Aku akan menjadi seorang pejuang
Aku akan menjadi seorang pembela
Meskipun tiada yang tahu jenis apa pedang ku
Meskipun tiada yang tahu, siapa atau apa sasaran pedang ku
Bukan karena aku ingin dikenal
Bukan karena kepopuleran semata
Aku ingin mengubah dunia dengan pedang ku ini
Pedang yang jika ku hunuskan
Mereka akan menelan darah mereka sendiri
Aku ingin mengasah pedang ini
Pedang yang semakin lama dimainkan
Akan semakin tajam
Pedang yang semakin lama dihunuskan
Akan semakin indah
Pedang itu adalah jari-jari ku
Pedang yang siaga siang dan malam tanpa harus diasah di atas batu lebih dulu
Pedang yang diasah saat pedang itu dimainkan, bukan sebelum dimainkan
Pedang yang akan bertambah tajam
Pedang itu memiliki sasaran
Tapi tak semudah itu,
Pedang itu melewati sebuah perantara yang tiada batas
Perantara itu adalah buku
Melalui perantara itu,
Melalui tempat di mana orang-orang akan melihatnya, di mana tidak ada satupun yang bisa mencegah untuk membacanya
Bukankah, buku adalah jendelanya dunia?
Ya, buku adalah perantara bagiku dan pedangku
Kami tidak bisa dipisahkan
Kami akan tembus perantara dan menghunus sasaran
Sasaranku adalah dunia
Dunia yang tanpa batas
Dunia yang akan terperangah meelihat pedang yang begitu tajam
Dunia akan menelan ludah mereka sendiri karena begitu takjub
Tidak
Tidak hanya sampai situ
Pedang ini akan merubah dunia
Ya, aku harap begitu
Pedang yang tidak hanya membuat orang-orang tertegun
Tapi pedang yang membuat orang menjadi,
Bangkit
Damai
Berubah
Paham
Ya,
Begitulah harapanku
Harapan seorang anak tujuh belas tahun
Harapan menjadi pedangnya dunia
Pedang yang memberikan perubahan baik
Pedang yang berada di jalan-Nya
Tanpa menumpahkan setetes darah
Semua perasaan itu special (silahkan copas-tp tolong diberi sumbernya-dziazahra.blogspot.com)
Daun
Kamis, 15 Agustus 2013
Rabu, 14 Agustus 2013
Apa simfoni itu...dimainkan untuk mu, kawan?
Entah itu kabar buruk atau kabar baik
Aku tidak tahu, kawan
Entah itu kabar burung atau nyata
Aku tidak tahu, kawan
Kenapa?
Kau begitu jauh di sana, kawan
Menndengar kabar itupun sungguh ragu buatku
Buat kami
Tidak, simfoni langit telah dimainkan untuk mu
Kau bahkan tak bisa menolaknya sedikitpun
Simfoni langit mengalunkan lagu untuk mu
Apakah kau sempat menolak?
Bahkan kami tak tahu, kawan
Biar
Biar do'a yang selalu menyertai simfoni itu
Karena Dia tak mungkin salah memilih simfoni
Dia Yang Maha Penyayang
Yang Maha kehendak
Tak ada satupun yang mampu menolak simfoni itu
Meski gunung yang gagah
Lautan yang luas dan mentari yang panas
Bersekongkol menolak simfoni-simfoni itu
Ya, kawan
Kami bahagia atas kebahagiaan mu dan menderita atas derita mu
Meski tak tahu keaslian kabar itu
Kabar yang entah baik atau buruk
Entahlah~
Aku tidak tahu, kawan
Entah itu kabar burung atau nyata
Aku tidak tahu, kawan
Kenapa?
Kau begitu jauh di sana, kawan
Menndengar kabar itupun sungguh ragu buatku
Buat kami
Tidak, simfoni langit telah dimainkan untuk mu
Kau bahkan tak bisa menolaknya sedikitpun
Simfoni langit mengalunkan lagu untuk mu
Apakah kau sempat menolak?
Bahkan kami tak tahu, kawan
Biar
Biar do'a yang selalu menyertai simfoni itu
Karena Dia tak mungkin salah memilih simfoni
Dia Yang Maha Penyayang
Yang Maha kehendak
Tak ada satupun yang mampu menolak simfoni itu
Meski gunung yang gagah
Lautan yang luas dan mentari yang panas
Bersekongkol menolak simfoni-simfoni itu
Ya, kawan
Kami bahagia atas kebahagiaan mu dan menderita atas derita mu
Meski tak tahu keaslian kabar itu
Kabar yang entah baik atau buruk
Entahlah~
Sabtu, 10 Agustus 2013
SANG PERINDU
Aduhai
Rembulan
itu indah, bukan?
