Aku
DONI
“Doni!!!” Doni loncat
dari kasurnya. Ada keributan di belakan rumah. Ayam terus saja mengokok-okok,
meledek. Ibu berusaha mengejar ayam jago yang akan ia potong. Doni lah yang
harus memotongnya, bukan?. Dengan setelan daster berwarna orange membalut
tubuhnya dan diangkat sedikit demi mengejar ayam yang kelihatannya masih ingin
menikmati hidup di dunia ini. Berlarian, berteriak.
Ayam berontak. Membuat
Ibu Ria, Ibunya si Doni tak henti-hentinya berteriak memanggil nama Doni. Yang
dipanggil loncat dari kasurnya. Baru terbangun dari tidaur. Mengucak-ucak
matanya, menyeringai.. melangkah masgyul.
“Doni! Bantulah Ibu!!!
Ayam ini berontak terus!! Sepertinya paham betul melihat ibu mengasah golok
ini” Ibu menjelaskan sambil berlari. Berhenti sejenak dan mengangkat golok
tinggi-tinggi. “Jangan hanya berdiri di situ! Atau kau yang ku potong, hah!” Ibu
nampak seperti jagal di hari kurban. Wajahnya benar-benar menyeramkan.
“iye, iye” Doni
melangkah. Menggaruk kepalanya, menatap ayam yang masih saja berputar-putar
tidak jelas mengelilingi Ibu dan Doni.
“Yaelah, Bu. Ini ayam
sudah gila. Gak usah-lah dipotong” Doni menggaruk kepalanya. Mulutnya nampak
sangat bau. Ibu mengibaskan tangannya ke hidung. Si ayam tiba-tiba berhenti.
Menatap ke arah Doni. Lihat, ayam ini sangat berbeda dengan yang lain. Menatap
Doni dengan tatapan menyebalkan. Seakan berkata. “Ape? Gila? Enak aje”
Ibu menganga melihat
ayamnya. Ia mengibaskan tangan.
“Ah, kau benar, Doni.
Tapi Ibu masih belum yakin. Sebenarnya ayam ini yang gila, atau aku yang—“ Ibu
berhenti sebentar. “Ah, sudahlah. Ibu beli ayam potong saja” Ibu perlahan masuk
rumah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia letakkan golok di atas pintu tempat
menyimpan barang.
Doni menguap.
“Hiss! Bau sekali” Doni
menyegir. Bau mulutnya keterlaluan bau. “Baiklah, yam. Sudah bebas kau. pacar
mu menunggu” Doni menjongkok. Lalu menunjuk ke arah luar pagar belakang.
Nampaknya, ada ayam betina yang sejak tadi mundar-mandir saja di sana. Ayam itu
berkokok—pergi menuju betina yang menunggunya. Doni menyengir.
“Aku rasa, aku yang
mulai gila” Doni bedecak. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Doni. Naman lengkapnya,
Doni Berdoni. Namanya cukup aneh. Tapi bukankah banyak sekali nama-nama aneh di
dunia ini?. Bahkan ada yang namanya di ulang pada nama belakannya. Misal. Randa
Randa. Atau pada yang lain, huruf vokalnya saja yang berbeda. Danar Dinar. Ah,
malah mengurusi nama. Nama memang selalulah special , bukan? Bagi orang tua
yang memberikan nama. Doni lahir di Jakarta. Ia memang asli Jakarta. Tapi orang
tuanya, asli Palembang dan Semarang. Dua suku yang berbeda. Doni lahir dari
seorang Bapak yang berhati lurus. Benar-benar baik. Bapaknya juga adalah
juragan bajaj. Bapak sangat terkenal di daerahnya. Bahkan sangat terkenal di
Jakarta. Ya, dikenal oleh kalangan menengah ke bawah. Doni dilahirkan oleh Ibu
yang tegas. Seperti suaminya, Ibu dikenal banyak orang karena...entahlah. Doni
tidak pernah tahu hal itu. Mungkin Ibu Doni pernah berpredikat sebagai pahlawan
di sini. Setiap kali Doni menanyakan tentang apa yang Ibunya lakukan dimasa
lampau. Ibunya hanya tertawa simpul.
“Tak perlulah kau tahu”
itu jawabannya. Doni sampai mati-matian nanya ke Mbak’e dan kerabat lainnya.
“Tanya saja pada Ibu-Bapak kau, Don” jawab mereka santai sambil meneruskan
pekerjaan mereka.
“Dari pada kau
tanya-tanya masa lalu, baiknya kau bantulah Mbak’e ngangkat ini nasi putih ke
rumah Mak Jenap” Mbak’e Lulu malah menyuruh-nyuruh Doni. Yang disuruh malah
manyun. Persis seperti pinokio. Bedanya, pinokio punya hidung yang memanjang.
Doni punya bibir yang bisa memanjang, sesuka hati Doni.
Ia bertanya tentang hal
itu sudah lima tahun yang lalu. Saat dia masih duduk di kelas tiga SMP.
Sekarang Doni berumur sembilan
belas tahun. Doni kuliah. Mengambil jurusan komunikasi. Doni awalnya memang sangat
ingin kuliah. Setelah lewat empat semester, bukannya bertambah rajin,
semangatnya malah menurun.
“Ma—“ Doni baru mangap.
“Jangan katakan, kau malas. Ibu akan kirim kau ke Palembang, jika kau
berani-beraninya menjawab dengan kata itu. Lagi pula, jika kau memang seperti
itu, lebih baik dari awal kau tak usah kuliah. Buang uang saja” ibu menasehati
sambil mengaduk-aduk pindang yang dimasaknya. Doni hanya menudukan kepala.
Sekarang mahasiswa
semester empat ini sedang untang-lantung di rumah karena liburan panjang.
Kerjaan di rumah hanya bengong, tidur, makan, main gitar di pos ronda dengan
teman. Kerjaan tentu ada. Membantu. Membantu apa pun yang disuruh. Bantu
mengantar nasi dan makanan pesanan milik Mbak’e yang beratnya bisa buat badan
kurus kering Doni berotot selama liburan. Membantu Ibu. Disuruh mengantar
rantang makan bapak, disurh ini, disuruh itu. Menurut saja. Toh, perintah sang
Ibunda tercinta. Membantu Pak Jaja di bengkelnya. Membantu Pak Osong mengganti
genteng yang bocor. Bantu ini, bantu itu, yang penting ada kerjaan. Halal pula.
Bapaknya adalah juragan
bajaj, bukan?. Tapi Bapak tidak pernah mengizinkan Doni menyentuh-nyentuh
bajajnya.
“Tak usah. Lebih baik
kau cari pekerjaan lain selama liburan ini. Sudah ku bilang, jangan coba-coba
narik bajaj seperti ku, walaupun kau adalah anak juragan bajaj. Tidak akan ku
izinkan sama sekali” Bapak menepuk-nepuk bahu Doni. Berkat tegas.
“Aku narik bajaj. Aku
dulu kuliah seperti kau, tapi aku berhenti karena asyik dengan bajaj. Lihat,
jadilah aku juragan bajaj. Kau tak boleh mewarisi semua itu, Don” Bapak Doni
lagi-lagi berkata tegas menjelaskan. Saat semua orang menyuruh Doni untuk narik
bajaj sementara, dari pada luntang-lantung tak jelas selama liburan.
Nyatanya, Bapak Doni
sendirilah yang melarang keras sang anak untuk menarik bajaj. Bahkan Ibu
setuju-setuju saja.
“Halah. Itu Bapak mu
saja yang aneh. Dia sendiri yang malas sekali kuliah. Bilang—kuliah banyak
sekali bukunyalah. Baru kuliah satu semester, sedah bolos belasan kali” Ibu
berdecak sambil bergeleng. “Tapi Bapak mu jelas langsung berhenti kuliah. Tidak
menggantungkan kuliah. Lebih baik dia keluar dari pada menyusahkan orang tua.
Tapi, nyatanya. Orang tua selalu ingin melihat anaknya dipindahkan tali topi
toganya. Keinginan yang bertepuk sebelah tangan” Ibu berdecak kembali sambil
sibuk menyetrika.
Akhirnya masa liburan
Doni habis dengan membantu siapapun dengan suka rela. Tapi jika ada yang mau
memberi sedikit uang pun tak apa.
“Bagaimana dengan
liburan kalian?” Bu Dini inisiatif menyinggung masalah liburan di kelas. Semua
yang ada di kelas malas sekali menjawanb. Mereka sama nasibnya dengan Doni.
Begitu-begitu saja. Tidak ada yang menyenangkan. Kelas yang satu ini tidak
begitu menyenangkan. Karena tidak ada teman yang benar-benar bisa diajak
kompromi. Jarang sekali yang akrab dengan Doni. Semua hanya menggeleng. Dosen
hanya tersenyum—kaku. Salh tingkah, liburan tidak begitu menarik juga baginya.
Dia harus mengerjakan banyak hal di rumah. Tiada libur untuk seorang Ibu rumah
tangga yang aktif di luar rumah juga ini.
Doni menggaruk
kepalanya yang tidak gatal di bale pos ronda. Sesekali mengupil. Menunggu
seseorang.
“Wey, nampaknya lama
sekali kau menunggu, hah?” Randi menepuk pundak Doni. Dia sedikit terloncat,
kaget. Randi membawa gitar. Mereka bernyanyi bersam setiap malam di bale pos
ronda ini sampai jam sebelas malam bersama dua penjaga yang juga asik bermain
catur di sana. Doni menarik gitar Randi. Mengambil kunci dan—
“Nama ku DONI!”
Aku
Kasibo
“Haiya. Macam kau tidak
tahu sifat Mamak kau saja, Bo. Mak mu tak nak jika pinjamannya aku potong.
Haiya. Padahal dia itu seperti adik ku sendiri. Hah? Macam pula kau ni. Lihat.
Lihat, pas kan kembaliannya. Saye tak pernah salah hitung ma” Koh Shio
menggeleng sambil melayani pelanggannya yang protes kembaliannya kurang.
Kasibo menggaruk rambut
keribonya yang tidak gatal. Menyeringai. Koh Shio sedang sibuk dengan
pelanggannya. Percuma saja diajak bicara. Repot jadinya. Kasibo akhirnya pamit
dengan Koh Shio.
Kasibo pulang ke
rumahnya. Mengetuk pintu dan membukanya. Nampaknya, Mamaknya sedang pergi.
Mamak Kasibo sebulan
yang lalu meminjam uang pada Koh Shio dengan jumlah uang yang cukup besar.
Mamaknya sangat ingin Kasibo kuliah di Jakarta. Merantaulah, nak. Begitulah
ucapannya sebulan yang lalu. Ketika Kasibo tahu Mamak meminjam uang itu untuk
biaya kuliahnya, Kasibo sungguh sangat senang dan juga terpukul.
“Biarlah Kasibo jadi
kuli bangunan, Mak. Yang penting halal. Kasibo juga berencana banyak. Bukan
hanya jadi seorang tukang, Mak” sudah berkali-kali Kasibo mengatakan hal itu
pada Mamaknya—meyakinkan Mamaknya. Tetap Mamaknya menggelengkan kepala.
“Kau harus lebih baik
dari itu, Bo. Harus. Maka dengarkan saja apa kata Mamak mu ini” Dan itulah
selalu jawaban dari Mamak. Tidak lebih dan tidak kurang sedikit pun. Kalimat Kasibo
yang terus saja berulang.
menggaruk kepalanya
yang tidak gatal. Masuk ke kamarnya. Berbaringlah ia di kasur sederhana itu.
Menatap poster Iwan Fals yang menempel di atap rumahnya. Mengernyitkan dahinya.
Lalu menghela nafas panjang.
“Apa yang harus aku
lakukan Om?. Ah, seharusnya aku tak pernah mengucapkan keinginan ku itu,
bukan?. Mak, Mak. Uang sebanyak itu, macam mana mudah membayarnya?” Kasibo
menghela nafas lagi. Menatp langit-langit dengan tatapan penuh pengaduan.
Kasibo bangun. Menatap kaca yang terpampang di dinding.
“Kasibo. Mamak tak
keberatan kau menjadi kuli bangunan. Sungguh tidak. Tapi Mamak kecewa pada diri
Mamak sendiri jika Mamak tidak menyekolahkan kau di tempat yang kau sukai itu”
Kasibo meniru ucapan yang diucapkan Mamaknya. Sakibo tersenyum sedikit dan
cemberut lagi.
“Seharusnya aku tak
pernah mengatakan itu, Mak. Apa yang harus aku lakukan, Mak? Mamak berhutang
banyak ke Koh Shio dan Bang Abeng untuk memberangkatkan aku kuliah? Macam mana
bisa aku meninggalkan Mamak sendiri di pulau Kalimantan ini, Mak? Macam mana?”
Kasibo berbicara sendiri di depan kaca. Menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kamarnya yang begitu
rapih ini, ia tatap satu persatu. Membuat seliut kenangan dari ia kecil.
“Kasibo, Kasibo” Kasibo menggelengkan kepala dan kembali tiduran di atas
kasurnya.
Iwan Kasibo. Itulah
nama lengkapnya.Rambut keribo, mata yang bulat, badan yang besar. Benar-benar
menuruni gen Bapaknya, Pak Goesdur. Kasibo Lahir berbeda dua bulan dari Doni.
Anak Jakarta di bagian sebelumnya. Bapaknya meninggal dunia ketika Kasibo sudah
beranjak remaja—lima belas tahun. Masih duduk di kelas satu SMA. Anak yang
benar-benar rajin. Lihatlah. Kamar Kasibo tidak seperti kamar-kamar bujang muda
biasanya. Kamarnya bersih, wangi, rapih. Bahkan bisa jadi, kamar anak perempuan
saja kalah dengannya.
Saat Kasibo masih duduk
di SMA. Ia selalu saja mengaan kepada Mamaknya. Ia ingn kuliah di Jakart,
sekalian merantau. Mengngat kat-kata terakhir dari sang Bapak.
“Kasibo, kau tahu nak?
Ada sebuah sya’ir indah yang selalu Bapak mu ini sukai sampai sekarang” Bapak
menatap rembulan. Kasibo menatap bapaknya lamat-lamat. Saat itu Kasibo sudah
kelas enam SD.
Mereka sedang berada di
atas genteng dan bersantai menatap rembulan. Inilah hal yang sangat disukai
Kasibo sejak ia kecil. Meniru Bapaknya yng asik sendiri menatap cahaya rembulan
malam-malam jika tidak turun hujan.
“Tidak ada tempat untuk bersantai bagi orang yang belajar dan
berbudi, maka tinggalkan tanah air dan berkelanalah” Bapak masih menatap
sinar rembulan dengan penuh kesenduan di wajahnya. Nampak lelah sekali, sehabis
bekerja. “Itu syai’r dari orang hebat, Kasibo. Bukan karangan Bapak mu ini”
Bapak tersenyum menatap Kasibo. Dari situlah ia sangat menyukai kata-kata itu.
Dia catat sya’ir itu dengan mantap di hatinya.
Saat ia berumur lima
belas tahun. Syai’r itu diulang kembali oleh Bapaknya—di tempat yang sama.
Sehari sebelum tewasnya beliau ditabrak lari seseorang.
“Kasibo, Bapak pernah
mengatakan sya’ir hebat itu pada mu,
kan?” Kasibo mengernyitkan dahi.” Tidak ada tempat
untuk bersantai bagi orang yang belajar dan berbudi, maka tinggalkan tanah air
dan berkelanalah” Bapak tersenyum pada Kasibo dengan senyuman yang benar-benar
anggun. Kasibo menelan ludah. Syai’r yang sangat ia sukai itu.
“Haduh...rasanya
Bapak benar-benar ingin istirahat” Bapak mencoba untuk meluruskan pinggangnya
yang sakit. Sekilas Bapak Kasibo nampaknya mengeluarkan air mata. Kasibo
menelan ludah. “Aku akan pergi duluan, Kasibo” Bapak nampaknya ingin turun dari
genteng. Kasibo mengernyitkan dahi. Pergi
duluan?.
“Bapak,
mau kemana? Haduh, Pak. Kalau mau pergi , ajak-ajak Kasibo-lah. Merantau”
Kasibo meledek Bapaknya. Bapak hanya tersenyum tipis. Pergi menuruni tangga.
“Tak
lah, Bo. Kau kali ini tidak diizinkan pergi. Merantaulah sendiri setelah kau
lulus” Bapk berteriak dari bawah. Kasibo masih asik memandnagi rembulannya.
Rembulan sangat indah malam ini. Tampak bulat kejinggaan.
Hari
ini, Kasibo dihadapi dengan kenyataan uang kehidupan yang benar-benar pas,
setelah Bapak Kasibo meninggalkan keluarga ini ke alam yang berbeda. Akhirnya
Mamak yang membanting tulang selama ia SMA. Bagi Mamak. Yang penting kau
belajar yang giat, nak. Mamak sudah senang betul. Setelah lulus, Kasibo
memendam dalam-dalam keinginannya untuk kuliah itu dalam-dalam. Mamak mana
punya uang yang begitu banyak untuk menuruti keinginannya itu. Kasibo akhirnya
menjadi kuli bangunan. Ia sudah bekerja di sana cukup lama. Sudah mau
direkomendasikan sebagai mandor. Tapi ketika ia pulang ingin menyampaikan kabar
gembira itu. Mamak malah menangis. Memeluk Kasibo erat-erat.
“Pergilah,
nak. Merantaulah” Kasibo menganga. Dia memang tak bisa melupakan niatnya itu.
Tapi Kasibo mempunyai rencana yang baik. Dia ingin bekerja lebih dulu, baru
akan kuliah. Keinginan bosnya itu, untuk merekomendasikan Kasibo sebagai
mandor—tak jadi ia smapaikan. Bungkam sudah mulut Kasibo. Apa lagi mendengangar
Mamak meminjam uang yang tidak sedikit pada Koh Shio dan Bang Abeng.
Tabungannya
saat ini sangat sedikit untuk membayar hutang itu.
Hari
itu ia benar-beanr uring-uringan. Dia senang, tapi bingung. Bagaimanalah ia
bisa merantau dan meninggalkan Mamaknya dengan banyak hutang?. Ya Tuhan. Kalau
Koh Shio tidak mengapa. Dia menganggap Koh Shio sebagai bapaknya. Nah, Bang
Abeng?. Dia memang baik. Tapi ia takut dengan tabiat Bang Abeng yang kadang
aneh. Takut Mamaknya diajak kawin.
Kasibo
menggelengkan kepala. Menatap kecermin. Berfikir, Bang Abeng tak sejahat itu.
Itu pasti. Tapi dia adalah Mamaknya. Bagaimana mungkin, meninggalkan sang Mamak
di Kalimantan sendirian. Mamak tidak punya saudara lagi. Hanya Kasibo, anak
semata wayangnya itu. Walaupun tetangganya sudah seperti saudara sendiri. Tapi
Kasibo sungguh sangat tidak tega sekali.
Kasibo
mengacak-acak rambutnya yang keribo.
Kasibo
naik ke atas genteng. Menikmati wajah rembulan lagi. Seperti kata Bapaknya.
“Jangan menatap rembulan dengan penuh kenistaan. Penyiksaan. Kesedihan. Jangan.
Tatap ia dengan wajah tenteram mu. Kau akan lebih merasa nyaman, nak”.
Kasibo
menatap rembulan dengan wajah yang beanr-benar penuh ketentepal tanraman. Lalu
ia mengepal tangannya. Melempar tinjunya ke atas.
Dreeeet—
Tidak
sengaja ia malah sedikit terpeleset. Wajahnya berubah jadi pias. Membenarkan
posisi kembali.
BRUUUUK!
“MEONG!!!”
Kasibo menahan wajah. Berisik akhirnya.
“HEH!!
Maling yak???” Tetangga sebelah yang merasa terusik, berteriak. “Aku KASIBO!"
Aku
Indoyo
Indoyo mengelap
peluhnya di leher. Mengernyitkan dahi menatap silaunya mentari. Meneruskan
kembali mencangkul. Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan sawah dan satu
jalan. Jalan satu-satunya di tempat itu. Jalan yang benar-benar lurus mengarah
ke tempat lain. Ke kota dan tempat lainnya. Sepanjang mata memandang, hanya ada
hamparan haamparan hijau datar. Sawah. Lalu setelah perbatasan sawah—ada
pemandangan hijau pepohonana nan menyenangkan. Di baliknya ada aliran kali yang
bening. Beanr-benar sejuk tempat ini. Beanr-benar menyenangkan.
Indoyo menghela nafas
panjang.
“Doyo. Kemarilah. Makan
dulu, sudah siang” Ibu melambaikan tangannya sambil membawa bakul nasi di
pinggangnya. Indoyo berjalan perlahan menuju saung. Ditaruhlah pacul di samping
saung.
“Nah. Ibu bawa sambel
to” Ibu menyiapkan semuanya. Sedikit terkikik melihat Indoyo dan Bapak yang
menelan ludah melihat sambal terasi yang sungguh menggugah selera.
Indoyo membiarkan Bapak
mengambil nasi lebih dulu. Stelah itu, Indoyo langsung menyambet nasi, saat
Bapak memberikan centong nasinya pada Indoyo. Ibu terkikik lagi. Makan siang
selalu menyenangkan bagi keluarga Bapak Soebaryo. Setelah lelah mencangkul,
membajak, menanam, memanen. Mereka bisa tersenyum lebar menatap makan siang
mereka yang memang sederhana. Tapi ajaibnya—mereka selalu tersenyum bahagia
menatap santapan mereka siang ini. Bapak Soebaryo tertawa lebar saat menatap
wajah Indoo yang sangat kelaparan.
Indoyo menyengir lebar.
“Doyo, orang yang paling beruntung di dunia ini, adalah orang yang mampu
tersenyum saat melihat makanan yang akan dia makan. Pun makanan itu hanya nasi
dan sambal saja. Orang yang tidak beruntung, bukanlah orang yang hanya memakan
nasi dan sambal saja. Tapi orang yang paling tidak beruntung di dunia ini,
adalah orang yang hanya bisa berkomentar macam-macam atas makanan yang
disediakan untuknya. Padahal, mewah sudah makanan yang ada di depan matanya”
Bapak menjelaskan sambil tertawa melihat Indoyo yang menatap buas makanan yang
ada di depan matanya. Tidak memperdulikan apa yang barusan Bapaknya katakan.
Bapak Indoyo adalah
orang yang benar-benar dianggap bijak oleh banyak warga desa. Perawakan Bapak
Soerboyo yang menyenangkan menurun ke Indoyo—keduanya.
Indoyo Soekarno. Nama
yang besar. Lihatlah. Indoyo. Bapak Soerboyo sengaja menamakannya dengan kata
Indo, yang berasal dari kata Indonesia. Lalu menambahkan kata yo di
belakanngnya, agar namanya lebih lengkap. Akhirnya Ibu menambahkan nama
Soekarno di belakang nama Indoyo—berharap Indoyo akan segagah berani sang
Presiden pertama Indone-sia. indoyo tidak pernah mempermasalahkan nama itu.
Baginya, nama adalah do’a. Semoga saja do’a kedua orang tuanya benar-beanr terkabul.
Indoyo lahir di Sleman.
Dia anak ke dua dari tiga bersaudara. Dibandingkan dengan Doni dan Kasibo.
Indoyo lebih tua tiga tahun. Anak pertama Bapak Soerboyo adalah anak laki-laki,
namanya Restu Soenarto. Anak bungsu Bapak Soerboyo adalah wanita. Dia benar-benar
cantik. Mempunyai rambut yang panjang. Mata yang bulat. Wajah yag benar-beanr
menyenanangkan—menuruni gen Bapaknya. Namanya, Dewi Nayla. Namanya pun benarbenar
cantik.
Indoyo adalah anak
kedua yang beanr-beanr berhati baik. Dia bersekolah dengan baik. Keluarga
mereka juga dari keluarga yang baik-baik. Sejak kecil, Indoyo sangat suka
membantu Bapaknya berkebun. Bukan karena ia ingin benar-benar membantu
kehidupan, taoi memang ia sangat suka dengan tumbuh-tumbuhan. Ia sangat
menyukai bercocok tanam. Melihat kesungguhan Indoyo, sang Bapak berminat
menyekolahkan anaknya di tempat yang lebih baik.
“Seharusnya dia kulia
di fakultas pertanian, Pak” Restu memulai obrolan itu, saat malam gelap gulita.
Saat Indoyo sudah berada di dalam mimpi.
Bapak mengangguk. Restu
sudah menjadi seorang pedagang. Dia bekerja di pasar. Melayani banyak
pelanggan. Keahliannya memanglah berdagang. Setelah Indoyo lulus dari SMA.
Restu berfikir untuk menyekolahkan Indoyo di Universitas. Tapi uang tidak cukup
memadai.
“Biarkan Mas Indoyo
kuliah di Jakarta, Pak” Nayla ikut berbicara. Duduk manis dekat Restu.
“Tapi kuliah di sini
juga bisa” Bapak kekeh tidak ingin anak kesayangannya itu pergi jauh-jauh
darinya. Ibu yang mendengar percakapan itu, menghela nafas dalam-dalam. Ia juga
tidak ingin anak-anaknya pergi jauh dari mereka berdua. Tapi membuat Indoyo
menjadi anak yang luar biasa dengan otak dan hatibaiknya itlebih penting
bukan?. Ibu ikut menimbrung di ruang tamu.
“Ia, Pak. Sudahlah,
lepaskan saja anak mu itu. Toh, dia sudah besar ini. bisa menjaga dirinya” Ibu
memegang lutut Bapak. Bapak menatap Ibu lamat-lamat. Mata Ibu berkaca-kaca.
Restu dan Nayla hanya tersenyum. Akhirnya Ibu mengeti.
“Ini kesempatan bagus,
Pak. Satu kursi untuk Indoyo. Aku begitu senang saat mendengarnya. Dia itu
harus lebih beruntung dari pada Bapak yang hanya bekerja terus di sawah ini,
kan?. Dia harus lebih maju dari Bapaknya, kan?. Kursi itu kesempatan baik, Pak”
Restu kembali menjelaskan.
Bapak mulai
berkaca-kaca kembali. Entah bagaimana, tapi cepat atau lamabat—ia harus
melepaskan Indoyo. Dia sudah menjaadi lelaki dengan hati yang lurus seperti
jalan raya satusatunya di perlintasan tiga desa.
Akhirnya malam itu,
semua bersepakat mengirim Indoyo ke Jakarta. Merantau. Menjemput janji-janji
masa depan yang lebih baik lagi.
***
“Opo? Jakarta?. Kalian
bergurau” Indoyo memainkan alang-alang yag ia bawa dari sawah. Ibu
menggelengkan kepala.
“Nda, Yo. Ini bukan
gurauan Bapak mu, yang kadang tidak lucu” Ibu memegang lengan Indoyo erat.
Indoyo menatap wajah Ibunya. Lalu bergiliran menatap Kakak dan Adiknya.
Kemudian berakhir menatp Bapak. Bapak mengangguk.
“Ambilah kesempatan
besar itu, Yo. Tapi berjanjilah kepada Bapak, agar kau menjadi anak Soerboyo
yang berhati lapang, lurus, dan tauhid” Bapak berkata tegas.
“Entahlah, Bu, Pak.
Indoyo masih bingung” Indoyo menggaruk kepalanya yang tdak gatal. “Apa lagi
yang kau bingungkan, Yo. Mas percaya sama kamu. Uang juga akan terus Mas kirim.
Kau juga lebih pintardari pada bujang sebelah yang sudah sarjana itu, Yo” Restu
masih terus meyakinkan Indoyo. Yang sedang diyakinkan malah menggaruk kepala.
Lau berdiri.
“Yo wis. Aku akan
pikirkan matang-matang dulu, yo?” Indoyo pergi keluar rumahnya.
Semua hanya saling
lirik melihat kepergian Indoyo.
Indoyo berlari. Ia
terburu-buru. Ia ingin pergi ke rumah seseorang.
Sampailah Indoyo di
rumah yang cukup besar dan luas. Rumahnya memang tidak berpagar. Indoyo
membungkuk pergi ke arah jendela kamar. Lampunya sedang menyala. Indoyo
bersiul-siul menirukan suara burung. Jendela itu yang tdinya tertutup, akhirnya
dibuka oleh sang pemilik kamar. Dibuka perlahan. Terlihat sudah wajah yang
begitu manis di hadapannya. “Mas?” wanita itu bingung.
“Kenapa, malam-malam—“
Indoyo ber-sst. “Dinda, Mas... Mas akan merantau ke Jakarta” Indoyo meneruskan
sambil celingukan—takut ada yang memergokinya.
Dinda terdiam.
“Merantau? Berapa lama?” wajah sendu itu berubah menjadi sedih.
“Entahlah, lima hari
lagi aku akan pergi. Bisakah? Bisakah kau mengantarkan kepergin ku?”.
Malam itu, rembulan
begitu indah. Sama dengan wajah Dinda. Tapi tidak untuk malam ini. wajah Dinda
berubah memerah. Matanya berkaca-kaca.
Indoyo meninggalkan
jendela kuning manis itu. Ia berjalan gontai. Tidak menuju rumahnya. Ia menuju
sawah. Tiduran di atas saung—menatap rembulan. Bersekolah di Jakarta?. Itu
tidak denga waktuyang cepat, bukan?. Bertahun-tahun. Indoyo menaruh tangannya
di bawah kepala. Asyik menatap rembulan.
Restu ternyata mencari
Indoyo. Ingin berbicara lebih private lagi dengan adiknya. Tapi kemana-mana, ia
cari, tak kunjung terlihat. Sampai di jalanan lurus tiga desa itu, Restu
seperti melihat seseorang di saung.
“Doyo! Apa itu kau?”
Restu berteriak. Indoyo menoleh. Bangkit dari tidurannya dan duduk.
“Ya, Mas. Aku Indoyo"
Selamat
Datang di Jakarta
Doni celingukan menatap
lalu-lalang orang-orang di Bandara. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu
mengangkat tinggi-tinggi kertas putih bertuliskan “INDOYO SOEKARNO”.
***
“Bangun, Don. Bangun”
Ibu menggoyang-goyangkan tubuh Doni. Doni menggeliat. Menarik selimut kembali.
Ibu kesal. Ia mencubit pipi Doni. “Kau mau bangun atau kau tidak akan bisa
bangun lagi selamanya!” Doni menjerit, Ibu dengan galaknya mencubit pipinya
yang sudah kempot itu.
Doni memperbaiki
posisinya. Ibu menarik selimut Doni. “Aku mau bicara dengan kau. Ada hal
penting” Ibu sudah pergi menuju ruang tengah. Doni menggaruk kepalanya.
Beranjak—pergi ke kamar mandi.
“Ada kerabat Ibu di
Jawa mau datang kesini. Dia bilang, anaknya akan kuliah di Jakarta. Untuk
sementara, mereka ingin menumpang di rumah kita, Don” ibu menjelaskan se-telah
Doni keluar kamar mandi—sambil melipat baju-baju. Doni mengernyitkan dahi. Ibu
melotot.. “Kenapa, hah?” Ibu berkata ketus.
“Doni tak pernah tahu,
Ibu punya kerabat dari Jawa” Doni santai bicara sambil meneguk teh hangat.
Nampaknya cuaca sedang dingin. Teh hangat menjadi pilihan paling menyenang-kan.
Ibu tertawa, membuat Doni bengong seketika.
“Bapak dan Ibu kan
sudah hampir mengelilingi Indonesia Don. Kau tidak tahu hal itu?” Ibu sedikit
terkekeh, tak menyangka. “Tentu saja tahu. Siapa yang tidak tau itu di sini?
Bah-kan tetangga kita tahu. Hanya cerita kerabat Ibu Bapak saja yang tidak Doni
tahu” Doni berkata kesal.
Tentu saja. Siapa yang
tidak mengenal juragan bajaj yang pernah hampir mengunjungi seluruh daerah di Indonesia
ini. Bapak dan Ibu Doni adalah seorang petualang dulunya. Banyak sekali
mengunjungi berbagai daerah di Indonesia. Tapi ditengah perjalanan mereka yang
sudah mereka jalankan selama tiga tahun, Ibu Doni hamil. Akhirnya menetap di
Jakarta. Bapak masih berpetualang. Sampai akhirnya kehamilan Ibu yang sudah
menua, Bapak Doni akhirnya memilih pulang. Pulang ke Jakarta. Tempat Ibu
menetap. Bapak dan Ibu Doni menikah muda sekali. Bahkan Bapak memilih kuliah
saat sudah beristri. Baru satu semester sudah K.O karena lebih asyik bekerja.
“Bapaknya bilang,
anaknya itu tidak akan merepotkan. Orangnya senang bekerja dan berkebun. Bisa
jadi rumah kita akan ditanami sayur mayur yang segar olehnya. Ibu senang
mendengarnya. Dia lebih tua dari mu tiga tahun. Baru kuliah karena baru
memiliki uang. Kau dengar itu?” Ibu menjelaskan kembali. Doni mengangguk. “Iye,
iye”.
“Eh, namanya siapa,
Bu?” Doni penasaran betul. Sampai-sampai melotot ke arah Ibunya. Ibunya sedikit
menjauh. “INDOYO SOEKARNO”.
Doni menutup mulutnya.
Menahan tawa. Ibu melotot dengan galaknya. Doni menciut.
“Nama macam apa itu?”
Doni memperkecil suaranya. Ibu melotot kembali.
“Ibu bisa dengar itu!”
Ibu hendak menjewer Doni. Doni menghindar.
Doni berlari, pergi ke
kamarnya. Mematut diri di kacanya. Lalu berpindah ke arah foto seorang
laki-laki. Dia begitu tampan. Wajahnya sedikit mirip dengan Doni. Doni
tersenyum. Mengambil foto yang terpampang rapih di atas meja komputernya.
“Kak, akan ada anak
laki-laki lagi di rumah ini, usianya sama seperti mu. Berbeda tida tahun dari
ku. Namanya begitu lucu kalau diingat. Kalau kau ada, mungkin kau akan menjewer
ku juga seperti Ibu” Doni menunjuk-nunjuk foto itu.
Itu foto
Kakaknya—Renaldi Pasan. Ia meninggal lima tahun yang lalu. Saat bermain futsal
malam-malam karena Doni yang memaksa. Tiba-tiba jantungnya terasa benar-benar
sakit dan tidak terkendali. Ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Hal ini
membuat Doni terus terpukul. Ia merasa bersalah, memaksa Kakaknya.
Bertahun-tahun Doni susah untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri. Hampir saja
stres. Tapi orang tua Doni dapat mengatasi anak manjanya yang satu ini.
Ibu sudah memberi tahu
kapan keberangkatan Indoyo ke Jakarta dan perkiraan sampai ke tempat tujuan.
Doni hanya mengangguk. Hal yang biasa saja. Tapi yang membuat special adalah
namanya—Indoyo. Doni selalu menahan tawa ketika mendengar namanya. Nama yang
unik. Ibu juga selalu melotot melihat kelakuan Doni.
***
Indoyo merapihkan
bajunya. Sepagi ini dia sudah bersiap menuju hamparan sawah. Bapak
mengernyitkan dahi. Menggelengkan kepalanya. Seharusnya ia sepagi ini sudah
beberes untuk keberangkatannya nanti sore.
Sebelum hari ini, dua
hari yang lalu tepatnya. Dinda berlari menuju rumah Indoyo. Pak Soerboyo menahan tawa melihat kelakuan
anak-anak jaman sekarang. Tapi ia sedetik kemudian terdiam dan bertanya pada
Dinda yang sudah kelelahan berlari ke rumah Indoyo. Dinda mengatakan, dia ingin
ikut Mas Indoyo pergi ke Jakarta. Restu yang saat itu berada di rumah hampir
saja menyemburkan kopi yang ia sedang teguk.
“Kalian belum menikah,
Dinda. Befikirlah. Ini bukan film-film. Indoyo merantau untuk mencari ilmu,
bukan untuk kawin lari” Restu mengelap mulutnya dengan baju. Dinda hanya
menunduk. Wajahnya memerah. Saat itu indoyo sedang berada di sawah.
Ibu memegang tangan
Dinda. “Ndo, kau sangat mencintainya, tapi utuk menjadi lelaki yang dewasa,
penuh tanggung jawab. Indoyo harus lebih banyak belajar lagi. Aku tak akan
membiarkan Indoyo menikahi mu dengan bermodalkan sawah yang hanya seluas ini
saja dari tahun ketahun, ndo. Dia harus banyak bekal lagi” Ibu menyentuh tangan
Dinda dengan lembut. Dinda masih menundukan kepala. Selain ia malu telah
meminta untuk ikut pergi ke Jakarta. Dia
juga merasa sebal dengan Mas Indoyonya, karena Indoyo tidak mengatakan dia akan
pergi untuk belajar. Bukan bekerja mencari peruntungan lain di Jakarta. Kalau
belajar, tiga sampai empat tahun, pasti akan kembali. Kalau kerja, sudah bisa
dapat seseorang yang bisa menggantikan dirinya di hati Mas Indoyo. Itulah
fikiran Dinda.
“Loh? Dinda?” Indoyo
sudah pulang dari sawah. Ia segera ke kamar mandi dan mencuci tangan dan
kakinya agar lebih terlihat bersih. Lalu duduk bersama yang lain di ruang tamu.
“Maafkan aku juga
Dinda, maaf. Maaf aku lupa memberi tahu kau. Aku ke sana untuk belajar. Aku
ingin kau yang mengantar ku pergi” Indoyo kelepasan mengucapkan kalimat
diakhirnya. Restu sudah menyumpratkan kembali kopi yang sedang ia minum. Kali
ini dia bahkan tersedak. “Ya Allah!!” Restu berucap.
Pun Ibu dan Bapak.
Mereka bahkan sampai terbatuk mendengar Indoyo mengucapkan itu.
“Haduh, kalau seperti
ini, kalian bicaralah berdua. Tapi tetaplah di sini. Aku tetap memerhatikan
kalian dari dalam” Bapak menarik tangan Ibu—Ibu berdiri. Pun Restu.
Dinda sudah semakin
memerah. Indoyo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah.
Dinda masih menundukan
kepalanya. Lima menit tidak ada pembicaraan sama sekali. Indoyo berkali-kali
mencoba untuk membuka pembicaraan, baru membuka mulut—menutupnya kembali.
Padahal di otak sudah banyak pembicaraan yang akan ia mulai. Tapi hilang
seketika saat membuka mulut. Indoyo menggarukan kepalanya yang tidak gatal.
“Maaf, Mas. Dinda jadi
malu sama keluarga Mas. Seharusnya Dinda menunggu Mas dulu pergi ke rumah
Dinda” ternyata Dindalah yang memulai pembicaraan. Indoyo menatap wajah sendu
itu. Lalu menggeleng. “Nda, kok. Kamu tak perlu minta maaf. Nda” Indoyo
memainkan tangannya dengan lambaian—tidak.
Dinda menoleh ke arah
Indoyo. “Tapi aku malu, Mas” Dinda menundukan kepala kembali.
Indoyo hampir saja
tertawa melihat ekspresi Dinda yang memerah. Dinda sadar Mas Indoyonya sedang
sedikit menahan tawa. Dinda menoleh dengan tatapan yang terhina. “Mas!” Dinda
melotot. Indoyo sedikit salah tingkah.
“Yo wis, Dinda. Maaf
aku telah membuat kau merasa malu di sini. Maaf. Tapi kamu sungguh ingin pergi
bersama ku?. Kalau kawin lari bagaimana?” Indoyo mulai bergurau. Dinda kembali
melotot dengan wajah yang memerah.
Suara Indoyo yang tidak
sengaja terdengar kencang, membuat Restu yang berada di ruang tengah hampir
sekali lagi menyemburkan kopinya. Lalu menggelengkan kepala. Dasar bujang
stres.
“Aku bergurau, Dinda.
Tapi sungguh, aku akan tetap mencintai mu. Sungguh. Ini bukan gombalan bujang
yang sering menggoda mu di pekarangan. Sungguh” Indoyo berkata mantap.
Ia sudah mengatakan
pada wanita sendu ini bahwa ia begitu menyukainya. Sejak awal jumpa. Sejak ia
berjumpa di pekarangan rumah Dinda. Saat itu Indoyo hendak melaporkan urusannya
dengan kepala desa. Dia tidak tahu bahwa kepala desa memiliki seorang anak
perempuan yang sendu, sopan, cantik. Dinda dari kecil tinggal bersama neneknya
di Solo. Baru datang ke Sleman karena neneknya telah meninggal dunia. Saat Indoyo bertemu, ia kira Dinda adalah pembantu
baru kepala desa. Tapi ternyata, ia anak kepala desa. Merasa tidak enak karena
telah mengatakan “pembantu baru, yo?”
Setelah lama berbincang
dengan Dinda. Dinda pamit pulang.
Hari ini Indoyo akan
berangkat ke Jakarta. Tepatnya sore nanti. Tetapi sepagi ini dia malah sibuk
ingin pergi ke sawah. Berkata bahwa, dia akan lebih merindukan sawah ketibang
Bapak dan Ibu. Gurauan semata. Tapi ia benar akan merindukan sawahnya ini. Hey,
kota Jakarta masih punya stok sawah tidak?. Indoyo bertanya seperti itu
malamnya kepada kakaknya Restu. Yang ditanya hanya cengengesan mengangkat bahu.
Indoyo pamit kepada Ibunya ke sawah. Sesambisikpainya—Indoyo duduk di pinggiran
sawah, menatap penuh senyuman. Berbisik beribu kerinduan yang bisa jadi
terjadi. Seakan sawah ini memiliki jiwa.
Indoyo tersenyum.
Menatap ke arah silauan matahari.
“Mas, Doyo” Dinda sudah
berdiri di belakan Indoyo. Indoyo menoleh, tersenyum. Menyilahkannya duduk di
pinggiran sawahnya.
Dinda menggeleng.. “Aku
hanya sebentar, Mas”. Indoyo menatap gadisnya lamat-lamat dan berdiri.
“Sore kau bisa antar,
Mas kan?” Indoyo tersenyum—dia menyembunyikan kekhawatirannya tentang rencana
Dinda yang mengantarkannya ke Bandara, nanti sore. Dinda menggeleng.
“Nda bisa, Mas. Ibu
sakit. Dia butuh aku” Dinda sedikit merasa kecewa dan sedih. Indoyo menarik
nafas panjang—menggeleng.
“Kau jaga Ibu saja. Dia
surga mu, Dinda” Indoyo menatap hamparan sawah di depan matanya. Tidak merasa
kecewa. Bagaimana pun, Indoyo bukanlah siapa-siapa Dinda. Dia bukanlah
suaminya. Dinda mengangguk.
“Terimakasih, Mas.
Sampai jumpa lagi” Dinda menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah dan
matanya yang mulai membasah. Meninggalkan Indoyo yang masih memandangi hamparan
sawah.
Biarlah
Biarlah
semua ditinggalkan
Sedikit
bayaran untuk masa depan
Meski
bayaran itu adalah orang-orangyang kita tinggalkan
Indoyo bersyair sendiri
di hamparan sawah miliknya. Berjalan lurus ke tengah sawah. Terus saja
mengulang-ulang syair buatannya..
***
Indoyo menarik
kopernya. Celingukan mencari seseorang. Seseorang yang diberitahukan oleh
Bapak. Indoyo harus mencari laki-laki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Bapaknya.
Wajahnya tirus, badannya tidak tinggi ataupun pendek. Dia memiki tahi lalat di
atas bibirnya—dibagian kanan. Mudah diingat.
Indoyo menggaruk
kepalanya yangtidak gatal. Bandara itu tidak hanya ada sekian puluh orang. Tai
ratsan orang, mana mungkin ia memperhatikan wajahnya satu persatu. Indoyo sudah
sampai di depan bandara Soekarno-Hatta. Menstop taxi.
***
Doni masih mengelap
liur yang asik akan mengalir—terbangun.
“Aduh! Lupa!” Doni
berlari. Mengangkat tangannya keatas. Setengah jam tidak terlihat tanda-tanda
Indoyo. Doni mulai kesal. Lalu ia berteriak kencang memanggil Indoyo. Setengah
jam juga berlalu. Tidak ada jawaban apapun. Doni akhirnya memberanikan diri
bertanya, penerbangan dari Yogya sudah sampai sejak kapan.
Setelah mendengar
jawabannya, Doni pulang dengan hati kesal, takut, dongkol. Hatinya benar-benar
kacau. Doni pulang dengan tangan hampa tanpa membawa pesanan Ibu. Sepanjang
perjalanan pulang, Doni terus berucap tiada henti. Terus mengomel di depan
orang-orang yang sama sekali tidak bersalah. Sampai Ibu-Ibu hamil mengelus
perutnya dan mengucap “amit-amit” tiada henti karena melihat Doni yang seperti
orang gila di tengah jalan mengomel-omel tak jelas.
Waktu menunjukan jam
sepuluh malam. Doni membuka pagar rumah. Ia sungguh masih kesal. Dia bingung
harus menjelaskan apa. Doni berkali-kali berfikir—mungkin Indoyo sudah sampai
di rumah, atau Indoyo tersesat dan tak tahu arah jalan pulang?—Doni
mengacak-acak rambutnya. Menyebalkan sekali ini baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar