Aku tidak memaksa kalian untuk membacanya. Sungguh sangat tidak memaksa.
Tapi aku ingin menuliskannya meski tak ada satupun yang akan membacanya. Aku hanya merasa harus menuliskannya, kawan.
Seperti apa itu pertemanan?. Seperti apa itu persahabatan. Sungguh, aku belum mendapatkan jawaban itu sampai sekarang. Pertanyaan yang selalu saja terngiang. Kata Mbah Gugel, sahabat adalah orang yang senantiasa berada didekat mu dengan mencoba untuk membantu mu apapun masalah yang kau hadapi. Sayangnya, aku selalu saja tidak merasa paham. Jika benar seperti itu, jujur saja...banyak yang tidak benar-benar berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi temannya, bukan?. Tentu saja teman tidak akan mampu untuk mencampuri urusan temannya lebih dalam.
Kata sebagian anak alay, sahabat itu... yang mau berbagi dengan kita apapun itu dan tidak pernah menyakiti kita atau menjadi penghianat. Pendapat inilah yang paling kacau. Tidak ada teman yang mampu berbagi segalanya. Manusia memiliki batasan dalam diri mereka untuk menceritakan dan berbagi kehidupannya. Itu karena sifat manusia yang tidak dapat dipercaya. Shabat yang tidak pernah menyakiti kita. Macam apa ini?, teman itu selalu menyakitkan, bukan?. Seorang teman yang baik akan menegur temannya jika ia salah. Bukankah awal dari peringatan itu sakit?. Teman kita tidak mau melakukan atau ikut bersama apa yang kita kerjakan. Teman macam apa itu?. Ya, itulah teman yang sangat menyakitkan! tapi teman yang sangat baik. Jadi bagi saya, tidak ada teman yang tidak menyakiti perasaan temannya. Menjadi seorang penghianat adalah hobi teman. Penghianat pada kemungkaran. Bukankah saya sudah jelaskan?, teman baik akan menasehati kita kala kita over. Jika kita tetap membandal, tentu teman akan meninggalkan kita. Merasa dikhianati? ya. bukan?. Tapi khianatnya yang berbentuk pelangi. Ia tidak benar-benar mengkhianatimu. Ia sedang memberi pelajaran yang tak terkira untuk mu!.
Jadi, apa sahabat itu adalah orang yang khianat, jahat, menyebalkan?.
Ya, tentu saja. Sahabat adalah seseorang yang mampu jahat terhadap kita dikala kita mungkar, ia menasehati tiada henti. Menjadi orang yang khianat saat semua yang ia katakan, yang ia coba tularkan.. tak pernah kunjung sampai. Ia meninggalkan mu, bukan karena tidak mau berteman dengan kita. Tapi memberi kita waktu untuk berfikir.
Tapi tetap saja aku tidak pernah merasa puas dengan fikiran ku tentang teman. Aku masih mencari jawabannya, itu hanya sebuah ulasan kecil ku. Ulasan otak ku yang buntu karena banyak pertanyaan yang belum tejawab, termasuk tentang...apa itu sahabat.
Aku berharap mengetahuinya dari kalian. Teman-teman yang bersedia dinasehati dan menasehati. Teman yang hanya berharap Ridho-Nya.
Esok, jika fajar menyingsing dan nafas masih berhembus indah bergantian, pastikan aku tahu... kalian benar pencari teman. Teman yang sesungguhnya. Teman yang memiliki arti.
Semua perasaan itu special (silahkan copas-tp tolong diberi sumbernya-dziazahra.blogspot.com)
Daun
Senin, 14 Oktober 2013
Kamis, 15 Agustus 2013
Aku akan menjadi pedang tanpa lumuran darah
Aku akan menjadi seorang pejuang
Aku akan menjadi seorang pembela
Meskipun tiada yang tahu jenis apa pedang ku
Meskipun tiada yang tahu, siapa atau apa sasaran pedang ku
Bukan karena aku ingin dikenal
Bukan karena kepopuleran semata
Aku ingin mengubah dunia dengan pedang ku ini
Pedang yang jika ku hunuskan
Mereka akan menelan darah mereka sendiri
Aku ingin mengasah pedang ini
Pedang yang semakin lama dimainkan
Akan semakin tajam
Pedang yang semakin lama dihunuskan
Akan semakin indah
Pedang itu adalah jari-jari ku
Pedang yang siaga siang dan malam tanpa harus diasah di atas batu lebih dulu
Pedang yang diasah saat pedang itu dimainkan, bukan sebelum dimainkan
Pedang yang akan bertambah tajam
Pedang itu memiliki sasaran
Tapi tak semudah itu,
Pedang itu melewati sebuah perantara yang tiada batas
Perantara itu adalah buku
Melalui perantara itu,
Melalui tempat di mana orang-orang akan melihatnya, di mana tidak ada satupun yang bisa mencegah untuk membacanya
Bukankah, buku adalah jendelanya dunia?
Ya, buku adalah perantara bagiku dan pedangku
Kami tidak bisa dipisahkan
Kami akan tembus perantara dan menghunus sasaran
Sasaranku adalah dunia
Dunia yang tanpa batas
Dunia yang akan terperangah meelihat pedang yang begitu tajam
Dunia akan menelan ludah mereka sendiri karena begitu takjub
Tidak
Tidak hanya sampai situ
Pedang ini akan merubah dunia
Ya, aku harap begitu
Pedang yang tidak hanya membuat orang-orang tertegun
Tapi pedang yang membuat orang menjadi,
Bangkit
Damai
Berubah
Paham
Ya,
Begitulah harapanku
Harapan seorang anak tujuh belas tahun
Harapan menjadi pedangnya dunia
Pedang yang memberikan perubahan baik
Pedang yang berada di jalan-Nya
Tanpa menumpahkan setetes darah
Aku akan menjadi seorang pembela
Meskipun tiada yang tahu jenis apa pedang ku
Meskipun tiada yang tahu, siapa atau apa sasaran pedang ku
Bukan karena aku ingin dikenal
Bukan karena kepopuleran semata
Aku ingin mengubah dunia dengan pedang ku ini
Pedang yang jika ku hunuskan
Mereka akan menelan darah mereka sendiri
Aku ingin mengasah pedang ini
Pedang yang semakin lama dimainkan
Akan semakin tajam
Pedang yang semakin lama dihunuskan
Akan semakin indah
Pedang itu adalah jari-jari ku
Pedang yang siaga siang dan malam tanpa harus diasah di atas batu lebih dulu
Pedang yang diasah saat pedang itu dimainkan, bukan sebelum dimainkan
Pedang yang akan bertambah tajam
Pedang itu memiliki sasaran
Tapi tak semudah itu,
Pedang itu melewati sebuah perantara yang tiada batas
Perantara itu adalah buku
Melalui perantara itu,
Melalui tempat di mana orang-orang akan melihatnya, di mana tidak ada satupun yang bisa mencegah untuk membacanya
Bukankah, buku adalah jendelanya dunia?
Ya, buku adalah perantara bagiku dan pedangku
Kami tidak bisa dipisahkan
Kami akan tembus perantara dan menghunus sasaran
Sasaranku adalah dunia
Dunia yang tanpa batas
Dunia yang akan terperangah meelihat pedang yang begitu tajam
Dunia akan menelan ludah mereka sendiri karena begitu takjub
Tidak
Tidak hanya sampai situ
Pedang ini akan merubah dunia
Ya, aku harap begitu
Pedang yang tidak hanya membuat orang-orang tertegun
Tapi pedang yang membuat orang menjadi,
Bangkit
Damai
Berubah
Paham
Ya,
Begitulah harapanku
Harapan seorang anak tujuh belas tahun
Harapan menjadi pedangnya dunia
Pedang yang memberikan perubahan baik
Pedang yang berada di jalan-Nya
Tanpa menumpahkan setetes darah
Rabu, 14 Agustus 2013
Apa simfoni itu...dimainkan untuk mu, kawan?
Entah itu kabar buruk atau kabar baik
Aku tidak tahu, kawan
Entah itu kabar burung atau nyata
Aku tidak tahu, kawan
Kenapa?
Kau begitu jauh di sana, kawan
Menndengar kabar itupun sungguh ragu buatku
Buat kami
Tidak, simfoni langit telah dimainkan untuk mu
Kau bahkan tak bisa menolaknya sedikitpun
Simfoni langit mengalunkan lagu untuk mu
Apakah kau sempat menolak?
Bahkan kami tak tahu, kawan
Biar
Biar do'a yang selalu menyertai simfoni itu
Karena Dia tak mungkin salah memilih simfoni
Dia Yang Maha Penyayang
Yang Maha kehendak
Tak ada satupun yang mampu menolak simfoni itu
Meski gunung yang gagah
Lautan yang luas dan mentari yang panas
Bersekongkol menolak simfoni-simfoni itu
Ya, kawan
Kami bahagia atas kebahagiaan mu dan menderita atas derita mu
Meski tak tahu keaslian kabar itu
Kabar yang entah baik atau buruk
Entahlah~
Aku tidak tahu, kawan
Entah itu kabar burung atau nyata
Aku tidak tahu, kawan
Kenapa?
Kau begitu jauh di sana, kawan
Menndengar kabar itupun sungguh ragu buatku
Buat kami
Tidak, simfoni langit telah dimainkan untuk mu
Kau bahkan tak bisa menolaknya sedikitpun
Simfoni langit mengalunkan lagu untuk mu
Apakah kau sempat menolak?
Bahkan kami tak tahu, kawan
Biar
Biar do'a yang selalu menyertai simfoni itu
Karena Dia tak mungkin salah memilih simfoni
Dia Yang Maha Penyayang
Yang Maha kehendak
Tak ada satupun yang mampu menolak simfoni itu
Meski gunung yang gagah
Lautan yang luas dan mentari yang panas
Bersekongkol menolak simfoni-simfoni itu
Ya, kawan
Kami bahagia atas kebahagiaan mu dan menderita atas derita mu
Meski tak tahu keaslian kabar itu
Kabar yang entah baik atau buruk
Entahlah~
Sabtu, 10 Agustus 2013
SANG PERINDU
Aduhai
Rembulan
itu indah, bukan?