Terlihat
begitu bulat
Begitu
jingga
Begitu
menawan di tengah hamparan hitam
Sinarnya
membuat berjuta rindu
Bulatnya
membuat tambah membesar
Seiring
pesan rindu yang ia tampung
Begitu
indah, membuat berjuta rasanya saat dipandang
Aduhai,
pagi
Kabut
yang mengungkung segar , menggelantung indah
Beningnya
embun menggelayut di di dedaunan
Udara
paginya membuat semangat menatap janji-janji indah
Begitu
menyenangkan membuat rindu semalam berharap balasan
Kabutnya
membuat kerinduan itu berbuah janji
Embunnya
nan bening itu mengubah kerinduan itu menjadi berjuta harapan
Udara
segarnya menelusuk kalbu
Membuat
perindu bernyanyi ria
Lihat,
rindu yang menyesakkan dada
Berubah
begitu indah
Begitu
menyenangkan
Aduhai,
siang
Panasnya
membakar jiwa
Teriknya
buat peluh mengalir tak tertahankan
Perjuangan
tiada batas membara saat itu
Baik pun
buruk
Sibuk
tiada berarah
Panas
mentari membuat jutaan rindu ini terlupakan
Lihat,
siapalah yang sibuk tanyakan rindu?
Menyibukan
diri demi janji-janji langit
Rindu itu
lenyap ke bagian dalam
Didorong
Demi
sesuatu yang lebih indah
Kerinduan
itu berpeluh jiwa
Beruabah
jadi usaha
Entahlah
Aduhai,
sunset
Detik-detik
tenggelamnya begitu mendebar-debar
Lautan
yang biru mengubah diri demi keindahannya
Mentari
yang tenggelam begitu jingga bagai
rembulan bukan?
Begitu
indah
Detik-detik
tenggelammu sungguh mendebarkan
Bagai
lautan perasaan ini
Detik-detik
perpisahan sungguh sangat mendebarkan
Membuat
panah-panah tertancap tajam ke setiap isi kalbu
Warna
jingganya membuat sang perindu mengucap pesnanya
Menatapnya
dengan begitu sendu
Kalbu
dipenuhi harap
Apakah
kerinduan itu kan sampai padanya?
Aduhai,
sang perindu
Tiada
mengenal usia, tiada mengenal batasan
Selalulah
sama bentuknya
Tiada
siang, tiada malam
Selalu
begitulah rasanya
Mendebarkan
Menyakitkan
Menyenangkan
Membahagiakan
Menyedihkan
Setidaknya,
kita tahu
Selama
kita masih merindu
Kita
masih mempunyai hati
Meski
sepotong hatinya telah pergi
Menjadi
hal yang pantas dirindukan
Jumat, 02 Agustus 2013
Kesempurnaan manusia?
Di sana
hujan
Manusia meminta agar cepat berhenti
Demi acara yang mungkin hanya sesaat
Tak peduli meski menyan menusuk kehidung
Demi acara yang mungkin hanya sesaat
Tak peduli meski menyan menusuk kehidung
Di sana
panas
Banyak
menggeraung agar hujan datang membasahi
Merasa paling tahu, berkata sudah bocorlah neraka-Nya
Merasa paling tahu, berkata sudah bocorlah neraka-Nya
Si coklat
Bersolek
bagai tepung, berbela menyakiti diri
Berharap
mengelupas menjadi putih
Si Putih
Terik
mentari diterjang, bagai cucian siang
Demi
hasil maksimal berharap mencoklatlah ia
Si kurus
Tak henti melahap tak peduli resiko
Berharap
esok ‘kan berisi
Si gemuk
Berdiet
tak sehat bagai menerjang kematian, mabuk lari tak peduli pagi, siang, malam
Tiada
henti berharap esok ‘kan terlihat kecil di depan cermin kejujuran
Tuhan,
apa maksud kesempurnaan makhluk-Mu, manusia?
Apa
segala hal?
Akal,
hati, bersih, kotor
Baik,
jahat
Mengeluh
tiada henti
Bersyukur
tiada banyak?
Tuhan,
Malaikat
dan syaithan kah yang menjadi isi kesempurnaan ini?
Selain
akal yang Kau beri khusus untuk manusia?
Apa ini
yang membuat kami menjadi sempurna?
Simfoni Langit
Ku menatap
Rembulan yang benderang
Membuat semua nampak menyenangkan
Membuat hati terus bertanyaaa
Apakah kau juga menatap rembulan?
Percikan air membuat tenang
Bagai simfoni-Nya
Sendu terdengar membuat damai
Seperti menatap ketenangan di wajah mu
Membuat hati terus bertanya
Siapakah ketenangan wajah bagi mu?
Angin berhembus membuat rindu
Dedaunan yang terbang menari
Bagai kupu-kupu
Seindah simfoni-Nya yang mengagumkan
Ku lantunkan atas nama cinta
Membuat nalar tak henti bertanya
Apakah kau lantunkan untuk ku?
Simfoni langit terdengar
Membuat beribu tulisan hebat
Simfoni langit dimainkan
Tiada bisa dihentikan
Membuat berjuta jiwa bertanya
Tiadakah bisa kita menghentikanya?
