         Sentuh hati mu.... uu.. u..

Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untuk mu........

R : T'lah ku nyanyikan
      Alunan-alunan sendu ku
      T'lah ku bisikan
      Cerita-cerita gelap ku
         T'lah ku abaikan
         Mimpi-mimpi dan ambisi ku
         Tapi mengapa ku takkan bisa
         Sentuh hati mu.... uu.. u.. u.. u

     T'lah ku abaikan
     Mimpi-mmimpi dan ambisi ku
     Tapi mengapa ku takkan bisa
     Sentuuh hati mu

Kamis, 01 Agustus 2013

PUISI (MELAMPAUINYA V)

Bentuk kepergian
Jika saja dapat kembali,
Tentu kepergian itu akan sangat ditunggu kembaliannya
Meski waktu rasanya berjalan sangat lamban

Bentuk kepergian
Bagaimana dengan kepergian yang setia?
Kepergian yang tak akan pernah kembali?
Meski waktu berjalan begitu cepat
Tetap saja tidak akan pernah kembali, bukan?

Yang mana?
Bentuk kepergian yang mana yang begitu menyakitkan?
Bukankah bentuk kepergian sama saja?
Tetap pergi
Meski tak akan pernah sama ujungnya

Bentuk kepergian
Pernahkah kalian menginginkannya?
Tidak
Bahkan meski rasanya hanya sejam

Tapi di dunia ini selalu saja ada antonim
Membuat  semuanya berbalik
Cinta-Benci
Datang-Pergi

Tuhan
Aku terus mempertanyakan kepergian yang setia itu
Melipat dahi setiap menatap senyap rembulan di atas atap rumah
Mempertanyakan arti sebuah kepergian

Aku
Lelaki yang disayanginya
Masih terus mempertanyakan
Membuatnya yang begitu indah terlihat murung

Dia
Tembok besar yang sangat indah itu mengkhawatirkan ku
Resah, marah
Dia begitu paham tentang semua ini, Tuhan
Tapi kenapa aku tidak?

Atau...
Aku sendiri yang tak pernah ingin mengerti bentuk kepergian itu?