Terlihat
begitu bulat
Begitu
jingga
Begitu
menawan di tengah hamparan hitam
Sinarnya
membuat berjuta rindu
Bulatnya
membuat tambah membesar
Seiring
pesan rindu yang ia tampung
Begitu
indah, membuat berjuta rasanya saat dipandang
Aduhai,
pagi
Kabut
yang mengungkung segar , menggelantung indah
Beningnya
embun menggelayut di di dedaunan
Udara
paginya membuat semangat menatap janji-janji indah
Begitu
menyenangkan membuat rindu semalam berharap balasan
Kabutnya
membuat kerinduan itu berbuah janji
Embunnya
nan bening itu mengubah kerinduan itu menjadi berjuta harapan
Udara
segarnya menelusuk kalbu
Membuat
perindu bernyanyi ria
Lihat,
rindu yang menyesakkan dada
Berubah
begitu indah
Begitu
menyenangkan
Aduhai,
siang
Panasnya
membakar jiwa
Teriknya
buat peluh mengalir tak tertahankan
Perjuangan
tiada batas membara saat itu
Baik pun
buruk
Sibuk
tiada berarah
Panas
mentari membuat jutaan rindu ini terlupakan
Lihat,
siapalah yang sibuk tanyakan rindu?
Menyibukan
diri demi janji-janji langit
Rindu itu
lenyap ke bagian dalam
Didorong
Demi
sesuatu yang lebih indah
Kerinduan
itu berpeluh jiwa
Beruabah
jadi usaha
Entahlah
Aduhai,
sunset
Detik-detik
tenggelamnya begitu mendebar-debar
Lautan
yang biru mengubah diri demi keindahannya
Mentari
yang tenggelam begitu jingga bagai
rembulan bukan?
Begitu
indah
Detik-detik
tenggelammu sungguh mendebarkan
Bagai
lautan perasaan ini
Detik-detik
perpisahan sungguh sangat mendebarkan
Membuat
panah-panah tertancap tajam ke setiap isi kalbu
Warna
jingganya membuat sang perindu mengucap pesnanya
Menatapnya
dengan begitu sendu
Kalbu
dipenuhi harap
Apakah
kerinduan itu kan sampai padanya?
Aduhai,
sang perindu
Tiada
mengenal usia, tiada mengenal batasan
Selalulah
sama bentuknya
Tiada
siang, tiada malam
Selalu
begitulah rasanya
Mendebarkan
Menyakitkan
Menyenangkan
Membahagiakan
Menyedihkan
Setidaknya,
kita tahu
Selama
kita masih merindu
Kita
masih mempunyai hati
Meski
sepotong hatinya telah pergi
Menjadi
hal yang pantas dirindukan
Jumat, 02 Agustus 2013
Kesempurnaan manusia?
Di sana
hujan
Manusia meminta agar cepat berhenti
Demi acara yang mungkin hanya sesaat
Tak peduli meski menyan menusuk kehidung
Demi acara yang mungkin hanya sesaat
Tak peduli meski menyan menusuk kehidung
Di sana
panas
Banyak
menggeraung agar hujan datang membasahi
Merasa paling tahu, berkata sudah bocorlah neraka-Nya
Merasa paling tahu, berkata sudah bocorlah neraka-Nya
Si coklat
Bersolek
bagai tepung, berbela menyakiti diri
Berharap
mengelupas menjadi putih
Si Putih
Terik
mentari diterjang, bagai cucian siang
Demi
hasil maksimal berharap mencoklatlah ia
Si kurus
Tak henti melahap tak peduli resiko
Berharap
esok ‘kan berisi
Si gemuk
Berdiet
tak sehat bagai menerjang kematian, mabuk lari tak peduli pagi, siang, malam
Tiada
henti berharap esok ‘kan terlihat kecil di depan cermin kejujuran
Tuhan,
apa maksud kesempurnaan makhluk-Mu, manusia?
Apa
segala hal?
Akal,
hati, bersih, kotor
Baik,
jahat
Mengeluh
tiada henti
Bersyukur
tiada banyak?
Tuhan,
Malaikat
dan syaithan kah yang menjadi isi kesempurnaan ini?
Selain
akal yang Kau beri khusus untuk manusia?
Apa ini
yang membuat kami menjadi sempurna?
Simfoni Langit
Ku menatap
Rembulan yang benderang
Membuat semua nampak menyenangkan
Membuat hati terus bertanyaaa
Apakah kau juga menatap rembulan?
Percikan air membuat tenang
Bagai simfoni-Nya
Sendu terdengar membuat damai
Seperti menatap ketenangan di wajah mu
Membuat hati terus bertanya
Siapakah ketenangan wajah bagi mu?
Angin berhembus membuat rindu
Dedaunan yang terbang menari
Bagai kupu-kupu
Seindah simfoni-Nya yang mengagumkan
Ku lantunkan atas nama cinta
Membuat nalar tak henti bertanya
Apakah kau lantunkan untuk ku?
Simfoni langit terdengar
Membuat beribu tulisan hebat
Simfoni langit dimainkan
Tiada bisa dihentikan
Membuat berjuta jiwa bertanya
Tiadakah bisa kita menghentikanya?
Duhai, simfoni langit
Tiada daya lagi menghentikan semua
Simfoni itu terdengar membuat berjuta bahagia
Membuat berjuta derita
Membuat kisah-kisah terindah dari-Nya
-dzia-
Rembulan yang benderang
Membuat semua nampak menyenangkan
Membuat hati terus bertanyaaa
Apakah kau juga menatap rembulan?
Percikan air membuat tenang
Bagai simfoni-Nya
Sendu terdengar membuat damai
Seperti menatap ketenangan di wajah mu
Membuat hati terus bertanya
Siapakah ketenangan wajah bagi mu?
Angin berhembus membuat rindu
Dedaunan yang terbang menari
Bagai kupu-kupu
Seindah simfoni-Nya yang mengagumkan
Ku lantunkan atas nama cinta
Membuat nalar tak henti bertanya
Apakah kau lantunkan untuk ku?
Simfoni langit terdengar
Membuat beribu tulisan hebat
Simfoni langit dimainkan
Tiada bisa dihentikan
Membuat berjuta jiwa bertanya
Tiadakah bisa kita menghentikanya?
Duhai, simfoni langit
Tiada daya lagi menghentikan semua
Simfoni itu terdengar membuat berjuta bahagia
Membuat berjuta derita
Membuat kisah-kisah terindah dari-Nya
-dzia-
Lyric Simfoni Hitam - Sherina Munaf
Malam sunyi ku impikan mu
Ku lukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpi mu
Di hati ku terukir nama mu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hati mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu
Bila saja kau di sisi ku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku dirindu mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u..
Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untuk mu........
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u.. u.. u
T'lah ku abaikan
Mimpi-mmimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuuh hati mu
Ku lukiskan cita bersama
Namun s'lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpi mu
Di hati ku terukir nama mu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hati mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu
Bila saja kau di sisi ku
Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku dirindu mu
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u..
Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku
Dengar simfoni ku
Simfoni hanya untuk mu........
R : T'lah ku nyanyikan
Alunan-alunan sendu ku
T'lah ku bisikan
Cerita-cerita gelap ku
T'lah ku abaikan
Mimpi-mimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuh hati mu.... uu.. u.. u.. u
T'lah ku abaikan
Mimpi-mmimpi dan ambisi ku
Tapi mengapa ku takkan bisa
Sentuuh hati mu
Kamis, 01 Agustus 2013
PUISI (MELAMPAUINYA V)
Bentuk kepergian
Jika saja dapat kembali,
Tentu kepergian itu akan sangat ditunggu kembaliannya
Meski waktu rasanya berjalan sangat lamban
Bentuk kepergian
Bagaimana dengan kepergian yang setia?
Kepergian yang tak akan pernah kembali?
Meski waktu berjalan begitu cepat
Tetap saja tidak akan pernah kembali, bukan?
Yang mana?
Bentuk kepergian yang mana yang begitu menyakitkan?
Bukankah bentuk kepergian sama saja?
Tetap pergi
Meski tak akan pernah sama ujungnya
Bentuk kepergian
Pernahkah kalian menginginkannya?
Tidak
Bahkan meski rasanya hanya sejam
Tapi di dunia ini selalu saja ada antonim
Membuat semuanya berbalik
Cinta-Benci
Datang-Pergi
Tuhan
Aku terus mempertanyakan kepergian yang setia itu
Melipat dahi setiap menatap senyap rembulan di atas atap rumah
Mempertanyakan arti sebuah kepergian
Aku
Lelaki yang disayanginya
Masih terus mempertanyakan
Membuatnya yang begitu indah terlihat murung
Dia
Tembok besar yang sangat indah itu mengkhawatirkan ku
Resah, marah
Dia begitu paham tentang semua ini, Tuhan
Tapi kenapa aku tidak?
Atau...
Aku sendiri yang tak pernah ingin mengerti bentuk kepergian itu?
Jika saja dapat kembali,
Tentu kepergian itu akan sangat ditunggu kembaliannya
Meski waktu rasanya berjalan sangat lamban
Bentuk kepergian
Bagaimana dengan kepergian yang setia?
Kepergian yang tak akan pernah kembali?
Meski waktu berjalan begitu cepat
Tetap saja tidak akan pernah kembali, bukan?
Yang mana?
Bentuk kepergian yang mana yang begitu menyakitkan?
Bukankah bentuk kepergian sama saja?
Tetap pergi
Meski tak akan pernah sama ujungnya
Bentuk kepergian
Pernahkah kalian menginginkannya?
Tidak
Bahkan meski rasanya hanya sejam
Tapi di dunia ini selalu saja ada antonim
Membuat semuanya berbalik
Cinta-Benci
Datang-Pergi
Tuhan
Aku terus mempertanyakan kepergian yang setia itu
Melipat dahi setiap menatap senyap rembulan di atas atap rumah
Mempertanyakan arti sebuah kepergian
Aku
Lelaki yang disayanginya
Masih terus mempertanyakan
Membuatnya yang begitu indah terlihat murung
Dia
Tembok besar yang sangat indah itu mengkhawatirkan ku
Resah, marah
Dia begitu paham tentang semua ini, Tuhan
Tapi kenapa aku tidak?
Atau...
Aku sendiri yang tak pernah ingin mengerti bentuk kepergian itu?
Selasa, 23 Juli 2013
PUISI (MELAMPAUINYA) IV
Tuhan
Aku tahu
Aku bukanlah milik ku
Ayah, Ibu dan si tembok besar anggun itu juga bukanlah milik ku
Aku begitu tahu
Hak untuk memiliki seseorang bahkan seseuatu
Hanyalah sebesar kuku kutu
Aku tahu, Tuhan
Kau bawa mereka jauh
Begitu jauh
Bahkan tak dapat lagi ku sentuh
Hanya gumpalan tanah merah yang tersentuh
Gelap, Tuhan
Gelap
Bukankah di sana begitu gelap?
Tiadakah lentera yang dapat membuatnya terang
Apakah ada?
Sunyi, Tuhan
Sunyi
Bukankah di sana begitu sunyi?
Apakah butiran jeritan ini sama sekali tak terdengar?
Aku ingin ikut, Tuhan
Sungguh ingin
Tapi bagaimana dengan tembok nan anggun yang tegar berdiri di samping ku ini?
Apakah dia juga ingin pergi?
Tuhan
Kenapa kepergian seperti ini selalu menyakitkan?
Kenapa bentuknyha seperti ini?
Kenapa kepergiannya tidak kau biarkan dia kembali?
Tuhan!
Kenapa kepergian mereka tak membuat tembok nan anggun ini meneteskan air mata??!!
#MELAMPAUINYA
Aku tahu
Aku bukanlah milik ku
Ayah, Ibu dan si tembok besar anggun itu juga bukanlah milik ku
Aku begitu tahu
Hak untuk memiliki seseorang bahkan seseuatu
Hanyalah sebesar kuku kutu
Aku tahu, Tuhan
Kau bawa mereka jauh
Begitu jauh
Bahkan tak dapat lagi ku sentuh
Hanya gumpalan tanah merah yang tersentuh
Gelap, Tuhan
Gelap
Bukankah di sana begitu gelap?
Tiadakah lentera yang dapat membuatnya terang
Apakah ada?
Sunyi, Tuhan
Sunyi
Bukankah di sana begitu sunyi?
Apakah butiran jeritan ini sama sekali tak terdengar?
Aku ingin ikut, Tuhan
Sungguh ingin
Tapi bagaimana dengan tembok nan anggun yang tegar berdiri di samping ku ini?
Apakah dia juga ingin pergi?
Tuhan
Kenapa kepergian seperti ini selalu menyakitkan?
Kenapa bentuknyha seperti ini?
Kenapa kepergiannya tidak kau biarkan dia kembali?
Tuhan!
Kenapa kepergian mereka tak membuat tembok nan anggun ini meneteskan air mata??!!
#MELAMPAUINYA
Minggu, 21 Juli 2013
Melampauinya
prolog
Aku meneguk air teh hangat yang
sejak tadi menemani ku. Santai menunggu. Membaca koran. Ini waktu pagi jam
sembilan—aku menunggu seseorang. Seseorang yang ku ajak pulang ke balik tembok
yang sudah tidak lagi kokoh. Tembok yang sudah menjadi puing-puing semata. Dia
seorang wanita yang benar-benar paham akan situasi yang selalu aku hadapi.
Mengerti dan menjadi seorang pendengar dan pemberi nasihat yang baik
menggantikan tembok nan indah itu.
Waktu masih begitu panjang. Aku
sengaja datang lebih awal. Aku ingin sedikit mengenang banyak hal—sudah terlalu
lama aku meninggalkan negeri ku sendiri. Nampak beribu orang berlaluan mengejar
waktu, santai karena berlibur, bahkan panik terlihat di wajah salah satu
orang-orang ini. Orang-orang berjas dengan nyamannya berjalan dengan pengaman
manusia di tiap pojokan ia berdiri. Mengusir siapa saja yang ada di hadapannya.
Yang dikawal memakai kacamata hitam bergaya dengan jas rapih. Rombongan itu
lewat tidak mengenal siapapun yang ada di hadapannya. Seoran Ibu hamil nakmpak
merasa kesal karena orang-orang yang mengangkat dagu dan menjunjung ototnya
menghalangi jalannya yang tidka terlalu bebas. Wajah sang Ibu tampak lucu.
Membuat orang-orang disekitar tertawa dan menyoraki rombongan orang-orang yang
bisa jadi penting itu.
Aku tersenyum melihat Ibu hamil itu.
Sekaran waktu menunjunkkan 09.30 WIB. Aku masih menunggu sambil meminum teh
hangat kembali. Umur ku sudah tiga puluh tahun. Usia yang cukup matang, bukan?.
Aku pulang ke Jakarta untuk memenuhi sebuah janji. Janji yang tidak akan aku
ingkari. Janji membawa putri cantik itu ke balik tembok nan anggun itu.
Tapi hari ini semoga tidak ada lagi
kabar yang membuat ku harus membatalkannya. Semoga tidak. Kalian tahu?. Begitu
sakit jika membatalkan janji yang sangat kita ingin tepati—padahal itu sudah
kehendak Tuhan, bukan?.
Dulu. Di tempat yang sama, kursi
yang sama, waktu yang sama—hanya tahun yang berbeda, di tempat ini aku bukan
sedang menunggu dan bukan sedang datang. Tapi aku akan pergi meninggalkan
tempat ini. Pergi untuk melamapaui seseorang yang sangat aku cintai di dunia
ini, pergi untuk melampaui seseorang yang ku punya satu-satunya di dunia. Aku
akan pergi memenuhi janji untuknya, untuk Ayah juga Ibu dan untuk diri ku
sendiri. Aku akan melampaui seseorang setelah aku membuatnya begitu luar biasa
bagi orang-orang yang di sisinya—tak terkecuali aku.
Kali ini hal yang sama bisa saja
terjadi—tapi pada siapa?—bisa jadi pada seseorang yang aku tunggu saat ini.
Aku meneguk kembali teh ini. teh
mulai sedikit terasa dingin. Kembali menatap sekitar, memperhatikan banyak
tabiat baik maupun buruk seseorang lewat memperhatikan di sini itu baik—bisa
belajar dengan tersirat. Belajar dengan hanya memandang kehidupan orang lain.
Aku menatap serius beribu skenario
yang dibuat oleh sang pencipta. Menyaksikan skenario di depan mata—itu
menyenangkan.
Saat aku menatap ke depan, ada
sesuatu yang terlihat ganjil.
Aku tersenyum ria. Aku mengenal
senyuman dari balik keramaian itu. Membuat keramaian ini menjadi sepi seketika.
Aku mengenal rambut hitam legam yang sekarang telah memanjang itu. Aku begitu
mengenalnya. Dia seseorang yang aku ingin bawa pulang ke balik tembok cantik
nan menyenangkan ku.
Wanita itu melambaikan tangannya.
Rambut hitam panjangnya tergerai indah dan jatuh begitu saja di pundak kirinya.
Pemandangan ini lebih indah dari iklan shampo di TV.
“Kau menunggu lama?” wanita itu
tersenyum begitu anggun. Wajahnya sudah berubah lebih menyenangkan lagi dari
pada tiga tahun yang lampau. Aku masih menatapnya yang sibuk melirik ke arah
teh yang telah habis. Aku menggeleng.
“Bukan milik ku” aku tersenyum dan
mengelus rambutnya yang begitu lembut. Dia mengernyitkan dahi.
“Bukankah, sepuluh menit yang lalu,
kau mendengar pesawat baru saja mendarat?” aku berkata meyakininya yang
terlihat sedikit curiga. Wajahnnya berubah—senyuman itu kembali terlihat.
“Aku senang bisa menjemput kamu,
Yard” wanita itu terus saja terseyum. Ya Tuhan, apa ini syurga dunia?.
Aku tersenyum. Aku menatap bandara
ini.
Aya, Kakak pulang. Kakak akan bawa
wanita cantik ini melampaui mu. Seperti janji ku. Kakak tidak tahu apa Kakak
telah melampaui mu. Kakak tidak tahu, Aya.
Bagaimana kabar mu di sana Aya?.
Bukankah, itu tempat terbaik dari yang terbaik?—rumah yang terbaik dari rumah
yang terbaik?.
Aya, sedang apa kau di sana?—wahai
tembok yang amat cantik jelita.
Jam Yang Rusak
Ayah sedang sedang menyantap
sarapannya. Pagi-pagi Ayah harus pergi sepagi ini untuk melayani masyarakat
yang sangat membutuhkan tenaganya. Aya sepagi ini malah merengek ria di depan
Ibu. Menarik-narik daster Ibu yang sejak tadi sibuk sekali seperti
setrikaan—dapur-meja makan. Bapak memerhatikan Aya yang sejak tadi berusah
meminta sesuatu.
“Ibu, Aya janji deh—nilai Aya akan
sepuluh semua. Aya janji, Bu” Aya masih saja sibuk menarik-narik baju Ibu. Aku
tidak begitu peduli—paling hanya meminta mainan atau boneka.
Ibu menghentikan kesibukannya. Aya
menatap Ibu dengan penuh pengharapan. Ibu hanya menatapnya sebentar lalu—sibuk
kembali membereskan bekal untuk kami. Aya kembali merengek tanpa ampun. Ayah
mulai tidak nyaman. Ia hentikan makannya dan mencuci tangan.
“Aya, kemarilah sebentar. Ayah
buru-buru” Ayah mengayunkan tangannya ke arah Aya. Aya menjadi antusias. Pasti
akan ada sesuatu yang special jika Ayah sudah mulai bertindak dalam urusan seperti
ini. Aya tertarik. Ia berlari ke arah Ayah yang memasuki ruang tengah.
Aku selesai makan—tidak begitu
tertarik dengan Aya. Aku segera mengamil tas di ruang tengah—yang tidak lain,
ada kamar Ayah dan Ibu juga di luarnya ada kasur kami.
Ayah duduk masuk ke kamarnya. Aya
menunggu di kasurnya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ayah keluar dai kamar
sambil menyembunyikan tangan dari balik unggungnya yang menyenangkan. Aku masih
sibuk dengan tas ku dan memasukan beberapa mainan kecil. Ayah duduk di samping
Aya. Aya menatap penuh keantusiasan.
Ia keluarkan apa yang ada di balik
punggungnya. Ia tersenyum lebar.
Aku hanya menoleh.
“Jam rusak?” Aya melemas, terlihat
sekali wajahnya yang merasa kecewa. Aku menyengir kuda. Ternyata hanya dua jam
rusak gelangnya.
Ayah menggelengkan kepalanya. “Ih,
Ayah. Ini rusak semua. Benar, kok” Aya mengulurkan jam tangannya. Aku sekarang
benar-benar tertarik. Aku berdiri mendekati.
Ayah menggeleng untuk yang kedua
kalinya.
“Jam yang ini, benar-benar rusak.”
Ayah mengambil salah satu jam yang memang benar sangat rusak. Aku memerhatikan.
Pun Aya dengan wajah kecewanya.
“Tapi yang ini tidak rusak
seutuhnya, bukan?. Hanya tidak ada bagian pergelangannya saja” Ayah mengambil
jam kedua yang masih hidup tetapi sudah tidak bisa dipakai kembali di tangan
siapapun. Aya mengangguk. Aku masih memerhatikan dan menunggu penjelasan Ayah.
Ayah tersenyum lebar.
“Ada banyak sekali yang bisa kamu
pelajari dari jam tangan ini, Aya. Ah iya, Ayah harus berangkat sekarang.
Pejabat berangkat dulu ya, anak-anak” Ayah menyerahkan kedua jam itu pada Aya.
Aya semakin manyun karena tidak diberi penjelasan yang lebih lagi.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Kenapa
tidak ada penjelasan sama sekali?. Sudahlah. Aku bawa tas dan pamit pada Ibu.
Ayah mengacak-acak rambut Aya. Aya masih tidak paham dan terus menatap jam
tangan itu.
Aku dan Ayah memakai sepatu di depan rumah.
Selalu seperti ini dipagi hari. Selalu. Aku dan Ayah memberi salam dan aku
menciun tangannya. Lalu kami berpisah jalan. Ayah ke kiri—aku ke kanan.
Aku berlari kencang ke depan.
Orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada Teh Oot yang sedang
menjemur bajunya. Ada Tante Urda yang sibuk dengan dagangan di warungnya. Aku
menyapa mereka dengan ramah. Berlarian berangkat sekolah dengan semangat.
Nama ku Riyard. Umur sebelas tahun.
Aku duduk di kelas enam SD. Ayah bekerja sebagai pegawai di kelurahan. Beliau
sangat bijak dan berwibawa. Bagi ku dan adik ku—Ayah selalu menajdi
Gubernur—bahkan menajdi seorang Presiden untuk ku dan adik ku. Adik ku bernama
Aya—perempuan yang mendapat jam tangan rusak dari Ayah. Dia perempuan yang
cantik seperti Ibu—rambutnya yang sebahu dan hitam legam berkilauan, lurus dan
begitu anggun. Dia memang cantik. Matanya yang bulat hitam bersinar dan raut
wajahnya yang menyenangkan kekanakan—kadang membuat ku tidak mampu menolak apa
yang ia minta pada ku. Aya berumur sembilan tahun, duduk di kelas tiga SD. Aku
satu sekolah dengannya. Yang aku herankan, dia tidak pernah ingin bersekolah di
tempat yang sama dengan ku. Selalu itu yang ia keluhkan. Padahal seharusnya aku
yang merasa kesal karena dia satu sekolah dengan ku. Tapi malah sebaliknya.
Alasannya, takut aku akan mengikuti setiap kegiatan yang ia lakukan dan terus
saja mengintilinya. Hey, seharusnya ak yang merasa seperti itu. Aku acapkali
protes denagn asumsinya itu. Toh, aku tidak pernah seperti itu selama tiga
tahun terakhir. Aku tetap cuek engan kegiatannya. Lagi pula, ia selalu
menceritakan kegiatannya di sekolah saat di rumah. Mengambil alih pembicaraan
saat di meja makan. Jadi aku tidak perlu khawatir, bukan?. Aya saja yang
terlihat aneh.
Kami memiliki Ibu yang sangat
cantik. Matanya bulat seperti Aya. rambutnya panjang dikuncir rapih di
belakang. Pekerjaannya memang Ibu rumah tangga. Tapi harus ku akui—beliau masih
bekerja sebagai tukang cuci dan menggosok di rumah tetangga. Ibu tidak pernah
bisa diam, selalu saja ada yang ia kerjakan. Enatah apalah. Uang dari hasil
kerjanya dipakai untuk membantu biaya sekolah dan kehidupan kami sehari-hari.
Ayah juga idak pernah merasa keberatan jika Ibu juga bekerja. Baginya yang
penting tidak melebihi ketentuan dan juga halal pekerjaannya. Terkadang Ibu
benar-benar merasa lelah karena pekerjaanya, tapi ia tidak mau berhenti. Ini
yang membuat aku selalu mencoba untuk menghormati Ibu. Meskipun ia benar-benar
marah, tetapi rasa sayang tetap tertancam dan tak bisa dicabut lagi olehnya di
dalam hatinya. Begitulah bagi ku seorang Ibu. Bagi aku anak laki-laki yang
terkadang tidak tahu diri dan begitu nakal di hadapannya. Dia tetap menyayangi
kita, meski dalam keadaan marah besar sekalipun. Aku masuk pagi. Aya masuk
siang. Saat aku pulang sekolah, wajah Aya masih saja terlihat kecewa dengan
kejadian tadi pagi.
“Ya sudahlah, Ya. Pasti kamu disuruh
cari penjelasan sendiri mungkin—sama Ayah” aku masuk rumah sudah menyembur
wajah Aya dengan obrolan sok tahu ku.
Aya melotot ke arah ku. “Apaan sih,
Kak. Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima
menit. Aya lupa buat PR” Aya garuk-garuk kepalanya sambil memasukan buku
PR-nya. Aku menepuk jidat. Ku kira apa.
“Coba Kakak lihat” aku mencoba
memberanikan diri untuk mengerjakan PR-nya. Aya menarik buku PR-nya. “Aku lebih
pintar dari, Kakak. Bagaimana pula kakak mampu menjawab PR-ku?” Aya meremehkan
ku dengan wajahnya yang menjadi menyebalkan.
Aku ber-puhh. Aku pergi kebelakang dan melihat Ibu yang asyik dengan cucian
tetangga. Aku menelan ludah saat Ibu mengelap peluhnya di dahi. Aku berjalan
perlahan, hendak bersalaman. Ibu menyambut dengan seperti biasanya. “Makan,
Yard. Awas kau, jangan langsung pergi main” Ibu memerintahkan sambil terus
menggosrek pakaian. Aku ber-ya, segera meletakkan tas dan mengganti baju. Sepi,
hanya ada suara gosrekan baju. Sepertinya, Aya sudah pergi ke sekolah.
Ibu sudah selesai mencuci. Aku
sedang asyik dengan santapan siang ku. Ibu datang menghampiri. “Yard, memang di
sekolah ada apa?. Kenapa adik mu merengek tidak ingin masuk sekolah hari ini?.
Hah, untung Ayah memberikan sesuatu. Ibu bingung” Ibu bertanya penasaran. Aku
hampir saja tersedak. Tidak ingin masuk sekolah?. Aku mengernyitkan dahi tidak
mengerti. Meminta sedikit penjelasan.
“Adik mu, semalam ke kamar Ibu. Dia
bilang dia tidak ingin masuk sekolah hari ini. Saat Ibu tanya kenapa. Dia tidak
menjawab, malah terus memohon. Jadi, Ibu juga tidak jawab. Untung Ayah kau
memberikan jam rusak itu. Dia malah minta maaf sama Ibu tadi. Bilang, kalau dia
bodoh sekali malah membolos. Padahal cuma karena tugas. Memang ada apa, Riyard”
Ibu menjelaskan tanpa memotong satu pun cerita. Aku menelan ludah. Hebat sekali
Aya bisa sadar secepat itu.
“Mungkin tugas yang belum ia
kerjakan, Bu. Tadi Aya bilang ke Riyard, dia lagi mikir. Sambil menunjuk-nunjuk
kepalanya. ‘Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu
lima menit’. Gitu Bu” aku tidak memotong bagian kata itu, bahkan aku
memeraktekan cara bicaranya di depan Ibu. Ibu melotot sambil mengernyitkan
dahi.
“Riyard serius. Mungkin PR-nya
susah, Bu” aku bela sedikit adik ku. Aku tahu, Ibu akan marah sepanjang minggu
ini jika mendengar alasan tidak mengerjakan PR. Aku pun akan kena sasaran
sepanjang minggu ini.
Ibu ber-oh. Aku yang kini menghela
nafas lega. “Jam itu, berguna juga” Ibu mengangguk-anggukan kepala. Jam?.
***
Aku sedang asyik dengan tugas rumah
alias PR-ku. Ini pelajaran kesukaan ku, matematika. Tidak ada yang bisa
menandingi rasa suka itu. Entah sejak kapan aku begitu menyukai pelajaran ini.
Pak Arif adalah guru matematika sekaligus guru mata pelajaran yang lainnya.
Tapi bisa dibilang, Pak Arif tulen guru matematika. Melihat cara mengajar matematika
berbeda dengan mata pelajaran yang lain, sudah membuat ku tahu persis. Beliau adalah
guru matematika tulen.
Pernah Pak Arif berkata, “Nak, jika
kalian ingin mnguasai sesuatu. Maka sukailah dulu guru yang mengajarkan sesuatu
yang ingin kalian kuasai itu”. Semua murid hanya be-oh ria. Tidak begitu
mengerti maksud dari Pak Arif.
Saat ini aku malah memikirkan terus
perkataan Pak Arif. Benar saja, aku begitu menyukai Pak Arif—dalam arti
mengagumi. Dia orang pertama yang membela aku di kelas dan juga yang pertama
kali menyalahkan aku di dalam kelas. Aku tidak tahu apa maksud Pak Arif, tapi
aku tahu itu baik untuk kami semua.
Aya menyikut lengan ku. “Kak, Aya
pusing. Mau tidaur saja. Aya tahu, Aya
lebih pintar dari Kakak. Makanya, Kakak kerjakan ya, PR Aya. Aya pusing” Aya
berbisik kepada ku. Aku melotot ria. Beraninya kau memerintah Kakak mu. Mata ku
mendelik. Aya mulai mengerti apa aksara dalam tatapan ku. Dia mulai memelas
dengan wajah menggemaskannya.
Ayah tiba-tiba sudah berada di
samping kami. Aku sedikit terloncat.
“Aya, jam rusaknya?” Ayah mengelus
rambut Aya. Aya menyengir ria.
Aku yang duduk di samping Aya
menyikut lengannya—hendak bertanya. Yang disikut hanya menundukan kepalanya.
Aku hanya bingung dibuatnya. Ada apa?. Ayah tidak bicara lagi, ia hanya bicara
seperti itu dan pergi ke kamarnya. Aku menoleh ke arah mereka berdua. Ada
sesuatu yang tidak aku tahu—tapi apa?.
“Aya—“ baru aku menoleh pada Aya—ia
berdiri mengambil buku yang tadi diserahkan pada ku. Aku hanya menggeruk kepala
ku yang tak gatal. Tak mengeti. Aya pergi ke ruang tamu dan meneruskan
mengerjakan tugasnya. Aku datang menghampirinya. Ingin rasanya aku membantu si
rambut hitam legam ini.
“Kepala kau—“ Ayah menarik aku yang
sudah berjalan hampir melewati ruang tamu. Aku menatap Ayah. Ayah menggeleng
dengan tatapan mata yang tegas, itu artinya aku akan dihukum jika melawan
perintahnya barusan.
“Itu hanya alasan adik mu saja untuk
tidak mengerjakan tugaasnya. Kau sendiri juga tahu kalau adik kau tak suka
pelajaran matematika kan?. Tapi biarkan dia belajar—dengan waktu yang terus
berjalan, pasti dia akan menyukai pelajaran itu bukan?” Ayah berbisik berbicara
dengan ku. Aku paham sekarang. Aya memang tidak menyukai matematika, baginya
matematika terlalu rumit. Walaupun nilai matematikanya bahkan di atas
rata-rata, tapi rasa suka tetap tidak bisa dipaksakan.
“Jam rusak itu ada gunanya untuk
adik mu. Jam pertama—jam rusak detakkannya, jam yang benar-benar tidak bisa
dipakai lagi. Adik mu mudah saja tahu arti semua itu. Ketika waktu benar-benar
berhenti, segala hal tidak dapat dipakai kembali. Jadi gunakan waktu dengan
sebaik mungkin. Jam kedua—jam yang masih menyala, hanya saja tidak bisa dipakai
karena gelangnya sudah rusak. Adik mu sekali lagi mengerti dengan mudah apa
maksud Ayah. Jika waktu terus berjalan tapi kau rusak dengan cara yang sia-sia,
maka waktu tidak akan bisa kau pakai. Bahkan bisa jadi, waktu enggan dipakai
oleh mu. Bagaimana menurut mu, Riyard?” Ayah menjelaskan panjang lebar.
Sungguh, Aya benar-benar anak yang benar-benar pintar. Bagaimana bisa ia
menyimpulkan semua itu dengan hanya menatap ke dua jam yang diberikan Ayah?.
Bahkan hal yang seperti itu sama sekali tidak terpikirkan oleh otak ku ini. Aku
menelan ludah menatap Ayah yang menjelaskan panjang lebar.
“Seharusnya kau lebih paham dari
adik mu, Riyard. Suatu hari nanti, kau-lah yang harus menjaganya tanpa Ayah.
Bisa jadi, tanpa Ibu pula” Ayah tersenyum mengacak-acak rambut ku. Aku
mengangguk. Dua kalimat terakhir sungguh menyeramkan. Aku tak pernah berfikir
sampai ke sana. Tidak pernah sedikitpun.
Aku menatap ke arah tugas-tugas
matematika ku. Menatapnya dengan bingung. Bukankah, guru kelas tiga dan kelas
enam sama-sama Pak Arif?. Tapi kenapa Aya tidak menyukai matematika?. Aku
menggaruk kepala yang tidak gatal. aku harus melanjutkan tugas-tugas ini. Waktu
tidak pernah mengizinkan kita membuatnya berhenti, kecuali pemilik waktu.
Jam Yang Rusak—2
Bunyi dentingan bel masuk sekolah
kami, terdengar. Aku yang masih berada di luar pagar sekolah terlonjak kaget
dan tidak sengaja menumpahkan es krim coklat ku. Aku mengomel-omel tak jelas.
Darwis berteriak keras memanggilku untuk segera masuk. Aku berlari. Bel
istirahat masih berdentang aku punya kesempatan untuk cepat masuk sebelum Mang
Dodo menutup gerbang sekolah. Nampaknya Mang Dodo selalu sigap di depan pagar
sekolah meneriaki murid sekolah. Jarak ku tinggal satu meter. Mang Dodo
menyengir ria. Sengaja sekali mempercepat menutup gerbang. Sedikit lagi. Aku
harus melampaui gerbang itu.
Aku menyentuh dada ku. Menoleh pada
Mang Dodo, sedikit melotot. Mang Dodo hanya menyengir ria, puas melihat wajah
ku yang cukup pias saat melewati pagar sekolah.
Mang Dodo adalah penjaga sekolah.
Tidak hanya Mang Dodo, tapi ada Pak Getu yang menemani. Mereka berdualah yang
bertugas membersihkan, menjaga juga mengebel saat jam-jam sekolah. Mereka
berdua cukup cekatan dan tepat waktu. Tidak pernah sedikitpun meleset.
“Yard, ada yang bilang pada ku.
Waktu itu begitu berharga, jadi jangan sia-siakan. Sekarang kau sia-siakan
dengan berhenti sejenak untuk mengambil nafas karena berlari dari warung Mpok
Menah ke sekolah. Masuklah” Mang Dodo menggusah ku seperti ayam. Aku menyengir
dan berlari ke kelas. Sebelum aku menginjakan kaki ku ke dalam kelas, Aya
berdiri lebih dulu di depan kelas—menunggu seseorang sambil bersandar di depan
tembok kelas ku. Aku mengeryitkan dahi. Aya mencari siapa?—aku?. Aku
berlari-lari kecil ke arahnya. Ia melihat ku dengan sedikit terkaget. Aku
tersenyum, lelah.
“Ada apa, Ya?” aku sedikit berlutut.
Lelah juga berlari ke sekolah dari warung Mpok Menah. Padahal jaraknya tidaklah
seberapa. Aya memutar-mutar kedua jari telunjuknya. Aku tahu persis, ia sedang
bingung—kebiasaannya sejak kecil tidak bisa menipu aku, Ayah dan Ibu. Aya
menggigit bibirnya.
“Aya, Aya minta...” Aya masih memutar-mutar
jaari telunjuknya. Aku mengernyitkan dahi. Apa?.
“AYA MINTA MAAF, KAK! AYA JADI MALAS
MENGERJAKAN TUGAS MATEMATIKA KARENA BENCI DENGAN KAKAK!” Aya menundukkan
kepalanya. Aku setengah mati mencoba mencerna teriakan Aya, yang bisa membuat
seluruh teman di kelas ku keluar kelas. Aku menganga.
Wajah Aya penuh kesedihan dan
kekecewaan pada dirinya sendiri. Aku masih saja menganga. Benci kepada ku?.
“A-A-Aya benci sama kakak, kakak
selalu saja disebut-sebut oleh Pak Arif. Bilang kalau pekerjaan ku tidak sebaik
kakak. A-A-Aya tidak suka diperlakukan seperti itu!” suara Aya sedikit
mengecil. Aku celingukan ke arah kelas. Teman-teman ku sudah membuka mulut
mereka lebar-lebar. Tidak menyangka ada adegan seperti ini.
“Ayah kasih aku jam-jam rusak itu
karena aku agar lebih bisa menghargai waktu dan belajar, bahwa waktu pasti akan
membantu agar aku bisa lebih dari Kakak. Tapi aku masih saja iri sama Kakak.
Maaf ya, Kak” Aya yang menahan tangisan menatap aku dengan berbinar-binar.
Aku menggelengkan kepala, mencoba
sadar.
“Aya, apa Aya tahu?. Aya sudah jauh
melampaui Kakak. Aya lebih hebat dari Kakak. Tak usahlah minta maaf. Kakak tak
marah” ya, kata-kata pertama ku yang keluar dengan sangat lancar mengalir dari
hati dan keluar dari mulut. Aku menelan ludah. Aya tersenyum. Ia mencium pipi
ku dengan cepat. Sungguh mmemalukan.
Aku lap-lap pipi ku dengan baju,
bahkan tembok kelas. Teman-teman ku masih begitu takjub.
“Hei, kawan. Bagaimanalah kau bisa
bicara macam itu?. Baca buku apa, kau?” Tador meninju bahu ku. Aku masih sibuk
menglap-lap pipi. Logatnya memang sudah terdengar cukup jelas.
“Itu kan ciuman dari adik mu. Tidak
usahlah dilap. Nanti kalau dia lihat dan berlaku aneh lagi, bagaimana?” Darwis
puas sekali tertawa dan menjaili ingin mencium ku. Aku buru-buru menghindari.
Entah apa yang difikirkan oleh Aya.
Aku tidak tahu. Tapi kenapa Pak Arif selalu membawa nama ku?. Bingung juga
ketika ada yang benar-benar merasa iri. Apa Pak Arif membawa-bawa nama ku ke
seluruh anak didiknya?. Aku menatap atap kelas yang sudah menguning karena
bekas kebocoran saat hujan.
***
“Riyard!” seseorang memanggil ku.
“Kau dipanggil Pak Arif, kawan”
Syahril membungkuk menekuk kakinya. Aku terbengong-bengong sesaat. Ber-oh
sesaat. Dia menggusah ku dengan ekspresi yang benar-benar lelah. Bagaimana
tidak?, aku tahu persis kalau Syahril sedang berpuasa. Anak ini benar-benar berbeda dengan
murid-murid lain. Dia rajin berpuasa senin –kamis, shalat tidak pernah
bolong—ceramah dan lainnya, soal kecil buatnya. Bahkan dia merupakan seorang
hafidz Al-qur’an. Aku selalu salut dengannya. Selalu juga menyenangkan untuk
diajak main. Walaupun dia terlihat sholeh, tetap saja dia hanya seorang anak SD
yang penuh dengan permainan. Ya, kalau
masalah bohong-bohong sedikit dia pernah.
Aku mengangguk. Berjalan ke arah
ruang guru. Celingukan mencari Pak Arif yang ternyata tidak ada di dalam ruang
guru. Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
“Riyard” aku sedikit terloncat. Pak
Arif muncul dari bawah meja.
“Ahaha, maaf Riyard. Buku Bapak
terjatuh. Kemarilah, Nak” Pak Arif melambaikan tangannya kepada ku—merintahkan
untuk masuk ruangan. Aku mengangguk.
Aku selalu menyukai ruang guru.
Melihat berkas-berkas dan buku-buku murid di atas meja guru itu—cukup
menyenangkan. Pak Arif terlihat sedang sibuk mengoreksi buku-buku di atas
mejanya. Aku menatap satu-satu buku-buku itu. Aku tahu ini buku anak kelas
tiga. Melihat tulisan Aya yang begitu rapih, membuat ku mengangguk—setuju
dengan pendapat ku itu.
“Ini lihat” Pak Arif menyerahkan
buku yahng aku sangat kenal. Buku ini sangat rapih. Melihat dari gaya
tulisannya, aku tahu ini buku punya Aya.
Kalian tahu?. Untuk seumuran
Aya—tulisannya benar-benar rapih. Dia anak yang benar-benar pintar. Aku juga
selalu tahu, kalau aku tidak pernah menjadi yang paling pintar dibangkan dengannya.
Selalu dia yang paling di depan. Aku melihat tugas yang dikerjaklan oleh Aya.
Nilainya sangatlah bagus-bagus. Selalu diatas sembilan—walau belum pernah
mendapat nilai seratus. Aku tersenyum. Baguslah.
“Makanya Bapak selalu menggedornya
dengan mengatakan, pekerjaanya tidak sebaik yang kau lakukan” Pak Arif menatap
ku lamat-lamat. Aku mengangguk-angguk. “Bapak hanya mengatakannya pada Aya” Pak
Arif menatap ku lagi.
Aku menunduk menatp tugas-tugas Aya
yang tidak pernah mandapatkan nilai seratus. Untung saja Pak Arif hanya memakai
nama ku di depan Aya. Aku sedikit bernafas lega.
“Jam rusak. Kau tahu itu, kan?” Pak
Arif tersenyum bertanya dengan wajahnya yang begitu menyenangkan. Aku
menatapnya lamat-lamat. Bagaimana Pak Arif tahu?. Ah, Ayah dan Pak Arif satu angkatan. Mungkin mendapat filosofi itu
dari satu guru yang sama. Tapi filosofi saja aku tidak tahu apa artinya. Aku
menyengir sedikit. Pak Arif mengangkat alisnya sebelah. Aku mngangguk.
“Ya, Aya yang memberitahukan Bapak
tentang jam rusak itu. Bapak sangat bangga melihat adik mu. Dia belajar banyak,
Nak. Dia cepat sekali mengerti hal itu, padahal belum dijelasi oleh Ayah mu
sama sekali, bukan?. Dia persis Ayah kau. Fikirannya benar-beanr bisa berjalan
tanpa ada hambatan. Aku belum bisa menagartikan hal itu dengan secepat Aya dan
Ayah mu. Aku sangat bangga dengan Ayah mu, bisa punya anak seperti
kalian-kalian ini” Pak Arif menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagai baru
menggenal keluarga kami saja.
“Jaga adik mu baik-baik. Suatu saat
nanti—bisa jadi, dia akan melebihi mu. Bahkan kau yang akan membuatnya menjadi
lebih itu sendiri” Pak Arif menepuk-nepuk punggung ku. Aku hanya melihatnya
dengan tatapan serba bingung dengan yang ia katakan. Aku hanya menyengir ria
menunjukkan gigi ku yang nampak menguning kering dan menggaruk-garuk kepala ku
yang tak gatal.
Aku berjalan keluar dari ruang guru.
Masih terlalu kecil untuk mengerti hal yang dikatakan oleh Pak Arif.
***
“Begitu, Bu!” Aya sibuk menceritakan kejadian-kejadian
yang terjadi di sekolah. Itu biasa untuknya—melaporkan segala hal, termasuk
juga aku yang terbirit-birit masuk ke sekolah karena bel istirahat sudah
berbunyi.
Aku masih asyik dengan sayur
kangkung yang dibuat Ibu. Tidak terlalu memerhatikan curhatan Aya. Tiba-tiba
saja, meja makan nan kecil ini menjadi sepi. Aku celingukan ke arah Ayah, Ibu
dan Aya. Ternyata Aya berhenti mengoceh. Wajahnya tiba-tiba suram. Aku
ikut-ikutan memberhentikan makan seperti Ayah dan Ibu. Wajah Aya terlihat
sedikit suram. Bibirnya sempurna trlekuk. Aku menggaruk kepala, tak mengerti.
Ada apa?.
“Aya janji, Aya akan melampaui Kak
Riyard. Kak Riyard memang lebih hebat dari Aya” wajah Aya tersenyum dan berkata
mantab. Aku melotot. Tidak paham dengan semua yang ia katakan. Aku makin
menggruk kepala.
Ayah dan Ibu menatap ku penuh tanya.
Aku mengangkat bahu dan mnggeleng keras. Ayah tersenyum.
“Berarti kau sudah mengerti betul
jam tangan rusak itu, kan?” Ayah membelai rambut yang hitam legam dan nampak
indah itu. Aku meneguk ludah. Sangat mengagumkan. Aya benar-benar menaggumkan.
Aku cukup terkesan dengan adik ku yang penuh dengan pemahaman yang baik
disekitarnya. Membuat aku menggeleng-geleng tak percaya. Aku bangga mempunyai
adik sepertinya.
Aya, bagaimana bisa kau bilang—kau
ingin melampaui ku?. Bagaimana bisa?. Bukankah kau sudah melebihi ku?. Melebihi
pemahaman yang aku ketahui.
***
Sekarang umurku tiga puluh dua
tahun. Nampak lebih tua dua puluh tahun dari massa-masa itu. Sekarang aku hanya
menatap dengan penuh senyuman pemandangan Jakarta. Mengeluarkan jam tangan yang
rusak di saku kemeja. Tersenyum terus tiada henti-hentinya seperti seseorang
yang sedang dirundung berjuta cinta, tiada henti mengingat seseorang yang belum
tentu mengingat kita. Hania menyentuh lengan ku lembut. Aku menoleh. Wajahnya
yang menyenangkan tersenyum kepada ku.
“Kau masih menyimpan jam tangan
itu?” Hania bertanya dengan wajah yang benar-benar tidak percaya. Dia tahu
persis legenda si jam tangan yang rusak ini. Aku mengangguk. Dia hanya diam dan
mengangguk, tidak kembali bertanya hal-hal lain. Dia membiarkan ku menatap
penuh kerinduan jalanan. Menatap rindu kenangan-kengan getir di jalanan depan
mata yang menjadi saksi kehidupan seseorang. Aku kembali terhnayut dalam
kenangan-kenangan yang sangat panjang itu. Bahkan kenangan itu tak sedikit pun
ku lupakan. Pun kenangan pahit yang menyelimuti kalbu.
***
“KAKAK!” ada yang memanggil ku dari
belakang. Aku mengernyitkan dahi—menoleh. Aya?. Suaranya begitu terdengar
sedih. Seperti sedang menangis.
“Kakak!!” aku mengernyitkan dahi. Di
lorong kelas ini—aku melihat seorang anak berumur sembilan tahun berlari-lari
memanggil ku kakak sambil mengusap-usap wajahnya yang basah karena air mata.
Aya?.
“Kakak—“ Aya menghentikan langkahnya di depan ku.
Menyodorkan selembar kertas ulangan.
Aku mengernyitkan dahi. Perlahan
mengambil kertas itu dari tangan Aya. Awalnya aku tidak mengerti sama sekali
maksud Aya menyodorkan kertas ini. Lamat-lamat aku melihat Aya yang masih
mengusap wajah dan terisak. Aku tertawa.
“Cengeng sekali” aku mengusap-usap
rambut hitam legam itu. “Ayah dan Ibu pasti sangat senang melihat nilai mu,
Aya. Aya si anak jenius!” aku menepuk nepuk lengannya yang guntai. Ia tertawa
lebar mendengar pujianku. Aku menyengir lebar menatap wajahnya yang penuh
dengan rasa bangga pada sesuatu yang aku tidak tahu.
Aku celingukkan menatap sekitar.
Menyuruh Aya segera masuk ke kelas. Guru akan curiga jika melihat Aya menangis
di hadapan ku—akan ada banyak cerita-cerita aneh nantinya. Aya tertawa dan
menganggukkan kepala. Dia selalu saja menjadi adik yang benar-benar baik.
Berlari ke lorong kelas seperti itu
dan berlinangkan air mata bisa membuat guru-guru dan murid heboh. Bahkan bisa
dengan cepat terdenegar di kuping Ayah dan Ibu. Aku menggusahnya. Mulutnya
sedikit manyun. Ia berlari kembali dengan riangnya ke kelasnya. Aku mengelus
dada dan pergi menuju kelas ku.
Apa nilai iatu cukup berarti
baginya?. Bukanya ia selalu mendapat nilai seperti itu?. Kenapa harus menangis
dan berlarian seperti itu?. Aku sedikit menoleh kembali ke arah lorong menuju
kelas Aya. Aku sungguh tak paham saat itu.
Sesampai di kelas Pak Arif melihat
ku dengan tatapan aneh dengan kaca matanya. Sedikit menyelidik. “Kau habis
buang air atau ketemu anak perempuan di kelas sebelah, Yard?” Pak Arif
menyelidik kembali. Seisi kelas tertawa berbahak-bahak, bahkan Darwis mensuilkan
suaranya—membuat kelas makin gaduh. Aku menggelengkan kepala mengelak. Dia adik
ku, bukan kelas enam sebelah.
Pak Arif memukul papan tulis dengan
penggaris besarnya. Kelas mulai terkendali. Darwis masih menatap ku dengan
penuh ejekan. Aku melototinya dengan penuh pelampiasan.
“Sudahlah, kau duduk Riyard” Pak
Arif mempersilahkan ku.
Darwis teman ku satu ayunan, satu
mainan, satu TPA, satu TK, satu daerah, satu guru, satu SD—entah akan terus
bersama atau tidak. Dia lelaki yang benar-benar penuh dengan kesetiaan kawan.
Buruknya, dia lelaki yang susah untuk diajak berdiskusi dan berkompromi
sedikit. Keras kepala dan berambisi. Bahkan baru dua belas tahun kami berteman,
sudah beratus kali kami berselisih karena keras kepala yang dimilikinya.
Hasilnya, akulah yang selalu mengalah dalam hal ini.
Darwis mempunyai tubuh yang cukup
tinggi dan berbeda dengan kami yang ceking dan tidak berisi. Darwis mempunyai
tubuh yang berisi dan terlihat kuat. Badannya atletis. Bagaimana tidak, hobi
dan cita-citanya dibidang olahraga semua. Bermain bola?—jangan tanya, dialah
kapten dari kapten di keluraha kami. Dia bak seorang pelatih saat ia memimpin
diskusi. Sampai waktu ketika saat berada di final melawan sekolah tetangga, Pak
Arif sama sekali tidak memberikan pelatih untuk regu bola sekolah kami. Kami
hampir saja bersi tegang dengan Pak Arif,, tapi beliau mempercayakan semua pada
sang kapten—Darwis. Aku yang sangat mengenal Darwis tanpa sedikitpun basa-basi
langsung saja setuju. Darwis yang masih tidak percaya diri hanya menatap kosong
wajah ku sambil mengernyitkan dahi. Aku mengangkat bahu.
Tiga puluh menit pertandingan, kami
dalam posisi benar-benar tidak mengerti harus bagaimana. Darwis hanya menggigit
bibir sambil terus berfikir, bahkan bola yang digiringnya mudah saja direbut
oleh lawan. Aku beberapa kali meneriakinya untuk berkonsentrasi. Ini babak
penentuan. Babak yang selalu ditunggu-tunggu. Kenapa Darwis berfikir begitu
keras?—bukanya mudah sekali, tinggal bermain seperti biasa kita bermain. Aku menepuk-nepuk
punggungnya. Semangat. Pak Arif meminta waktu. Kami berlari gontai kearah Pak
Arif.
“Kau kenapa, Darwis?” Pak Arif
bertolak pinggang dan mengernyitkan dahinya. Darwis menunduk dalam-dalam.
“Terlalu berat, Pak” Darwis
menundukan kepalanya kembali. Aku bisa melihatnya sedan gmenggigit bibir
menahan rasa berat yang ia katakan.
“Berat?” semua teman-teman saling
menatap—mereka tidak mengerti.
“Dua amanat langsung kau taruh di
pundak kau begitu berat?. Kau ini bahkan lebih hebat dari ku, Nak. Kau Darwis
Pamungkas!. Lakukan semuanya seperti biasa. Bermainlah seperti yang selalu kau
lakukan. Jangan fikirkan dua amanat yang ada di pundak kau itu” Pak Arif
menggenggam pundak Darwis. Aku dengan sadar atau tidak—entahlah. Aku
menggenggap pundaknya juga. Semua teman mengikuti ku. Darwis mengangkat
kepalanya dan tersenyum.
“SEMANGAT!!!” kami berteriak lantang
dan kembali ke lapangan.
Babak pertama berakhir. Kami belum
mencetak angka sama sekali. Darwis suddah kembali seperti semula—lawan kami
memang lebih kuat. Skor sementara 1 – 0. Waktu istirahat, Pak Arif benar-benar
tak ingin ikut campur lagi. Darwis yang mengendalikan semuanya.
Rencana-rencananya ia keluarkan dengan semangat. Saat ini aku tidak melihat
Darwis yang keras kepala. Ini sungguh sangat berbeda. Berkali-kali aku
terpesona melihat tingkahnya yang seperti pelatih international itu.
Berkali-kali aku bengong menatap sahabat terbaik ku itu.
“Kawan—“ Darwis mengagetkan ku.
“Kau tidak akan jatuh cinta pada ku,
kan?” aku melemparnya dengan handuk bau. Semua tertawa terbahak-bahak.
Babak kedua dimulai. Menit ke lima
belas, kami dapat menyaamai kedudukan. Lawan semakin memperketat pertahanan.
Macan regu kami, Darwis Pamungkas menggeraung keras. Membuat kami makin bersemangat
membara. Menit ke dua puluh lima, kami menaiki kedudukan dengan skor 3 – 1.
Darwis tersenyum lebar. Selanjutnya, macan lawan makin menggeraung keras
kembali. Dua macan ini saling menggocek, direbut Darwis, direbut kembali lawan,
direbut lagi. Berputar. Berlari tiada henti. Direbut kembali. Berputar. Ada
duel di lapangan. Perlawanan makin sengit. Aku menelan ludah saat kedudukan
mmulai imbang kembali—macan lawan membobol gawang kami. Usup yang setia dengan
gawangnya, berkali-kali berteria—kecewa. Darwis menepuk-nepuk punggungnya
dengan wajah penuh penghargaan, membuat aku tersenyum lebar. Inilah kawan ku,
Darwis Pamungkas. Waktu hampir usai. Wajah Darwis terlihat lebih tegas dan
dewasa. Aku menelan ludah.
Lima menit berjalan kembali, waktu
tinggal delapan puluh menit. Aku
menggiring bola dan mengopernya menuju Gugun si straiker. Dia menerima operan
ku dengan ulus tiada hambatan. Sang kapten berlari menuju kotak pinalti. Mata
kapten yang jeli dan Gugun sedang berbicara—mereka bicara lewat tatapan.
Sepuluh detik saja pembicaraan isyarat itu selesai. Kapten berlari kearah
gawang, membuat semua musuh mengelilinginya. Membuatnya terhalang-halang. Aku
mencoba berlari kearahnya. Mata itu bergerak ke arah ku. Darwis menyuruh ku
menyingkir dan pergi ke tepat tengah-tengah kotak pinalti. Aku mennurut begitu
saja.
BUK—
SUIING—
Bola dioper pada ku. Aku diam
sesaat. Aku menatap ke arah Darwis yang meyakinkan ku lewat tatapannya.
Baiklah, aku akan tendang menuju gawang. Banyak lawan menyerbu ke arah ku,
hanya ada dua orang di daerah gawang—kipper dan satu lawan. Dia terlihat
bingung melihat semua temannya menuju ke arah ku dan mencoba untuk tetap
bertahan. Aku menelan ludah. Peluh rasanya benar-benar membuat berjuta rasa
haus—haus akan kemenagan. Aku menarik nafas dalam-dalam. Waktu benar-benar
berhenti. Aku memulai mengangkat kaki kiri ku. Itu perintah dari sang kapten.
“Nanti saat aku suruh kau menendang.
Kau harus tendang dengan kaki kiri mu, kawan!” dia memerintahkan itu tadi. Aku
mengingatnya di otak ku.
Kaki rasanya benar-benar berat. Aku mulai membaca dengan nama-Nya.
BUK—
Bola melayang tak kontras. Tidak
tinggi dan tidak rendah. Bola itu mengarah ke kanan—di sana ada satu lawan yang
berjaga dekat gawang. Tapi bola itu benar-benar hebat. Bola itu memutar dengan
gesitnya. Ia melesat cepat ke arah gawang melewati satu lawan yang berteriak
kesal. Dan—
“GOOOOOOOOOOOOOOL”
Semua sorakan ramai memenuhi
lapangan. Darwis berlarian senang memelukku tanda penghargaan. Semua lawan
menundukkan kepala. Usup tampak lebih berseri-seri. Membuat semua bergembira.
Aku hanya menatap gawang dengan senyuman—mematung. Darwis memukul pundak ku.
Membisikkan kata-kata penghargaan. Waktu tinggal satu menit lagi. Bola kembali
ditendang. Darwis mencoba untuk tidak memberikannya sama sekali ke kaki-kaki
lawan. Sengaja benar wajahnya meledek. Lima puluh detik berlalu. Bola masih
berada di kaki-kaki kami. Lima puluh lima detik berlalu, bola sama sekali tak
dicapai oleh lawan. Mereka malah berlarian guntai, merasa sudah benar-benar
berakhir. Lima puluh sembilan detik berlalu. Dan—
***
“Kau bilang apa?. Aya menangis di
depan kau karena ia dapat nilai matematika, seratus?” Darwis melototkan mata.
Aku mengangguk membenarkan.
Kami sedang berjalan di rel kereta
api pulang ke rumah.
Dia berdecak. “Kenapa, kau?” aku
menoleh tersinggung.
“Kau buat adik kau menangis, kawan.
Jangan buat ia menangis, atau kau aku buat jadi kerak telor!” dia menunjuk ku
dengan wajah yang setengah meledek, setengah mengancam. Aku mengedipkan mataku.
“Jam tangan itu, masih ada padanya?.
Seberguna itu kah, jam tangan rusak itu?” dia menatap langit yang membiru
cantik. Aku makin melotot dibuatnya. Sejak kapan dia menjadi pujangga dengan
pertanyaan sok seperti itu?. Aku
ikut-ikutan menatap ke arah langit yang memang cerah.
“Adik mu itu hebat ya, lebih hebat
dari kau, kawan. Cantik pula” aku berhenti sejenak untuk merapikan tali sepatu
ku. Suara dan kalimat Darwis tadi hanya terdengar sekelibat saja. aku ber-hah?.
“Tidak—“ dia menjawab singkat.
“Ngomong-ngomong, apa jam tangan itu bisa menjawab. Apa aku bisa menjadi pemain
bola international?”
KRAYON
Aku menggaruk kepala ku yang
benar-benar gatal. Tidak tertahankan gatalnya, membuat aku sendiri menjadi
menjijikan. Darwis mengelap peluh yang membasahi keningnya. Matahari
benar-benar galak kali ini. Darwis menepuk pundak Syahril.
“Kawan, bukankah neraka lebih panas
dari pada matahari?” aku menoleh pada Darwis. Ada apa dengannya?. Syahril
mengernyitkan dahinya. Mengangguk. Wajahnya benar-benar terlihat kepanasan.
Darwis terlihat menelan ludahnya. Lalu menegakkan tubuhnya.
“Kalau begitu, ini panas tidak ada
apa-apanya. Aku ini kan Darwis Pamungkas” dia menepak-nepak dadanya—tanda penuh
kebanggaan. Aku menelan ludah.
Tepa saja ini panas yang menyengat
di dunia ini. Aku masih setia dengan garukan kepala ku. Darwis tersenyum lebar
dalam sesaat dan kembali membungkukkan badan dalam sesaat pula. Syahril menahan
tawanya.
Kami berada di rel kereta api yang
setia kami lewati untuk sampai ke rumah kami masing-masing. Kami ber-tiga. Aku,
Darwis, Syahril—memilih jalan ini untuk lebih menghemat uang kami, dari pada
kami harus naik angkot yang menarik uang sesribu. Seribu rupiah ini lebih
berguna untuk membeli gundu atau layangan—tentu saja untuk seumuran kami.
Syahril duduk di atas rel kereta, memilih untuk beristirahat sejenak. Darwis
melihat Syahril yang duduk dengan menghela nafas. Aku tanpa basa-basi langsung
duduk pula, ide bagus. Ibu tidak mungkin marah dengan ketelatan dpulang ke
rumah di saat pana yang seperti ini, bukan?. Darwis menatap ku dan Syahril.
“Baiklah, istirahat. Kasihan juga
aku dengan kaki-kaki pintar ku ini” dia memijat-mijat kakinya yang terlihat
sedikit berotot.
“Ada lomba mewarnai. Tapi kenapa
semua anak harus ikut, ya?” Aku memulai pembicaraan sambil membongkar tas,
berharap ada sisa air minum.
Darwis menggeleng. “Aku tidak akan
ikut” singkatnya.
Syahril menoleh. Raut wajahnya
bertanya, kenapa?.
“Kau kan tahu, aku paling tidak suka
mewarnai. Itu hobi anak perempuan” Darwis menggeleng keras untuk hal ini. Kami
memaksanya untuk ikut—itu sama saja kami membunuh persahabatan kami sendiri.
Dia akan mengomel seperti anak perempuan dan tidak akan mendekati kami lagi,
selama ia masih mengingat-ingat pemaksaan yang kami lakukan. Artinya, Darwis
akan membolos sekolah dan pergi mengamen di jalanan kota lagi. Padahal dari
awal aku tidak menyukai tindakan bolosnya itu. Itu membuang-buang waktu.
“Tapi pastikan, kau tidak bolos
dengan mengamen lagi. Kau tidak mau membuat Cik Garga mengamuk lagi kan?” aku
menepuk pundaknya dan menawari air minuman di tangan. Ia menangambil air minum
ku, tapi tidak setuju dengan nasehat ku. Syahril yang berhadapan dengan Darwis
ingin menasehatinya juga. Baru sja membuka mulut, Darwis berkata tidak dengan
jari telunjuknya. Syahril merebut minum dan melotot pada Darwis.
Aku tidak bisa memaksakan apa yang
aku katakan pada Darwis. Ia selalu keras kepala, jika itu maunya, maka tidak
ada yang bisa mengubahnya—tak terkecuali Bapaknya. Baiknya, keinginan Darwis
masih diambang batas. Tidak terlalu buruk. Hanya boloslah, ide buruknya. Tapi
apa slahnya laki-laki mewarnai?. Bukankah, bayak sekali seiman laki-laki?. Aku berdiri
menggendong tas, mengajak mereka cepat-cepat pulang.
Rumah terlihat sepi. Aya sepertinya
sudah berangkat ke sekolah. Hari ini, ia masuk siang. Aku masuk pagi. Biasanya kami
juga satu jadwal.
Aku meletakkan tas di atas kasur. Buru-buru
ke dapur meraih gelas air minum. Haus benar-benar menjarahi tubuh. Aku duduk
sejenak di meja makan kecil ini. mengintip isi tudung nasi. Tidak apa-apa. Biasanya
Ibu sudah menyiapkan nasi dengan telur atau apapun yang bisa dimakan, akan
marah besar jika kami tidak melahapnya dan menghabiskannya. Aku celingukkan,
perut ku terasa lapar karena sebuah kebiasaan.
“Riyard! Kau sudah pulang, Nak?” ada
seseorang yang memanggil dari depan rumah.
Wanita setengah baya itu terlihat
tergopoh-gopoh dan pucat. “Aya. aya di rumah sakit, Yard. Segeralah kau ke
sana. Biar diantarkan sama Tulang Dodo yang antar kau ke rumh sakit!” wanita
itu menarik-narik tangan ku. Aku benar-benar sempurna kaku sekujr tubuh. Kalimat
pertama Tante Rang membuat dunia terasa berhenti. Sekujur tubuh ku terasa
dingin. Jantung berdegub tiada berarah. Ada sesuatu yang terasa menusuk.
Tante Rang menggoyangkan tubuh ku. Wajahnya
terlihat benar-benar khawatir.
Motor besar itu menggeraung. Tulang
Dodo menancap gas tepat saat aku benar-benar duduk dan berpegangan kencang
dengannya. Dia akan mengebut kali ini. aku bahkan memeluknya. Berharap motor
ini sampai dalam waktu sedetik. Tapi rasanya, waktu benar-benar berjalan sangat
lambat. Fikiran ku ngelantur tak berarah. Bagaimana keadaannya. Bagaimana keadaan
saudara ku yang paling pintar. Bagaimana wajahnya sekarang?. Apakah rambutnya
kusut?—rambut sepundak yang hitam legam itu?. Aku semakin kencang memeluk
Tulang Dodo.
Aku tidak pernah suka rumah sakit. Kenapa
namanya harus rumah sakit?. Seharusnya mereka menamakannya dengan nama ‘Rumah
Sehat’, agar orang-orang mudah tersugesti, bukan?. Kalau ‘Rumah Sakit’,
tentunya tetap saja sakit. Judulnya, tidak membuat orang menjadi semangat. Aku melangkah
gontai di belakan Tulang Dodo. Tulang Dodo menarik tangna ku—cepat.
Aku tidak pernah suka rumah sakit. Bau
ruangan dan obat-obatannya membuat ku merasa pusing. Tulang Dodo kencang sekali
menarik tanganku. Aku mencoba untuk menyeimbangkan jalanku di sampingnya, agar
tangannya tidak menggerat-gerat di tangan ku. Tulang Dodo berhenti di sebuah
kamar. Aku menelan ludah. Tulang menatap ku dengan penuh wajah menenangkan.
Ayah, Ibu menoleh ke arah kami yang
baru saja membuaka pintu kamar ini. aku menelan ludah, mencoba menguatkan diri
saat melihat ranjang itu. Ranjang yang di tiduri oleh seorang anak umur
sembilan tahun.
***
Hah, gimana ya, Kak?. Aya ingin ikut lomba mewarnai
itu. Sayang sekali kan, kalau krayon ini tak dipakai disaat-saat bagus seperti
itu” Aya terus saja menggurat-gurat tangannya di atas krayon yang aku berikan
padanya. Aku ikut menatap kraon yang ada di tangan kanannya.
“Lain kali saja, Aya” aku mengambil
segelas air untuknya. Aya memonyongkan bibirnya.
Di ruangan ini tidak ada Ayah
ataupun Ibu. Ayah melanjutkan pekerjaanya, Ibu mengambil beberapa baju ganti
dan makanan untuk ku dan Aya. Aya sepanjang malam mengeluh, makanan rumah sakit
benar-benar tidak enak. Tidak membangkitkan gairah untuk sembuh. Bahkan tidak
ingin makan. Dokter akhirnya menyerah dengan amukan dari Aya. Akhirnya dokter
mengatakan makanan apa saja yang tidak boleh dimakannya saat ini. Ibu
mengangguk-angguk.
“Tapi bisa kan, pake kursi roda ke
sekolah” Aya tidak menerima air yang ku berikan. Aku menearik nafas.
“Berdo’a saja” aku menyodorkan
segelas air itu. Aya menoleh, menatap wajah ku penuh kesal. Akhirnya dia mau
meminum airnya. Krayon pemberian ku itu di taruhnya di samping tubuhnya.
Setelah minum, krayonnya tetap ia genggam.
Akulah yang memberikan krayon itu.
Itu hasil tabungan yang aku simpan. Aku senang melihat Aya tiada hentinya
menggambar dengan krayon lama yang ia punya. Krayonnya sudah kecil, hitam,
tidak pantas lagi untuk dipakai mewarnai. Akhirnya aku berinisiatif untuk
membelikannya dengan uang ku.
Langganan:
Postingan (Atom)