Duhai, simfoni langit
Tiada daya lagi menghentikan semua
Simfoni itu terdengar membuat berjuta bahagia
Membuat berjuta derita
Membuat kisah-kisah terindah dari-Nya
-dzia-
Rembulan yang benderang
Membuat semua nampak menyenangkan
Membuat hati terus bertanyaaa
Apakah kau juga menatap rembulan?
Percikan air membuat tenang
Bagai simfoni-Nya
Sendu terdengar membuat damai
Seperti menatap ketenangan di wajah mu
Membuat hati terus bertanya
Siapakah ketenangan wajah bagi mu?
Angin berhembus membuat rindu
Dedaunan yang terbang menari
Bagai kupu-kupu
Seindah simfoni-Nya yang mengagumkan
Ku lantunkan atas nama cinta
Membuat nalar tak henti bertanya
Apakah kau lantunkan untuk ku?
Simfoni langit terdengar
Membuat beribu tulisan hebat
Simfoni langit dimainkan
Tiada bisa dihentikan
Membuat berjuta jiwa bertanya
Tiadakah bisa kita menghentikanya?
Duhai, simfoni langit
Tiada daya lagi menghentikan semua
Simfoni itu terdengar membuat berjuta bahagia
Membuat berjuta derita
Membuat kisah-kisah terindah dari-Nya
-dzia-
Lyric Simfoni Hitam - Sherina Munaf
Malam sunyi ku impikan mu
Ku lukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpi mu
Di hati ku terukir nama mu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hati mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu
Bila saja kau di sisi ku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku dirindu mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u..
Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untuk mu........
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u.. u.. u
T'lah ku abaikan
Mimpi-mmimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuuh hati mu
Ku lukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpi mu
Di hati ku terukir nama mu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hati mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu
Bila saja kau di sisi ku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku dirindu mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u..
Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untuk mu........
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u.. u.. u
T'lah ku abaikan
Mimpi-mmimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuuh hati mu
Kamis, 01 Agustus 2013
PUISI (MELAMPAUINYA V)
Bentuk kepergian
Jika saja dapat kembali,
Tentu kepergian itu akan sangat ditunggu kembaliannya
Meski waktu rasanya berjalan sangat lamban
Bentuk kepergian
Bagaimana dengan kepergian yang setia?
Kepergian yang tak akan pernah kembali?
Meski waktu berjalan begitu cepat
Tetap saja tidak akan pernah kembali, bukan?
Yang mana?
Bentuk kepergian yang mana yang begitu menyakitkan?
Bukankah bentuk kepergian sama saja?
Tetap pergi
Meski tak akan pernah sama ujungnya
Bentuk kepergian
Pernahkah kalian menginginkannya?
Tidak
Bahkan meski rasanya hanya sejam
Tapi di dunia ini selalu saja ada antonim
Membuat semuanya berbalik
Cinta-Benci
Datang-Pergi
Tuhan
Aku terus mempertanyakan kepergian yang setia itu
Melipat dahi setiap menatap senyap rembulan di atas atap rumah
Mempertanyakan arti sebuah kepergian
Aku
Lelaki yang disayanginya
Masih terus mempertanyakan
Membuatnya yang begitu indah terlihat murung
Dia
Tembok besar yang sangat indah itu mengkhawatirkan ku
Resah, marah
Dia begitu paham tentang semua ini, Tuhan
Tapi kenapa aku tidak?
Atau...
Aku sendiri yang tak pernah ingin mengerti bentuk kepergian itu?
Jika saja dapat kembali,
Tentu kepergian itu akan sangat ditunggu kembaliannya
Meski waktu rasanya berjalan sangat lamban
Bentuk kepergian
Bagaimana dengan kepergian yang setia?
Kepergian yang tak akan pernah kembali?
Meski waktu berjalan begitu cepat
Tetap saja tidak akan pernah kembali, bukan?
Yang mana?
Bentuk kepergian yang mana yang begitu menyakitkan?
Bukankah bentuk kepergian sama saja?
Tetap pergi
Meski tak akan pernah sama ujungnya
Bentuk kepergian
Pernahkah kalian menginginkannya?
Tidak
Bahkan meski rasanya hanya sejam
Tapi di dunia ini selalu saja ada antonim
Membuat semuanya berbalik
Cinta-Benci
Datang-Pergi
Tuhan
Aku terus mempertanyakan kepergian yang setia itu
Melipat dahi setiap menatap senyap rembulan di atas atap rumah
Mempertanyakan arti sebuah kepergian
Aku
Lelaki yang disayanginya
Masih terus mempertanyakan
Membuatnya yang begitu indah terlihat murung
Dia
Tembok besar yang sangat indah itu mengkhawatirkan ku
Resah, marah
Dia begitu paham tentang semua ini, Tuhan
Tapi kenapa aku tidak?
Atau...
Aku sendiri yang tak pernah ingin mengerti bentuk kepergian itu?
Langganan:
Postingan (Atom)
