Aduhai
Rembulan
itu indah, bukan?
Terlihat
begitu bulat
Begitu
jingga
Begitu
menawan di tengah hamparan hitam
Sinarnya
membuat berjuta rindu
Bulatnya
membuat tambah membesar
Seiring
pesan rindu yang ia tampung
Begitu
indah, membuat berjuta rasanya saat dipandang
Aduhai,
pagi
Kabut
yang mengungkung segar , menggelantung indah
Beningnya
embun menggelayut di di dedaunan
Udara
paginya membuat semangat menatap janji-janji indah
Begitu
menyenangkan membuat rindu semalam berharap balasan
Kabutnya
membuat kerinduan itu berbuah janji
Embunnya
nan bening itu mengubah kerinduan itu menjadi berjuta harapan
Udara
segarnya menelusuk kalbu
Membuat
perindu bernyanyi ria
Lihat,
rindu yang menyesakkan dada
Berubah
begitu indah
Begitu
menyenangkan
Aduhai,
siang
Panasnya
membakar jiwa
Teriknya
buat peluh mengalir tak tertahankan
Perjuangan
tiada batas membara saat itu
Baik pun
buruk
Sibuk
tiada berarah
Panas
mentari membuat jutaan rindu ini terlupakan
Lihat,
siapalah yang sibuk tanyakan rindu?
Menyibukan
diri demi janji-janji langit
Rindu itu
lenyap ke bagian dalam
Didorong
Demi
sesuatu yang lebih indah
Kerinduan
itu berpeluh jiwa
Beruabah
jadi usaha
Entahlah
Aduhai,
sunset
Detik-detik
tenggelamnya begitu mendebar-debar
Lautan
yang biru mengubah diri demi keindahannya
Mentari
yang tenggelam begitu jingga bagai
rembulan bukan?
Begitu
indah
Detik-detik
tenggelammu sungguh mendebarkan
Bagai
lautan perasaan ini
Detik-detik
perpisahan sungguh sangat mendebarkan
Membuat
panah-panah tertancap tajam ke setiap isi kalbu
Warna
jingganya membuat sang perindu mengucap pesnanya
Menatapnya
dengan begitu sendu
Kalbu
dipenuhi harap
Apakah
kerinduan itu kan sampai padanya?
Aduhai,
sang perindu
Tiada
mengenal usia, tiada mengenal batasan
Selalulah
sama bentuknya
Tiada
siang, tiada malam
Selalu
begitulah rasanya
Mendebarkan
Menyakitkan
Menyenangkan
Membahagiakan
Menyedihkan
Setidaknya,
kita tahu
Selama
kita masih merindu
Kita
masih mempunyai hati
Meski
sepotong hatinya telah pergi
Menjadi
hal yang pantas dirindukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar