Daun

Selasa, 09 Juli 2013

Laskar DKI (Doni Kasibo Indoyo)




Aku DONI


“Doni!!!” Doni loncat dari kasurnya. Ada keributan di belakan rumah. Ayam terus saja mengokok-okok, meledek. Ibu berusaha mengejar ayam jago yang akan ia potong. Doni lah yang harus memotongnya, bukan?. Dengan setelan daster berwarna orange membalut tubuhnya dan diangkat sedikit demi mengejar ayam yang kelihatannya masih ingin menikmati hidup di dunia ini. Berlarian, berteriak.
Ayam berontak. Membuat Ibu Ria, Ibunya si Doni tak henti-hentinya berteriak memanggil nama Doni. Yang dipanggil loncat dari kasurnya. Baru terbangun dari tidaur. Mengucak-ucak matanya, menyeringai.. melangkah masgyul.
“Doni! Bantulah Ibu!!! Ayam ini berontak terus!! Sepertinya paham betul melihat ibu mengasah golok ini” Ibu menjelaskan sambil berlari. Berhenti sejenak dan mengangkat golok tinggi-tinggi. “Jangan hanya berdiri di situ! Atau kau yang ku potong, hah!” Ibu nampak seperti jagal di hari kurban. Wajahnya benar-benar menyeramkan.
“iye, iye” Doni melangkah. Menggaruk kepalanya, menatap ayam yang masih saja berputar-putar tidak jelas mengelilingi Ibu dan Doni.
“Yaelah, Bu. Ini ayam sudah gila. Gak usah-lah dipotong” Doni menggaruk kepalanya. Mulutnya nampak sangat bau. Ibu mengibaskan tangannya ke hidung. Si ayam tiba-tiba berhenti. Menatap ke arah Doni. Lihat, ayam ini sangat berbeda dengan yang lain. Menatap Doni dengan tatapan menyebalkan. Seakan berkata. “Ape? Gila? Enak aje”
Ibu menganga melihat ayamnya. Ia mengibaskan tangan.
“Ah, kau benar, Doni. Tapi Ibu masih belum yakin. Sebenarnya ayam ini yang gila, atau aku yang—“ Ibu berhenti sebentar. “Ah, sudahlah. Ibu beli ayam potong saja” Ibu perlahan masuk rumah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia letakkan golok di atas pintu tempat menyimpan barang.
Doni menguap.
“Hiss! Bau sekali” Doni menyegir. Bau mulutnya keterlaluan bau. “Baiklah, yam. Sudah bebas kau. pacar mu menunggu” Doni menjongkok. Lalu menunjuk ke arah luar pagar belakang. Nampaknya, ada ayam betina yang sejak tadi mundar-mandir saja di sana. Ayam itu berkokok—pergi menuju betina yang menunggunya. Doni menyengir.
“Aku rasa, aku yang mulai gila” Doni bedecak. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Doni. Naman lengkapnya, Doni Berdoni. Namanya cukup aneh. Tapi bukankah banyak sekali nama-nama aneh di dunia ini?. Bahkan ada yang namanya di ulang pada nama belakannya. Misal. Randa Randa. Atau pada yang lain, huruf vokalnya saja yang berbeda. Danar Dinar. Ah, malah mengurusi nama. Nama memang selalulah special , bukan? Bagi orang tua yang memberikan nama. Doni lahir di Jakarta. Ia memang asli Jakarta. Tapi orang tuanya, asli Palembang dan Semarang. Dua suku yang berbeda. Doni lahir dari seorang Bapak yang berhati lurus. Benar-benar baik. Bapaknya juga adalah juragan bajaj. Bapak sangat terkenal di daerahnya. Bahkan sangat terkenal di Jakarta. Ya, dikenal oleh kalangan menengah ke bawah. Doni dilahirkan oleh Ibu yang tegas. Seperti suaminya, Ibu dikenal banyak orang karena...entahlah. Doni tidak pernah tahu hal itu. Mungkin Ibu Doni pernah berpredikat sebagai pahlawan di sini. Setiap kali Doni menanyakan tentang apa yang Ibunya lakukan dimasa lampau. Ibunya hanya tertawa simpul.
“Tak perlulah kau tahu” itu jawabannya. Doni sampai mati-matian nanya ke Mbak’e dan kerabat lainnya. “Tanya saja pada Ibu-Bapak kau, Don” jawab mereka santai sambil meneruskan pekerjaan mereka.
“Dari pada kau tanya-tanya masa lalu, baiknya kau bantulah Mbak’e ngangkat ini nasi putih ke rumah Mak Jenap” Mbak’e Lulu malah menyuruh-nyuruh Doni. Yang disuruh malah manyun. Persis seperti pinokio. Bedanya, pinokio punya hidung yang memanjang. Doni punya bibir yang bisa memanjang, sesuka hati Doni.
Ia bertanya tentang hal itu sudah lima tahun yang lalu. Saat dia masih duduk di kelas tiga SMP.
Sekarang Doni berumur sembilan belas tahun. Doni kuliah. Mengambil jurusan komunikasi. Doni awalnya memang sangat ingin kuliah. Setelah lewat empat semester, bukannya bertambah rajin, semangatnya malah menurun.
“Ma—“ Doni baru mangap. “Jangan katakan, kau malas. Ibu akan kirim kau ke Palembang, jika kau berani-beraninya menjawab dengan kata itu. Lagi pula, jika kau memang seperti itu, lebih baik dari awal kau tak usah kuliah. Buang uang saja” ibu menasehati sambil mengaduk-aduk pindang yang dimasaknya. Doni hanya menudukan kepala.
Sekarang mahasiswa semester empat ini sedang untang-lantung di rumah karena liburan panjang. Kerjaan di rumah hanya bengong, tidur, makan, main gitar di pos ronda dengan teman. Kerjaan tentu ada. Membantu. Membantu apa pun yang disuruh. Bantu mengantar nasi dan makanan pesanan milik Mbak’e yang beratnya bisa buat badan kurus kering Doni berotot selama liburan. Membantu Ibu. Disuruh mengantar rantang makan bapak, disurh ini, disuruh itu. Menurut saja. Toh, perintah sang Ibunda tercinta. Membantu Pak Jaja di bengkelnya. Membantu Pak Osong mengganti genteng yang bocor. Bantu ini, bantu itu, yang penting ada kerjaan. Halal pula.
Bapaknya adalah juragan bajaj, bukan?. Tapi Bapak tidak pernah mengizinkan Doni menyentuh-nyentuh bajajnya.
“Tak usah. Lebih baik kau cari pekerjaan lain selama liburan ini. Sudah ku bilang, jangan coba-coba narik bajaj seperti ku, walaupun kau adalah anak juragan bajaj. Tidak akan ku izinkan sama sekali” Bapak menepuk-nepuk bahu Doni. Berkat tegas.
“Aku narik bajaj. Aku dulu kuliah seperti kau, tapi aku berhenti karena asyik dengan bajaj. Lihat, jadilah aku juragan bajaj. Kau tak boleh mewarisi semua itu, Don” Bapak Doni lagi-lagi berkata tegas menjelaskan. Saat semua orang menyuruh Doni untuk narik bajaj sementara, dari pada luntang-lantung tak jelas selama liburan.
Nyatanya, Bapak Doni sendirilah yang melarang keras sang anak untuk menarik bajaj. Bahkan Ibu setuju-setuju saja.
“Halah. Itu Bapak mu saja yang aneh. Dia sendiri yang malas sekali kuliah. Bilang—kuliah banyak sekali bukunyalah. Baru kuliah satu semester, sedah bolos belasan kali” Ibu berdecak sambil bergeleng. “Tapi Bapak mu jelas langsung berhenti kuliah. Tidak menggantungkan kuliah. Lebih baik dia keluar dari pada menyusahkan orang tua. Tapi, nyatanya. Orang tua selalu ingin melihat anaknya dipindahkan tali topi toganya. Keinginan yang bertepuk sebelah tangan” Ibu berdecak kembali sambil sibuk menyetrika.
Akhirnya masa liburan Doni habis dengan membantu siapapun dengan suka rela. Tapi jika ada yang mau memberi sedikit uang pun tak apa.
“Bagaimana dengan liburan kalian?” Bu Dini inisiatif menyinggung masalah liburan di kelas. Semua yang ada di kelas malas sekali menjawanb. Mereka sama nasibnya dengan Doni. Begitu-begitu saja. Tidak ada yang menyenangkan. Kelas yang satu ini tidak begitu menyenangkan. Karena tidak ada teman yang benar-benar bisa diajak kompromi. Jarang sekali yang akrab dengan Doni. Semua hanya menggeleng. Dosen hanya tersenyum—kaku. Salh tingkah, liburan tidak begitu menarik juga baginya. Dia harus mengerjakan banyak hal di rumah. Tiada libur untuk seorang Ibu rumah tangga yang aktif di luar rumah juga ini.
Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal di bale pos ronda. Sesekali mengupil. Menunggu seseorang.
“Wey, nampaknya lama sekali kau menunggu, hah?” Randi menepuk pundak Doni. Dia sedikit terloncat, kaget. Randi membawa gitar. Mereka bernyanyi bersam setiap malam di bale pos ronda ini sampai jam sebelas malam bersama dua penjaga yang juga asik bermain catur di sana. Doni menarik gitar Randi. Mengambil kunci dan—
“Nama ku DONI!”

Aku Kasibo


“Haiya. Macam kau tidak tahu sifat Mamak kau saja, Bo. Mak mu tak nak jika pinjamannya aku potong. Haiya. Padahal dia itu seperti adik ku sendiri. Hah? Macam pula kau ni. Lihat. Lihat, pas kan kembaliannya. Saye tak pernah salah hitung ma” Koh Shio menggeleng sambil melayani pelanggannya yang protes kembaliannya kurang.
Kasibo menggaruk rambut keribonya yang tidak gatal. Menyeringai. Koh Shio sedang sibuk dengan pelanggannya. Percuma saja diajak bicara. Repot jadinya. Kasibo akhirnya pamit dengan Koh Shio.
Kasibo pulang ke rumahnya. Mengetuk pintu dan membukanya. Nampaknya, Mamaknya sedang pergi.
Mamak Kasibo sebulan yang lalu meminjam uang pada Koh Shio dengan jumlah uang yang cukup besar. Mamaknya sangat ingin Kasibo kuliah di Jakarta. Merantaulah, nak. Begitulah ucapannya sebulan yang lalu. Ketika Kasibo tahu Mamak meminjam uang itu untuk biaya kuliahnya, Kasibo sungguh sangat senang dan juga terpukul.
“Biarlah Kasibo jadi kuli bangunan, Mak. Yang penting halal. Kasibo juga berencana banyak. Bukan hanya jadi seorang tukang, Mak” sudah berkali-kali Kasibo mengatakan hal itu pada Mamaknya—meyakinkan Mamaknya. Tetap Mamaknya menggelengkan kepala.
“Kau harus lebih baik dari itu, Bo. Harus. Maka dengarkan saja apa kata Mamak mu ini” Dan itulah selalu jawaban dari Mamak. Tidak lebih dan tidak kurang sedikit pun. Kalimat Kasibo yang terus saja berulang.
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masuk ke kamarnya. Berbaringlah ia di kasur sederhana itu. Menatap poster Iwan Fals yang menempel di atap rumahnya. Mengernyitkan dahinya. Lalu menghela nafas panjang.
“Apa yang harus aku lakukan Om?. Ah, seharusnya aku tak pernah mengucapkan keinginan ku itu, bukan?. Mak, Mak. Uang sebanyak itu, macam mana mudah membayarnya?” Kasibo menghela nafas lagi. Menatp langit-langit dengan tatapan penuh pengaduan. Kasibo bangun. Menatap kaca yang terpampang di dinding.
“Kasibo. Mamak tak keberatan kau menjadi kuli bangunan. Sungguh tidak. Tapi Mamak kecewa pada diri Mamak sendiri jika Mamak tidak menyekolahkan kau di tempat yang kau sukai itu” Kasibo meniru ucapan yang diucapkan Mamaknya. Sakibo tersenyum sedikit dan cemberut lagi.
“Seharusnya aku tak pernah mengatakan itu, Mak. Apa yang harus aku lakukan, Mak? Mamak berhutang banyak ke Koh Shio dan Bang Abeng untuk memberangkatkan aku kuliah? Macam mana bisa aku meninggalkan Mamak sendiri di pulau Kalimantan ini, Mak? Macam mana?” Kasibo berbicara sendiri di depan kaca. Menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kamarnya yang begitu rapih ini, ia tatap satu persatu. Membuat seliut kenangan dari ia kecil. “Kasibo, Kasibo” Kasibo menggelengkan kepala dan kembali tiduran di atas kasurnya.
Iwan Kasibo. Itulah nama lengkapnya.Rambut keribo, mata yang bulat, badan yang besar. Benar-benar menuruni gen Bapaknya, Pak Goesdur. Kasibo Lahir berbeda dua bulan dari Doni. Anak Jakarta di bagian sebelumnya. Bapaknya meninggal dunia ketika Kasibo sudah beranjak remaja—lima belas tahun. Masih duduk di kelas satu SMA. Anak yang benar-benar rajin. Lihatlah. Kamar Kasibo tidak seperti kamar-kamar bujang muda biasanya. Kamarnya bersih, wangi, rapih. Bahkan bisa jadi, kamar anak perempuan saja kalah dengannya.
Saat Kasibo masih duduk di SMA. Ia selalu saja mengaan kepada Mamaknya. Ia ingn kuliah di Jakart, sekalian merantau. Mengngat kat-kata terakhir dari sang Bapak.
“Kasibo, kau tahu nak? Ada sebuah sya’ir indah yang selalu Bapak mu ini sukai sampai sekarang” Bapak menatap rembulan. Kasibo menatap bapaknya lamat-lamat. Saat itu Kasibo sudah kelas enam SD.
Mereka sedang berada di atas genteng dan bersantai menatap rembulan. Inilah hal yang sangat disukai Kasibo sejak ia kecil. Meniru Bapaknya yng asik sendiri menatap cahaya rembulan malam-malam jika tidak turun hujan.
Tidak ada tempat untuk bersantai bagi orang yang belajar dan berbudi, maka tinggalkan tanah air dan berkelanalah” Bapak masih menatap sinar rembulan dengan penuh kesenduan di wajahnya. Nampak lelah sekali, sehabis bekerja. “Itu syai’r dari orang hebat, Kasibo. Bukan karangan Bapak mu ini” Bapak tersenyum menatap Kasibo. Dari situlah ia sangat menyukai kata-kata itu. Dia catat sya’ir itu dengan mantap di hatinya.
Saat ia berumur lima belas tahun. Syai’r itu diulang kembali oleh Bapaknya—di tempat yang sama. Sehari sebelum tewasnya beliau ditabrak lari seseorang.
“Kasibo, Bapak pernah mengatakan sya’ir hebat itu pada mu,  kan?” Kasibo mengernyitkan dahi.” Tidak ada tempat untuk bersantai bagi orang yang belajar dan berbudi, maka tinggalkan tanah air dan berkelanalah” Bapak tersenyum pada Kasibo dengan senyuman yang benar-benar anggun. Kasibo menelan ludah. Syai’r yang sangat ia sukai itu.
“Haduh...rasanya Bapak benar-benar ingin istirahat” Bapak mencoba untuk meluruskan pinggangnya yang sakit. Sekilas Bapak Kasibo nampaknya mengeluarkan air mata. Kasibo menelan ludah. “Aku akan pergi duluan, Kasibo” Bapak nampaknya ingin turun dari genteng.  Kasibo mengernyitkan dahi. Pergi duluan?.
“Bapak, mau  kemana? Haduh, Pak. Kalau  mau pergi , ajak-ajak Kasibo-lah. Merantau” Kasibo meledek Bapaknya. Bapak hanya tersenyum tipis. Pergi menuruni tangga.
“Tak lah, Bo. Kau kali ini tidak diizinkan pergi. Merantaulah sendiri setelah kau lulus” Bapk berteriak dari bawah. Kasibo masih asik memandnagi rembulannya. Rembulan sangat indah malam ini. Tampak bulat kejinggaan.
Hari ini, Kasibo dihadapi dengan kenyataan uang kehidupan yang benar-benar pas, setelah Bapak Kasibo meninggalkan keluarga ini ke alam yang berbeda. Akhirnya Mamak yang membanting tulang selama ia SMA. Bagi Mamak. Yang penting kau belajar yang giat, nak. Mamak sudah senang betul. Setelah lulus, Kasibo memendam dalam-dalam keinginannya untuk kuliah itu dalam-dalam. Mamak mana punya uang yang begitu banyak untuk menuruti keinginannya itu. Kasibo akhirnya menjadi kuli bangunan. Ia sudah bekerja di sana cukup lama. Sudah mau direkomendasikan sebagai mandor. Tapi ketika ia pulang ingin menyampaikan kabar gembira itu. Mamak malah menangis. Memeluk Kasibo erat-erat.
“Pergilah, nak. Merantaulah” Kasibo menganga. Dia memang tak bisa melupakan niatnya itu. Tapi Kasibo mempunyai rencana yang baik. Dia ingin bekerja lebih dulu, baru akan kuliah. Keinginan bosnya itu, untuk merekomendasikan Kasibo sebagai mandor—tak jadi ia smapaikan. Bungkam sudah mulut Kasibo. Apa lagi mendengangar Mamak meminjam uang yang tidak sedikit pada Koh Shio dan Bang Abeng.
Tabungannya saat ini sangat sedikit untuk membayar hutang itu.
Hari itu ia benar-beanr uring-uringan. Dia senang, tapi bingung. Bagaimanalah ia bisa merantau dan meninggalkan Mamaknya dengan banyak hutang?. Ya Tuhan. Kalau Koh Shio tidak mengapa. Dia menganggap Koh Shio sebagai bapaknya. Nah, Bang Abeng?. Dia memang baik. Tapi ia takut dengan tabiat Bang Abeng yang kadang aneh. Takut Mamaknya diajak kawin.
Kasibo menggelengkan kepala. Menatap kecermin. Berfikir, Bang Abeng tak sejahat itu. Itu pasti. Tapi dia adalah Mamaknya. Bagaimana mungkin, meninggalkan sang Mamak di Kalimantan sendirian. Mamak tidak punya saudara lagi. Hanya Kasibo, anak semata wayangnya itu. Walaupun tetangganya sudah seperti saudara sendiri. Tapi Kasibo sungguh sangat tidak tega sekali.
Kasibo mengacak-acak rambutnya yang keribo.
Kasibo naik ke atas genteng. Menikmati wajah rembulan lagi. Seperti kata Bapaknya. “Jangan menatap rembulan dengan penuh kenistaan. Penyiksaan. Kesedihan. Jangan. Tatap ia dengan wajah tenteram mu. Kau akan lebih merasa nyaman, nak”.
Kasibo menatap rembulan dengan wajah yang beanr-benar penuh ketentepal tanraman. Lalu ia mengepal tangannya. Melempar tinjunya ke atas.
Dreeeet—
Tidak sengaja ia malah sedikit terpeleset. Wajahnya berubah jadi pias. Membenarkan posisi kembali.
BRUUUUK!
“MEONG!!!” Kasibo menahan wajah. Berisik akhirnya.
“HEH!! Maling yak???” Tetangga sebelah yang merasa terusik, berteriak. “Aku KASIBO!"


Aku Indoyo


Indoyo mengelap peluhnya di leher. Mengernyitkan dahi menatap silaunya mentari. Meneruskan kembali mencangkul. Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan sawah dan satu jalan. Jalan satu-satunya di tempat itu. Jalan yang benar-benar lurus mengarah ke tempat lain. Ke kota dan tempat lainnya. Sepanjang mata memandang, hanya ada hamparan haamparan hijau datar. Sawah. Lalu setelah perbatasan sawah—ada pemandangan hijau pepohonana nan menyenangkan. Di baliknya ada aliran kali yang bening. Beanr-benar sejuk tempat ini. Beanr-benar menyenangkan.
Indoyo menghela nafas panjang.
“Doyo. Kemarilah. Makan dulu, sudah siang” Ibu melambaikan tangannya sambil membawa bakul nasi di pinggangnya. Indoyo berjalan perlahan menuju saung. Ditaruhlah pacul di samping saung.
“Nah. Ibu bawa sambel to” Ibu menyiapkan semuanya. Sedikit terkikik melihat Indoyo dan Bapak yang menelan ludah melihat sambal terasi yang sungguh menggugah selera.
Indoyo membiarkan Bapak mengambil nasi lebih dulu. Stelah itu, Indoyo langsung menyambet nasi, saat Bapak memberikan centong nasinya pada Indoyo. Ibu terkikik lagi. Makan siang selalu menyenangkan bagi keluarga Bapak Soebaryo. Setelah lelah mencangkul, membajak, menanam, memanen. Mereka bisa tersenyum lebar menatap makan siang mereka yang memang sederhana. Tapi ajaibnya—mereka selalu tersenyum bahagia menatap santapan mereka siang ini. Bapak Soebaryo tertawa lebar saat menatap wajah Indoo yang sangat kelaparan.
Indoyo menyengir lebar. “Doyo, orang yang paling beruntung di dunia ini, adalah orang yang mampu tersenyum saat melihat makanan yang akan dia makan. Pun makanan itu hanya nasi dan sambal saja. Orang yang tidak beruntung, bukanlah orang yang hanya memakan nasi dan sambal saja. Tapi orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, adalah orang yang hanya bisa berkomentar macam-macam atas makanan yang disediakan untuknya. Padahal, mewah sudah makanan yang ada di depan matanya” Bapak menjelaskan sambil tertawa melihat Indoyo yang menatap buas makanan yang ada di depan matanya. Tidak memperdulikan apa yang barusan Bapaknya katakan.
Bapak Indoyo adalah orang yang benar-benar dianggap bijak oleh banyak warga desa. Perawakan Bapak Soerboyo yang menyenangkan menurun ke Indoyo—keduanya.
Indoyo Soekarno. Nama yang besar. Lihatlah. Indoyo. Bapak Soerboyo sengaja menamakannya dengan kata Indo, yang berasal dari kata Indonesia. Lalu menambahkan kata yo di belakanngnya, agar namanya lebih lengkap. Akhirnya Ibu menambahkan nama Soekarno di belakang nama Indoyo—berharap Indoyo akan segagah berani sang Presiden pertama Indone-sia. indoyo tidak pernah mempermasalahkan nama itu. Baginya, nama adalah do’a. Semoga saja do’a kedua orang tuanya benar-beanr terkabul.
Indoyo lahir di Sleman. Dia anak ke dua dari tiga bersaudara. Dibandingkan dengan Doni dan Kasibo. Indoyo lebih tua tiga tahun. Anak pertama Bapak Soerboyo adalah anak laki-laki, namanya Restu Soenarto. Anak bungsu Bapak Soerboyo adalah wanita. Dia benar-benar cantik. Mempunyai rambut yang panjang. Mata yang bulat. Wajah yag benar-beanr menyenanangkan—menuruni gen Bapaknya. Namanya, Dewi Nayla. Namanya pun benarbenar cantik.
Indoyo adalah anak kedua yang beanr-beanr berhati baik. Dia bersekolah dengan baik. Keluarga mereka juga dari keluarga yang baik-baik. Sejak kecil, Indoyo sangat suka membantu Bapaknya berkebun. Bukan karena ia ingin benar-benar membantu kehidupan, taoi memang ia sangat suka dengan tumbuh-tumbuhan. Ia sangat menyukai bercocok tanam. Melihat kesungguhan Indoyo, sang Bapak berminat menyekolahkan anaknya di tempat yang lebih baik.
“Seharusnya dia kulia di fakultas pertanian, Pak” Restu memulai obrolan itu, saat malam gelap gulita. Saat Indoyo sudah berada di dalam mimpi.
Bapak mengangguk. Restu sudah menjadi seorang pedagang. Dia bekerja di pasar. Melayani banyak pelanggan. Keahliannya memanglah berdagang. Setelah Indoyo lulus dari SMA. Restu berfikir untuk menyekolahkan Indoyo di Universitas. Tapi uang tidak cukup memadai.
“Biarkan Mas Indoyo kuliah di Jakarta, Pak” Nayla ikut berbicara. Duduk manis dekat Restu.
“Tapi kuliah di sini juga bisa” Bapak kekeh tidak ingin anak kesayangannya itu pergi jauh-jauh darinya. Ibu yang mendengar percakapan itu, menghela nafas dalam-dalam. Ia juga tidak ingin anak-anaknya pergi jauh dari mereka berdua. Tapi membuat Indoyo menjadi anak yang luar biasa dengan otak dan hatibaiknya itlebih penting bukan?. Ibu ikut menimbrung di ruang tamu.
“Ia, Pak. Sudahlah, lepaskan saja anak mu itu. Toh, dia sudah besar ini. bisa menjaga dirinya” Ibu memegang lutut Bapak. Bapak menatap Ibu lamat-lamat. Mata Ibu berkaca-kaca. Restu dan Nayla hanya tersenyum. Akhirnya Ibu mengeti.
“Ini kesempatan bagus, Pak. Satu kursi untuk Indoyo. Aku begitu senang saat mendengarnya. Dia itu harus lebih beruntung dari pada Bapak yang hanya bekerja terus di sawah ini, kan?. Dia harus lebih maju dari Bapaknya, kan?. Kursi itu kesempatan baik, Pak” Restu kembali menjelaskan.
Bapak mulai berkaca-kaca kembali. Entah bagaimana, tapi cepat atau lamabat—ia harus melepaskan Indoyo. Dia sudah menjaadi lelaki dengan hati yang lurus seperti jalan raya satusatunya di perlintasan tiga desa.
Akhirnya malam itu, semua bersepakat mengirim Indoyo ke Jakarta. Merantau. Menjemput janji-janji masa depan yang lebih baik lagi.

***

“Opo? Jakarta?. Kalian bergurau” Indoyo memainkan alang-alang yag ia bawa dari sawah. Ibu menggelengkan kepala.
“Nda, Yo. Ini bukan gurauan Bapak mu, yang kadang tidak lucu” Ibu memegang lengan Indoyo erat. Indoyo menatap wajah Ibunya. Lalu bergiliran menatap Kakak dan Adiknya. Kemudian berakhir menatp Bapak. Bapak mengangguk.
“Ambilah kesempatan besar itu, Yo. Tapi berjanjilah kepada Bapak, agar kau menjadi anak Soerboyo yang berhati lapang, lurus, dan tauhid” Bapak berkata tegas.
“Entahlah, Bu, Pak. Indoyo masih bingung” Indoyo menggaruk kepalanya yang tdak gatal. “Apa lagi yang kau bingungkan, Yo. Mas percaya sama kamu. Uang juga akan terus Mas kirim. Kau juga lebih pintardari pada bujang sebelah yang sudah sarjana itu, Yo” Restu masih terus meyakinkan Indoyo. Yang sedang diyakinkan malah menggaruk kepala. Lau berdiri.
“Yo wis. Aku akan pikirkan matang-matang dulu, yo?” Indoyo pergi keluar rumahnya.
Semua hanya saling lirik melihat kepergian Indoyo.
Indoyo berlari. Ia terburu-buru. Ia ingin pergi ke rumah seseorang.
Sampailah Indoyo di rumah yang cukup besar dan luas. Rumahnya memang tidak berpagar. Indoyo membungkuk pergi ke arah jendela kamar. Lampunya sedang menyala. Indoyo bersiul-siul menirukan suara burung. Jendela itu yang tdinya tertutup, akhirnya dibuka oleh sang pemilik kamar. Dibuka perlahan. Terlihat sudah wajah yang begitu manis di hadapannya. “Mas?” wanita itu bingung.
“Kenapa, malam-malam—“ Indoyo ber-sst. “Dinda, Mas... Mas akan merantau ke Jakarta” Indoyo meneruskan sambil celingukan—takut ada yang memergokinya.
Dinda terdiam. “Merantau? Berapa lama?” wajah sendu itu berubah menjadi sedih.
“Entahlah, lima hari lagi aku akan pergi. Bisakah? Bisakah kau mengantarkan kepergin ku?”.
Malam itu, rembulan begitu indah. Sama dengan wajah Dinda. Tapi tidak untuk malam ini. wajah Dinda berubah memerah. Matanya berkaca-kaca.
Indoyo meninggalkan jendela kuning manis itu. Ia berjalan gontai. Tidak menuju rumahnya. Ia menuju sawah. Tiduran di atas saung—menatap rembulan. Bersekolah di Jakarta?. Itu tidak denga waktuyang cepat, bukan?. Bertahun-tahun. Indoyo menaruh tangannya di bawah kepala. Asyik menatap rembulan.
Restu ternyata mencari Indoyo. Ingin berbicara lebih private lagi dengan adiknya. Tapi kemana-mana, ia cari, tak kunjung terlihat. Sampai di jalanan lurus tiga desa itu, Restu seperti melihat seseorang di saung.
“Doyo! Apa itu kau?” Restu berteriak. Indoyo menoleh. Bangkit dari tidurannya dan duduk.
“Ya, Mas. Aku Indoyo"

Selamat Datang di Jakarta


Doni celingukan menatap lalu-lalang orang-orang di Bandara. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu mengangkat tinggi-tinggi kertas putih bertuliskan “INDOYO SOEKARNO”.

***

“Bangun, Don. Bangun” Ibu menggoyang-goyangkan tubuh Doni. Doni menggeliat. Menarik selimut kembali. Ibu kesal. Ia mencubit pipi Doni. “Kau mau bangun atau kau tidak akan bisa bangun lagi selamanya!” Doni menjerit, Ibu dengan galaknya mencubit pipinya yang sudah kempot itu.
Doni memperbaiki posisinya. Ibu menarik selimut Doni. “Aku mau bicara dengan kau. Ada hal penting” Ibu sudah pergi menuju ruang tengah. Doni menggaruk kepalanya. Beranjak—pergi ke kamar mandi.
“Ada kerabat Ibu di Jawa mau datang kesini. Dia bilang, anaknya akan kuliah di Jakarta. Untuk sementara, mereka ingin menumpang di rumah kita, Don” ibu menjelaskan se-telah Doni keluar kamar mandi—sambil melipat baju-baju. Doni mengernyitkan dahi. Ibu melotot.. “Kenapa, hah?” Ibu berkata ketus.
“Doni tak pernah tahu, Ibu punya kerabat dari Jawa” Doni santai bicara sambil meneguk teh hangat. Nampaknya cuaca sedang dingin. Teh hangat menjadi pilihan paling menyenang-kan. Ibu tertawa, membuat Doni bengong seketika.
“Bapak dan Ibu kan sudah hampir mengelilingi Indonesia Don. Kau tidak tahu hal itu?” Ibu sedikit terkekeh, tak menyangka. “Tentu saja tahu. Siapa yang tidak tau itu di sini? Bah-kan tetangga kita tahu. Hanya cerita kerabat Ibu Bapak saja yang tidak Doni tahu” Doni berkata kesal.
Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal juragan bajaj yang pernah hampir mengunjungi seluruh daerah di Indonesia ini. Bapak dan Ibu Doni adalah seorang petualang dulunya. Banyak sekali mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. Tapi ditengah perjalanan mereka yang sudah mereka jalankan selama tiga tahun, Ibu Doni hamil. Akhirnya menetap di Jakarta. Bapak masih berpetualang. Sampai akhirnya kehamilan Ibu yang sudah menua, Bapak Doni akhirnya memilih pulang. Pulang ke Jakarta. Tempat Ibu menetap. Bapak dan Ibu Doni menikah muda sekali. Bahkan Bapak memilih kuliah saat sudah beristri. Baru satu semester sudah K.O karena lebih asyik bekerja.
“Bapaknya bilang, anaknya itu tidak akan merepotkan. Orangnya senang bekerja dan berkebun. Bisa jadi rumah kita akan ditanami sayur mayur yang segar olehnya. Ibu senang mendengarnya. Dia lebih tua dari mu tiga tahun. Baru kuliah karena baru memiliki uang. Kau dengar itu?” Ibu menjelaskan kembali. Doni mengangguk. “Iye, iye”.
“Eh, namanya siapa, Bu?” Doni penasaran betul. Sampai-sampai melotot ke arah Ibunya. Ibunya sedikit menjauh. “INDOYO SOEKARNO”.
Doni menutup mulutnya. Menahan tawa. Ibu melotot dengan galaknya. Doni menciut.
“Nama macam apa itu?” Doni memperkecil suaranya. Ibu melotot kembali.
“Ibu bisa dengar itu!” Ibu hendak menjewer Doni. Doni menghindar.
Doni berlari, pergi ke kamarnya. Mematut diri di kacanya. Lalu berpindah ke arah foto seorang laki-laki. Dia begitu tampan. Wajahnya sedikit mirip dengan Doni. Doni tersenyum. Mengambil foto yang terpampang rapih di atas meja komputernya.
“Kak, akan ada anak laki-laki lagi di rumah ini, usianya sama seperti mu. Berbeda tida tahun dari ku. Namanya begitu lucu kalau diingat. Kalau kau ada, mungkin kau akan menjewer ku juga seperti Ibu” Doni menunjuk-nunjuk foto itu.
Itu foto Kakaknya—Renaldi Pasan. Ia meninggal lima tahun yang lalu. Saat bermain futsal malam-malam karena Doni yang memaksa. Tiba-tiba jantungnya terasa benar-benar sakit dan tidak terkendali. Ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Hal ini membuat Doni terus terpukul. Ia merasa bersalah, memaksa Kakaknya. Bertahun-tahun Doni susah untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Hampir saja stres. Tapi orang tua Doni dapat mengatasi anak manjanya yang satu ini.
Ibu sudah memberi tahu kapan keberangkatan Indoyo ke Jakarta dan perkiraan sampai ke tempat tujuan. Doni hanya mengangguk. Hal yang biasa saja. Tapi yang membuat special adalah namanya—Indoyo. Doni selalu menahan tawa ketika mendengar namanya. Nama yang unik. Ibu juga selalu melotot melihat kelakuan Doni.

***

Indoyo merapihkan bajunya. Sepagi ini dia sudah bersiap menuju hamparan sawah. Bapak mengernyitkan dahi. Menggelengkan kepalanya. Seharusnya ia sepagi ini sudah beberes untuk keberangkatannya nanti sore.
Sebelum hari ini, dua hari yang lalu tepatnya. Dinda berlari menuju rumah Indoyo.  Pak Soerboyo menahan tawa melihat kelakuan anak-anak jaman sekarang. Tapi ia sedetik kemudian terdiam dan bertanya pada Dinda yang sudah kelelahan berlari ke rumah Indoyo. Dinda mengatakan, dia ingin ikut Mas Indoyo pergi ke Jakarta. Restu yang saat itu berada di rumah hampir saja menyemburkan kopi yang ia sedang teguk.
“Kalian belum menikah, Dinda. Befikirlah. Ini bukan film-film. Indoyo merantau untuk mencari ilmu, bukan untuk kawin lari” Restu mengelap mulutnya dengan baju. Dinda hanya menunduk. Wajahnya memerah. Saat itu indoyo sedang berada di sawah.
Ibu memegang tangan Dinda. “Ndo, kau sangat mencintainya, tapi utuk menjadi lelaki yang dewasa, penuh tanggung jawab. Indoyo harus lebih banyak belajar lagi. Aku tak akan membiarkan Indoyo menikahi mu dengan bermodalkan sawah yang hanya seluas ini saja dari tahun ketahun, ndo. Dia harus banyak bekal lagi” Ibu menyentuh tangan Dinda dengan lembut. Dinda masih menundukan kepala. Selain ia malu telah meminta untuk ikut pergi ke  Jakarta. Dia juga merasa sebal dengan Mas Indoyonya, karena Indoyo tidak mengatakan dia akan pergi untuk belajar. Bukan bekerja mencari peruntungan lain di Jakarta. Kalau belajar, tiga sampai empat tahun, pasti akan kembali. Kalau kerja, sudah bisa dapat seseorang yang bisa menggantikan dirinya di hati Mas Indoyo. Itulah fikiran Dinda.
“Loh? Dinda?” Indoyo sudah pulang dari sawah. Ia segera ke kamar mandi dan mencuci tangan dan kakinya agar lebih terlihat bersih. Lalu duduk bersama yang lain di ruang tamu.
“Maafkan aku juga Dinda, maaf. Maaf aku lupa memberi tahu kau. Aku ke sana untuk belajar. Aku ingin kau yang mengantar ku pergi” Indoyo kelepasan mengucapkan kalimat diakhirnya. Restu sudah menyumpratkan kembali kopi yang sedang ia minum. Kali ini dia bahkan tersedak. “Ya Allah!!” Restu berucap.
Pun Ibu dan Bapak. Mereka bahkan sampai terbatuk mendengar Indoyo mengucapkan itu.
“Haduh, kalau seperti ini, kalian bicaralah berdua. Tapi tetaplah di sini. Aku tetap memerhatikan kalian dari dalam” Bapak menarik tangan Ibu—Ibu berdiri. Pun Restu.
Dinda sudah semakin memerah. Indoyo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah.
Dinda masih menundukan kepalanya. Lima menit tidak ada pembicaraan sama sekali. Indoyo berkali-kali mencoba untuk membuka pembicaraan, baru membuka mulut—menutupnya kembali. Padahal di otak sudah banyak pembicaraan yang akan ia mulai. Tapi hilang seketika saat membuka mulut. Indoyo menggarukan kepalanya yang tidak gatal.
“Maaf, Mas. Dinda jadi malu sama keluarga Mas. Seharusnya Dinda menunggu Mas dulu pergi ke rumah Dinda” ternyata Dindalah yang memulai pembicaraan. Indoyo menatap wajah sendu itu. Lalu menggeleng. “Nda, kok. Kamu tak perlu minta maaf. Nda” Indoyo memainkan tangannya dengan lambaian—tidak.
Dinda menoleh ke arah Indoyo. “Tapi aku malu, Mas” Dinda menundukan kepala kembali.
Indoyo hampir saja tertawa melihat ekspresi Dinda yang memerah. Dinda sadar Mas Indoyonya sedang sedikit menahan tawa. Dinda menoleh dengan tatapan yang terhina. “Mas!” Dinda melotot. Indoyo sedikit salah tingkah.
“Yo wis, Dinda. Maaf aku telah membuat kau merasa malu di sini. Maaf. Tapi kamu sungguh ingin pergi bersama ku?. Kalau kawin lari bagaimana?” Indoyo mulai bergurau. Dinda kembali melotot dengan wajah yang memerah.
Suara Indoyo yang tidak sengaja terdengar kencang, membuat Restu yang berada di ruang tengah hampir sekali lagi menyemburkan kopinya. Lalu menggelengkan kepala. Dasar bujang stres.
“Aku bergurau, Dinda. Tapi sungguh, aku akan tetap mencintai mu. Sungguh. Ini bukan gombalan bujang yang sering menggoda mu di pekarangan. Sungguh” Indoyo berkata mantap.
Ia sudah mengatakan pada wanita sendu ini bahwa ia begitu menyukainya. Sejak awal jumpa. Sejak ia berjumpa di pekarangan rumah Dinda. Saat itu Indoyo hendak melaporkan urusannya dengan kepala desa. Dia tidak tahu bahwa kepala desa memiliki seorang anak perempuan yang sendu, sopan, cantik. Dinda dari kecil tinggal bersama neneknya di Solo. Baru datang ke Sleman karena neneknya telah meninggal dunia. Saat    Indoyo bertemu, ia kira Dinda adalah pembantu baru kepala desa. Tapi ternyata, ia anak kepala desa. Merasa tidak enak karena telah mengatakan “pembantu baru, yo?”
Setelah lama berbincang dengan Dinda. Dinda pamit pulang.
Hari ini Indoyo akan berangkat ke Jakarta. Tepatnya sore nanti. Tetapi sepagi ini dia malah sibuk ingin pergi ke sawah. Berkata bahwa, dia akan lebih merindukan sawah ketibang Bapak dan Ibu. Gurauan semata. Tapi ia benar akan merindukan sawahnya ini. Hey, kota Jakarta masih punya stok sawah tidak?. Indoyo bertanya seperti itu malamnya kepada kakaknya Restu. Yang ditanya hanya cengengesan mengangkat bahu. Indoyo pamit kepada Ibunya ke sawah. Sesambisikpainya—Indoyo duduk di pinggiran sawah, menatap penuh senyuman. Berbisik beribu kerinduan yang bisa jadi terjadi. Seakan sawah ini memiliki jiwa.
Indoyo tersenyum. Menatap ke arah silauan matahari.
“Mas, Doyo” Dinda sudah berdiri di belakan Indoyo. Indoyo menoleh, tersenyum. Menyilahkannya duduk di pinggiran sawahnya.
Dinda menggeleng.. “Aku hanya sebentar, Mas”. Indoyo menatap gadisnya lamat-lamat dan berdiri.
“Sore kau bisa antar, Mas kan?” Indoyo tersenyum—dia menyembunyikan kekhawatirannya tentang rencana Dinda yang mengantarkannya ke Bandara, nanti sore. Dinda menggeleng.
“Nda bisa, Mas. Ibu sakit. Dia butuh aku” Dinda sedikit merasa kecewa dan sedih. Indoyo menarik nafas panjang—menggeleng.
“Kau jaga Ibu saja. Dia surga mu, Dinda” Indoyo menatap hamparan sawah di depan matanya. Tidak merasa kecewa. Bagaimana pun, Indoyo bukanlah siapa-siapa Dinda. Dia bukanlah suaminya. Dinda mengangguk.
“Terimakasih, Mas. Sampai jumpa lagi” Dinda menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah dan matanya yang mulai membasah. Meninggalkan Indoyo yang masih memandangi hamparan sawah.

Biarlah
Biarlah semua ditinggalkan
Sedikit bayaran untuk masa depan
Meski bayaran itu adalah orang-orangyang kita tinggalkan

Indoyo bersyair sendiri di hamparan sawah miliknya. Berjalan lurus ke tengah sawah. Terus saja mengulang-ulang syair buatannya..


***

Indoyo menarik kopernya. Celingukan mencari seseorang. Seseorang yang diberitahukan oleh Bapak. Indoyo harus mencari laki-laki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Bapaknya. Wajahnya tirus, badannya tidak tinggi ataupun pendek. Dia memiki tahi lalat di atas bibirnya—dibagian kanan. Mudah diingat.
Indoyo menggaruk kepalanya yangtidak gatal. Bandara itu tidak hanya ada sekian puluh orang. Tai ratsan orang, mana mungkin ia memperhatikan wajahnya satu persatu. Indoyo sudah sampai di depan bandara Soekarno-Hatta. Menstop taxi.

***

Doni masih mengelap liur yang asik akan mengalir—terbangun.
“Aduh! Lupa!” Doni berlari. Mengangkat tangannya keatas. Setengah jam tidak terlihat tanda-tanda Indoyo. Doni mulai kesal. Lalu ia berteriak kencang memanggil Indoyo. Setengah jam juga berlalu. Tidak ada jawaban apapun. Doni akhirnya memberanikan diri bertanya, penerbangan dari Yogya sudah sampai sejak kapan.
Setelah mendengar jawabannya, Doni pulang dengan hati kesal, takut, dongkol. Hatinya benar-benar kacau. Doni pulang dengan tangan hampa tanpa membawa pesanan Ibu. Sepanjang perjalanan pulang, Doni terus berucap tiada henti. Terus mengomel di depan orang-orang yang sama sekali tidak bersalah. Sampai Ibu-Ibu hamil mengelus perutnya dan mengucap “amit-amit” tiada henti karena melihat Doni yang seperti orang gila di tengah jalan mengomel-omel tak jelas.
Waktu menunjukan jam sepuluh malam. Doni membuka pagar rumah. Ia sungguh masih kesal. Dia bingung harus menjelaskan apa. Doni berkali-kali berfikir—mungkin Indoyo sudah sampai di rumah, atau Indoyo tersesat dan tak tahu arah jalan pulang?—Doni mengacak-acak rambutnya. Menyebalkan sekali ini baginya.

Tidak ada komentar: