Daun

Minggu, 21 Juli 2013

Melampauinya




prolog





Aku meneguk air teh hangat yang sejak tadi menemani ku. Santai menunggu. Membaca koran. Ini waktu pagi jam sembilan—aku menunggu seseorang. Seseorang yang ku ajak pulang ke balik tembok yang sudah tidak lagi kokoh. Tembok yang sudah menjadi puing-puing semata. Dia seorang wanita yang benar-benar paham akan situasi yang selalu aku hadapi. Mengerti dan menjadi seorang pendengar dan pemberi nasihat yang baik menggantikan tembok nan indah itu.
Waktu masih begitu panjang. Aku sengaja datang lebih awal. Aku ingin sedikit mengenang banyak hal—sudah terlalu lama aku meninggalkan negeri ku sendiri. Nampak beribu orang berlaluan mengejar waktu, santai karena berlibur, bahkan panik terlihat di wajah salah satu orang-orang ini. Orang-orang berjas dengan nyamannya berjalan dengan pengaman manusia di tiap pojokan ia berdiri. Mengusir siapa saja yang ada di hadapannya. Yang dikawal memakai kacamata hitam bergaya dengan jas rapih. Rombongan itu lewat tidak mengenal siapapun yang ada di hadapannya. Seoran Ibu hamil nakmpak merasa kesal karena orang-orang yang mengangkat dagu dan menjunjung ototnya menghalangi jalannya yang tidka terlalu bebas. Wajah sang Ibu tampak lucu. Membuat orang-orang disekitar tertawa dan menyoraki rombongan orang-orang yang bisa jadi penting itu.
Aku tersenyum melihat Ibu hamil itu. Sekaran waktu menunjunkkan 09.30 WIB. Aku masih menunggu sambil meminum teh hangat kembali. Umur ku sudah tiga puluh tahun. Usia yang cukup matang, bukan?. Aku pulang ke Jakarta untuk memenuhi sebuah janji. Janji yang tidak akan aku ingkari. Janji membawa putri cantik itu ke balik tembok nan anggun itu.
Tapi hari ini semoga tidak ada lagi kabar yang membuat ku harus membatalkannya. Semoga tidak. Kalian tahu?. Begitu sakit jika membatalkan janji yang sangat kita ingin tepati—padahal itu sudah kehendak Tuhan, bukan?.
Dulu. Di tempat yang sama, kursi yang sama, waktu yang sama—hanya tahun yang berbeda, di tempat ini aku bukan sedang menunggu dan bukan sedang datang. Tapi aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Pergi untuk melamapaui seseorang yang sangat aku cintai di dunia ini, pergi untuk melampaui seseorang yang ku punya satu-satunya di dunia. Aku akan pergi memenuhi janji untuknya, untuk Ayah juga Ibu dan untuk diri ku sendiri. Aku akan melampaui seseorang setelah aku membuatnya begitu luar biasa bagi orang-orang yang di sisinya—tak terkecuali aku.
Kali ini hal yang sama bisa saja terjadi—tapi pada siapa?—bisa jadi pada seseorang yang aku tunggu saat ini.
Aku meneguk kembali teh ini. teh mulai sedikit terasa dingin. Kembali menatap sekitar, memperhatikan banyak tabiat baik maupun buruk seseorang lewat memperhatikan di sini itu baik—bisa belajar dengan tersirat. Belajar dengan hanya memandang kehidupan orang lain.
Aku menatap serius beribu skenario yang dibuat oleh sang pencipta. Menyaksikan skenario di depan mata—itu menyenangkan.
Saat aku menatap ke depan, ada sesuatu yang terlihat ganjil.
Aku tersenyum ria. Aku mengenal senyuman dari balik keramaian itu. Membuat keramaian ini menjadi sepi seketika. Aku mengenal rambut hitam legam yang sekarang telah memanjang itu. Aku begitu mengenalnya. Dia seseorang yang aku ingin bawa pulang ke balik tembok cantik nan menyenangkan ku.
Wanita itu melambaikan tangannya. Rambut hitam panjangnya tergerai indah dan jatuh begitu saja di pundak kirinya. Pemandangan ini lebih indah dari iklan shampo di TV.
“Kau menunggu lama?” wanita itu tersenyum begitu anggun. Wajahnya sudah berubah lebih menyenangkan lagi dari pada tiga tahun yang lampau. Aku masih menatapnya yang sibuk melirik ke arah teh yang telah habis. Aku menggeleng.
“Bukan milik ku” aku tersenyum dan mengelus rambutnya yang begitu lembut. Dia mengernyitkan dahi.
“Bukankah, sepuluh menit yang lalu, kau mendengar pesawat baru saja mendarat?” aku berkata meyakininya yang terlihat sedikit curiga. Wajahnnya berubah—senyuman itu kembali terlihat.
“Aku senang bisa menjemput kamu, Yard” wanita itu terus saja terseyum. Ya Tuhan, apa ini syurga dunia?.
Aku tersenyum. Aku menatap bandara ini.
Aya, Kakak pulang. Kakak akan bawa wanita cantik ini melampaui mu. Seperti janji ku. Kakak tidak tahu apa Kakak telah melampaui mu. Kakak tidak tahu, Aya.
Bagaimana kabar mu di sana Aya?. Bukankah, itu tempat terbaik dari yang terbaik?—rumah yang terbaik dari rumah yang terbaik?.
Aya, sedang apa kau di sana?—wahai tembok yang amat cantik jelita.




Jam Yang Rusak




Ayah sedang sedang menyantap sarapannya. Pagi-pagi Ayah harus pergi sepagi ini untuk melayani masyarakat yang sangat membutuhkan tenaganya. Aya sepagi ini malah merengek ria di depan Ibu. Menarik-narik daster Ibu yang sejak tadi sibuk sekali seperti setrikaan—dapur-meja makan. Bapak memerhatikan Aya yang sejak tadi berusah meminta sesuatu.
“Ibu, Aya janji deh—nilai Aya akan sepuluh semua. Aya janji, Bu” Aya masih saja sibuk menarik-narik baju Ibu. Aku tidak begitu peduli—paling hanya meminta mainan atau boneka.
Ibu menghentikan kesibukannya. Aya menatap Ibu dengan penuh pengharapan. Ibu hanya menatapnya sebentar lalu—sibuk kembali membereskan bekal untuk kami. Aya kembali merengek tanpa ampun. Ayah mulai tidak nyaman. Ia hentikan makannya dan mencuci tangan.
“Aya, kemarilah sebentar. Ayah buru-buru” Ayah mengayunkan tangannya ke arah Aya. Aya menjadi antusias. Pasti akan ada sesuatu yang special jika Ayah sudah mulai bertindak dalam urusan seperti ini. Aya tertarik. Ia berlari ke arah Ayah yang memasuki ruang tengah.
Aku selesai makan—tidak begitu tertarik dengan Aya. Aku segera mengamil tas di ruang tengah—yang tidak lain, ada kamar Ayah dan Ibu juga di luarnya ada kasur kami.
Ayah duduk masuk ke kamarnya. Aya menunggu di kasurnya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ayah keluar dai kamar sambil menyembunyikan tangan dari balik unggungnya yang menyenangkan. Aku masih sibuk dengan tas ku dan memasukan beberapa mainan kecil. Ayah duduk di samping Aya. Aya menatap penuh keantusiasan.
Ia keluarkan apa yang ada di balik punggungnya. Ia tersenyum lebar.
Aku hanya menoleh.
“Jam rusak?” Aya melemas, terlihat sekali wajahnya yang merasa kecewa. Aku menyengir kuda. Ternyata hanya dua jam rusak gelangnya.
Ayah menggelengkan kepalanya. “Ih, Ayah. Ini rusak semua. Benar, kok” Aya mengulurkan jam tangannya. Aku sekarang benar-benar tertarik. Aku berdiri mendekati.
Ayah menggeleng untuk yang kedua kalinya.
“Jam yang ini, benar-benar rusak.” Ayah mengambil salah satu jam yang memang benar sangat rusak. Aku memerhatikan. Pun Aya dengan wajah kecewanya.
“Tapi yang ini tidak rusak seutuhnya, bukan?. Hanya tidak ada bagian pergelangannya saja” Ayah mengambil jam kedua yang masih hidup tetapi sudah tidak bisa dipakai kembali di tangan siapapun. Aya mengangguk. Aku masih memerhatikan dan menunggu penjelasan Ayah. Ayah tersenyum lebar.
“Ada banyak sekali yang bisa kamu pelajari dari jam tangan ini, Aya. Ah iya, Ayah harus berangkat sekarang. Pejabat berangkat dulu ya, anak-anak” Ayah menyerahkan kedua jam itu pada Aya. Aya semakin manyun karena tidak diberi penjelasan yang lebih lagi.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Kenapa tidak ada penjelasan sama sekali?. Sudahlah. Aku bawa tas dan pamit pada Ibu. Ayah mengacak-acak rambut Aya. Aya masih tidak paham dan terus menatap jam tangan itu.
 Aku dan Ayah memakai sepatu di depan rumah. Selalu seperti ini dipagi hari. Selalu. Aku dan Ayah memberi salam dan aku menciun tangannya. Lalu kami berpisah jalan. Ayah ke kiri—aku ke kanan.
Aku berlari kencang ke depan. Orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada Teh Oot yang sedang menjemur bajunya. Ada Tante Urda yang sibuk dengan dagangan di warungnya. Aku menyapa mereka dengan ramah. Berlarian berangkat sekolah dengan semangat.
Nama ku Riyard. Umur sebelas tahun. Aku duduk di kelas enam SD. Ayah bekerja sebagai pegawai di kelurahan. Beliau sangat bijak dan berwibawa. Bagi ku dan adik ku—Ayah selalu menajdi Gubernur—bahkan menajdi seorang Presiden untuk ku dan adik ku. Adik ku bernama Aya—perempuan yang mendapat jam tangan rusak dari Ayah. Dia perempuan yang cantik seperti Ibu—rambutnya yang sebahu dan hitam legam berkilauan, lurus dan begitu anggun. Dia memang cantik. Matanya yang bulat hitam bersinar dan raut wajahnya yang menyenangkan kekanakan—kadang membuat ku tidak mampu menolak apa yang ia minta pada ku. Aya berumur sembilan tahun, duduk di kelas tiga SD. Aku satu sekolah dengannya. Yang aku herankan, dia tidak pernah ingin bersekolah di tempat yang sama dengan ku. Selalu itu yang ia keluhkan. Padahal seharusnya aku yang merasa kesal karena dia satu sekolah dengan ku. Tapi malah sebaliknya. Alasannya, takut aku akan mengikuti setiap kegiatan yang ia lakukan dan terus saja mengintilinya. Hey, seharusnya ak yang merasa seperti itu. Aku acapkali protes denagn asumsinya itu. Toh, aku tidak pernah seperti itu selama tiga tahun terakhir. Aku tetap cuek engan kegiatannya. Lagi pula, ia selalu menceritakan kegiatannya di sekolah saat di rumah. Mengambil alih pembicaraan saat di meja makan. Jadi aku tidak perlu khawatir, bukan?. Aya saja yang terlihat aneh.
Kami memiliki Ibu yang sangat cantik. Matanya bulat seperti Aya. rambutnya panjang dikuncir rapih di belakang. Pekerjaannya memang Ibu rumah tangga. Tapi harus ku akui—beliau masih bekerja sebagai tukang cuci dan menggosok di rumah tetangga. Ibu tidak pernah bisa diam, selalu saja ada yang ia kerjakan. Enatah apalah. Uang dari hasil kerjanya dipakai untuk membantu biaya sekolah dan kehidupan kami sehari-hari. Ayah juga idak pernah merasa keberatan jika Ibu juga bekerja. Baginya yang penting tidak melebihi ketentuan dan juga halal pekerjaannya. Terkadang Ibu benar-benar merasa lelah karena pekerjaanya, tapi ia tidak mau berhenti. Ini yang membuat aku selalu mencoba untuk menghormati Ibu. Meskipun ia benar-benar marah, tetapi rasa sayang tetap tertancam dan tak bisa dicabut lagi olehnya di dalam hatinya. Begitulah bagi ku seorang Ibu. Bagi aku anak laki-laki yang terkadang tidak tahu diri dan begitu nakal di hadapannya. Dia tetap menyayangi kita, meski dalam keadaan marah besar sekalipun. Aku masuk pagi. Aya masuk siang. Saat aku pulang sekolah, wajah Aya masih saja terlihat kecewa dengan kejadian tadi pagi.
“Ya sudahlah, Ya. Pasti kamu disuruh cari penjelasan sendiri mungkin—sama Ayah” aku masuk rumah sudah menyembur wajah Aya dengan obrolan sok tahu ku.
Aya melotot ke arah ku. “Apaan sih, Kak. Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima menit. Aya lupa buat PR” Aya garuk-garuk kepalanya sambil memasukan buku PR-nya. Aku menepuk jidat. Ku kira apa.
“Coba Kakak lihat” aku mencoba memberanikan diri untuk mengerjakan PR-nya. Aya menarik buku PR-nya. “Aku lebih pintar dari, Kakak. Bagaimana pula kakak mampu menjawab PR-ku?” Aya meremehkan ku dengan wajahnya yang menjadi menyebalkan.
Aku ber-puhh. Aku pergi kebelakang dan melihat Ibu yang asyik dengan cucian tetangga. Aku menelan ludah saat Ibu mengelap peluhnya di dahi. Aku berjalan perlahan, hendak bersalaman. Ibu menyambut dengan seperti biasanya. “Makan, Yard. Awas kau, jangan langsung pergi main” Ibu memerintahkan sambil terus menggosrek pakaian. Aku ber-ya, segera meletakkan tas dan mengganti baju. Sepi, hanya ada suara gosrekan baju. Sepertinya, Aya sudah pergi ke sekolah.
Ibu sudah selesai mencuci. Aku sedang asyik dengan santapan siang ku. Ibu datang menghampiri. “Yard, memang di sekolah ada apa?. Kenapa adik mu merengek tidak ingin masuk sekolah hari ini?. Hah, untung Ayah memberikan sesuatu. Ibu bingung” Ibu bertanya penasaran. Aku hampir saja tersedak. Tidak ingin masuk sekolah?. Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti. Meminta sedikit penjelasan.
“Adik mu, semalam ke kamar Ibu. Dia bilang dia tidak ingin masuk sekolah hari ini. Saat Ibu tanya kenapa. Dia tidak menjawab, malah terus memohon. Jadi, Ibu juga tidak jawab. Untung Ayah kau memberikan jam rusak itu. Dia malah minta maaf sama Ibu tadi. Bilang, kalau dia bodoh sekali malah membolos. Padahal cuma karena tugas. Memang ada apa, Riyard” Ibu menjelaskan tanpa memotong satu pun cerita. Aku menelan ludah. Hebat sekali Aya bisa sadar secepat itu.
“Mungkin tugas yang belum ia kerjakan, Bu. Tadi Aya bilang ke Riyard, dia lagi mikir. Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. ‘Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima menit’. Gitu Bu” aku tidak memotong bagian kata itu, bahkan aku memeraktekan cara bicaranya di depan Ibu. Ibu melotot sambil mengernyitkan dahi.
“Riyard serius. Mungkin PR-nya susah, Bu” aku bela sedikit adik ku. Aku tahu, Ibu akan marah sepanjang minggu ini jika mendengar alasan tidak mengerjakan PR. Aku pun akan kena sasaran sepanjang minggu ini.
Ibu ber-oh. Aku yang kini menghela nafas lega. “Jam itu, berguna juga” Ibu mengangguk-anggukan kepala. Jam?.

***

Aku sedang asyik dengan tugas rumah alias PR-ku. Ini pelajaran kesukaan ku, matematika. Tidak ada yang bisa menandingi rasa suka itu. Entah sejak kapan aku begitu menyukai pelajaran ini. Pak Arif adalah guru matematika sekaligus guru mata pelajaran yang lainnya. Tapi bisa dibilang, Pak Arif tulen guru matematika. Melihat cara mengajar matematika berbeda dengan mata pelajaran yang lain, sudah membuat ku tahu persis. Beliau adalah guru matematika tulen.
Pernah Pak Arif berkata, “Nak, jika kalian ingin mnguasai sesuatu. Maka sukailah dulu guru yang mengajarkan sesuatu yang ingin kalian kuasai itu”. Semua murid hanya be-oh ria. Tidak begitu mengerti maksud dari Pak Arif.
Saat ini aku malah memikirkan terus perkataan Pak Arif. Benar saja, aku begitu menyukai Pak Arif—dalam arti mengagumi. Dia orang pertama yang membela aku di kelas dan juga yang pertama kali menyalahkan aku di dalam kelas. Aku tidak tahu apa maksud Pak Arif, tapi aku tahu itu baik untuk kami semua.
Aya menyikut lengan ku. “Kak, Aya pusing.  Mau tidaur saja. Aya tahu, Aya lebih pintar dari Kakak. Makanya, Kakak kerjakan ya, PR Aya. Aya pusing” Aya berbisik kepada ku. Aku melotot ria. Beraninya kau memerintah Kakak mu. Mata ku mendelik. Aya mulai mengerti apa aksara dalam tatapan ku. Dia mulai memelas dengan wajah menggemaskannya.
Ayah tiba-tiba sudah berada di samping kami. Aku sedikit terloncat.
“Aya, jam rusaknya?” Ayah mengelus rambut Aya. Aya menyengir ria.
Aku yang duduk di samping Aya menyikut lengannya—hendak bertanya. Yang disikut hanya menundukan kepalanya. Aku hanya bingung dibuatnya. Ada apa?. Ayah tidak bicara lagi, ia hanya bicara seperti itu dan pergi ke kamarnya. Aku menoleh ke arah mereka berdua. Ada sesuatu yang tidak aku tahu—tapi apa?.
“Aya—“ baru aku menoleh pada Aya—ia berdiri mengambil buku yang tadi diserahkan pada ku. Aku hanya menggeruk kepala ku yang tak gatal. Tak mengeti. Aya pergi ke ruang tamu dan meneruskan mengerjakan tugasnya. Aku datang menghampirinya. Ingin rasanya aku membantu si rambut hitam legam ini.
“Kepala kau—“ Ayah menarik aku yang sudah berjalan hampir melewati ruang tamu. Aku menatap Ayah. Ayah menggeleng dengan tatapan mata yang tegas, itu artinya aku akan dihukum jika melawan perintahnya barusan.
“Itu hanya alasan adik mu saja untuk tidak mengerjakan tugaasnya. Kau sendiri juga tahu kalau adik kau tak suka pelajaran matematika kan?. Tapi biarkan dia belajar—dengan waktu yang terus berjalan, pasti dia akan menyukai pelajaran itu bukan?” Ayah berbisik berbicara dengan ku. Aku paham sekarang. Aya memang tidak menyukai matematika, baginya matematika terlalu rumit. Walaupun nilai matematikanya bahkan di atas rata-rata, tapi rasa suka tetap tidak bisa dipaksakan.
“Jam rusak itu ada gunanya untuk adik mu. Jam pertama—jam rusak detakkannya, jam yang benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Adik mu mudah saja tahu arti semua itu. Ketika waktu benar-benar berhenti, segala hal tidak dapat dipakai kembali. Jadi gunakan waktu dengan sebaik mungkin. Jam kedua—jam yang masih menyala, hanya saja tidak bisa dipakai karena gelangnya sudah rusak. Adik mu sekali lagi mengerti dengan mudah apa maksud Ayah. Jika waktu terus berjalan tapi kau rusak dengan cara yang sia-sia, maka waktu tidak akan bisa kau pakai. Bahkan bisa jadi, waktu enggan dipakai oleh mu. Bagaimana menurut mu, Riyard?” Ayah menjelaskan panjang lebar. Sungguh, Aya benar-benar anak yang benar-benar pintar. Bagaimana bisa ia menyimpulkan semua itu dengan hanya menatap ke dua jam yang diberikan Ayah?. Bahkan hal yang seperti itu sama sekali tidak terpikirkan oleh otak ku ini. Aku menelan ludah menatap Ayah yang menjelaskan panjang lebar.
“Seharusnya kau lebih paham dari adik mu, Riyard. Suatu hari nanti, kau-lah yang harus menjaganya tanpa Ayah. Bisa jadi, tanpa Ibu pula” Ayah tersenyum mengacak-acak rambut ku. Aku mengangguk. Dua kalimat terakhir sungguh menyeramkan. Aku tak pernah berfikir sampai ke sana. Tidak pernah sedikitpun.
Aku menatap ke arah tugas-tugas matematika ku. Menatapnya dengan bingung. Bukankah, guru kelas tiga dan kelas enam sama-sama Pak Arif?. Tapi kenapa Aya tidak menyukai matematika?. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. aku harus melanjutkan tugas-tugas ini. Waktu tidak pernah mengizinkan kita membuatnya berhenti, kecuali pemilik waktu.


Jam Yang Rusak—2


Bunyi dentingan bel masuk sekolah kami, terdengar. Aku yang masih berada di luar pagar sekolah terlonjak kaget dan tidak sengaja menumpahkan es krim coklat ku. Aku mengomel-omel tak jelas. Darwis berteriak keras memanggilku untuk segera masuk. Aku berlari. Bel istirahat masih berdentang aku punya kesempatan untuk cepat masuk sebelum Mang Dodo menutup gerbang sekolah. Nampaknya Mang Dodo selalu sigap di depan pagar sekolah meneriaki murid sekolah. Jarak ku tinggal satu meter. Mang Dodo menyengir ria. Sengaja sekali mempercepat menutup gerbang. Sedikit lagi. Aku harus melampaui gerbang itu.
Aku menyentuh dada ku. Menoleh pada Mang Dodo, sedikit melotot. Mang Dodo hanya menyengir ria, puas melihat wajah ku yang cukup pias saat melewati pagar sekolah.
Mang Dodo adalah penjaga sekolah. Tidak hanya Mang Dodo, tapi ada Pak Getu yang menemani. Mereka berdualah yang bertugas membersihkan, menjaga juga mengebel saat jam-jam sekolah. Mereka berdua cukup cekatan dan tepat waktu. Tidak pernah sedikitpun meleset.
“Yard, ada yang bilang pada ku. Waktu itu begitu berharga, jadi jangan sia-siakan. Sekarang kau sia-siakan dengan berhenti sejenak untuk mengambil nafas karena berlari dari warung Mpok Menah ke sekolah. Masuklah” Mang Dodo menggusah ku seperti ayam. Aku menyengir dan berlari ke kelas. Sebelum aku menginjakan kaki ku ke dalam kelas, Aya berdiri lebih dulu di depan kelas—menunggu seseorang sambil bersandar di depan tembok kelas ku. Aku mengeryitkan dahi. Aya mencari siapa?—aku?. Aku berlari-lari kecil ke arahnya. Ia melihat ku dengan sedikit terkaget. Aku tersenyum, lelah.
“Ada apa, Ya?” aku sedikit berlutut. Lelah juga berlari ke sekolah dari warung Mpok Menah. Padahal jaraknya tidaklah seberapa. Aya memutar-mutar kedua jari telunjuknya. Aku tahu persis, ia sedang bingung—kebiasaannya sejak kecil tidak bisa menipu aku, Ayah dan Ibu. Aya menggigit bibirnya.
“Aya, Aya minta...” Aya masih memutar-mutar jaari telunjuknya. Aku mengernyitkan dahi. Apa?.
“AYA MINTA MAAF, KAK! AYA JADI MALAS MENGERJAKAN TUGAS MATEMATIKA KARENA BENCI DENGAN KAKAK!” Aya menundukkan kepalanya. Aku setengah mati mencoba mencerna teriakan Aya, yang bisa membuat seluruh teman di kelas ku keluar kelas. Aku menganga.
Wajah Aya penuh kesedihan dan kekecewaan pada dirinya sendiri. Aku masih saja menganga. Benci kepada ku?.
“A-A-Aya benci sama kakak, kakak selalu saja disebut-sebut oleh Pak Arif. Bilang kalau pekerjaan ku tidak sebaik kakak. A-A-Aya tidak suka diperlakukan seperti itu!” suara Aya sedikit mengecil. Aku celingukan ke arah kelas. Teman-teman ku sudah membuka mulut mereka lebar-lebar. Tidak menyangka ada adegan seperti ini.
“Ayah kasih aku jam-jam rusak itu karena aku agar lebih bisa menghargai waktu dan belajar, bahwa waktu pasti akan membantu agar aku bisa lebih dari Kakak. Tapi aku masih saja iri sama Kakak. Maaf ya, Kak” Aya yang menahan tangisan menatap aku dengan berbinar-binar.
Aku menggelengkan kepala, mencoba sadar.
“Aya, apa Aya tahu?. Aya sudah jauh melampaui Kakak. Aya lebih hebat dari Kakak. Tak usahlah minta maaf. Kakak tak marah” ya, kata-kata pertama ku yang keluar dengan sangat lancar mengalir dari hati dan keluar dari mulut. Aku menelan ludah. Aya tersenyum. Ia mencium pipi ku dengan cepat. Sungguh mmemalukan.
Aku lap-lap pipi ku dengan baju, bahkan tembok kelas. Teman-teman ku masih begitu takjub.
“Hei, kawan. Bagaimanalah kau bisa bicara macam itu?. Baca buku apa, kau?” Tador meninju bahu ku. Aku masih sibuk menglap-lap pipi. Logatnya memang sudah terdengar cukup jelas.
“Itu kan ciuman dari adik mu. Tidak usahlah dilap. Nanti kalau dia lihat dan berlaku aneh lagi, bagaimana?” Darwis puas sekali tertawa dan menjaili ingin mencium ku. Aku buru-buru menghindari.
Entah apa yang difikirkan oleh Aya. Aku tidak tahu. Tapi kenapa Pak Arif selalu membawa nama ku?. Bingung juga ketika ada yang benar-benar merasa iri. Apa Pak Arif membawa-bawa nama ku ke seluruh anak didiknya?. Aku menatap atap kelas yang sudah menguning karena bekas kebocoran saat hujan.

***

“Riyard!” seseorang memanggil ku.
“Kau dipanggil Pak Arif, kawan” Syahril membungkuk menekuk kakinya. Aku terbengong-bengong sesaat. Ber-oh sesaat. Dia menggusah ku dengan ekspresi yang benar-benar lelah. Bagaimana tidak?, aku tahu persis kalau Syahril sedang berpuasa.  Anak ini benar-benar berbeda dengan murid-murid lain. Dia rajin berpuasa senin –kamis, shalat tidak pernah bolong—ceramah dan lainnya, soal kecil buatnya. Bahkan dia merupakan seorang hafidz Al-qur’an. Aku selalu salut dengannya. Selalu juga menyenangkan untuk diajak main. Walaupun dia terlihat sholeh, tetap saja dia hanya seorang anak SD yang penuh dengan permainan.  Ya, kalau masalah bohong-bohong sedikit dia pernah.
Aku mengangguk. Berjalan ke arah ruang guru. Celingukan mencari Pak Arif yang ternyata tidak ada di dalam ruang guru. Aku menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.
“Riyard” aku sedikit terloncat. Pak Arif muncul dari bawah meja.
“Ahaha, maaf Riyard. Buku Bapak terjatuh. Kemarilah, Nak” Pak Arif melambaikan tangannya kepada ku—merintahkan untuk masuk ruangan. Aku mengangguk.
Aku selalu menyukai ruang guru. Melihat berkas-berkas dan buku-buku murid di atas meja guru itu—cukup menyenangkan. Pak Arif terlihat sedang sibuk mengoreksi buku-buku di atas mejanya. Aku menatap satu-satu buku-buku itu. Aku tahu ini buku anak kelas tiga. Melihat tulisan Aya yang begitu rapih, membuat ku mengangguk—setuju dengan pendapat ku itu.
“Ini lihat” Pak Arif menyerahkan buku yahng aku sangat kenal. Buku ini sangat rapih. Melihat dari gaya tulisannya, aku tahu ini buku punya Aya.
Kalian tahu?. Untuk seumuran Aya—tulisannya benar-benar rapih. Dia anak yang benar-benar pintar. Aku juga selalu tahu, kalau aku tidak pernah menjadi yang paling pintar dibangkan dengannya. Selalu dia yang paling di depan. Aku melihat tugas yang dikerjaklan oleh Aya. Nilainya sangatlah bagus-bagus. Selalu diatas sembilan—walau belum pernah mendapat nilai seratus. Aku tersenyum. Baguslah.
“Makanya Bapak selalu menggedornya dengan mengatakan, pekerjaanya tidak sebaik yang kau lakukan” Pak Arif menatap ku lamat-lamat. Aku mengangguk-angguk. “Bapak hanya mengatakannya pada Aya” Pak Arif menatap ku lagi.
Aku menunduk menatp tugas-tugas Aya yang tidak pernah mandapatkan nilai seratus. Untung saja Pak Arif hanya memakai nama ku di depan Aya. Aku sedikit bernafas lega.
“Jam rusak. Kau tahu itu, kan?” Pak Arif tersenyum bertanya dengan wajahnya yang begitu menyenangkan. Aku menatapnya lamat-lamat. Bagaimana Pak Arif tahu?. Ah, Ayah dan Pak Arif  satu angkatan. Mungkin mendapat filosofi itu dari satu guru yang sama. Tapi filosofi saja aku tidak tahu apa artinya. Aku menyengir sedikit. Pak Arif mengangkat alisnya sebelah. Aku mngangguk.
“Ya, Aya yang memberitahukan Bapak tentang jam rusak itu. Bapak sangat bangga melihat adik mu. Dia belajar banyak, Nak. Dia cepat sekali mengerti hal itu, padahal belum dijelasi oleh Ayah mu sama sekali, bukan?. Dia persis Ayah kau. Fikirannya benar-beanr bisa berjalan tanpa ada hambatan. Aku belum bisa menagartikan hal itu dengan secepat Aya dan Ayah mu. Aku sangat bangga dengan Ayah mu, bisa punya anak seperti kalian-kalian ini” Pak Arif menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagai baru menggenal keluarga kami saja.
“Jaga adik mu baik-baik. Suatu saat nanti—bisa jadi, dia akan melebihi mu. Bahkan kau yang akan membuatnya menjadi lebih itu sendiri” Pak Arif menepuk-nepuk punggung ku. Aku hanya melihatnya dengan tatapan serba bingung dengan yang ia katakan. Aku hanya menyengir ria menunjukkan gigi ku yang nampak menguning kering dan menggaruk-garuk kepala ku yang tak gatal.
Aku berjalan keluar dari ruang guru. Masih terlalu kecil untuk mengerti hal yang dikatakan oleh Pak Arif.

***

“Begitu, Bu!” Aya sibuk menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah. Itu biasa untuknya—melaporkan segala hal, termasuk juga aku yang terbirit-birit masuk ke sekolah karena bel istirahat sudah berbunyi.
Aku masih asyik dengan sayur kangkung yang dibuat Ibu. Tidak terlalu memerhatikan curhatan Aya. Tiba-tiba saja, meja makan nan kecil ini menjadi sepi. Aku celingukan ke arah Ayah, Ibu dan Aya. Ternyata Aya berhenti mengoceh. Wajahnya tiba-tiba suram. Aku ikut-ikutan memberhentikan makan seperti Ayah dan Ibu. Wajah Aya terlihat sedikit suram. Bibirnya sempurna trlekuk. Aku menggaruk kepala, tak mengerti. Ada apa?.
“Aya janji, Aya akan melampaui Kak Riyard. Kak Riyard memang lebih hebat dari Aya” wajah Aya tersenyum dan berkata mantab. Aku melotot. Tidak paham dengan semua yang ia katakan. Aku makin menggruk kepala.
Ayah dan Ibu menatap ku penuh tanya. Aku mengangkat bahu dan mnggeleng keras. Ayah tersenyum.
“Berarti kau sudah mengerti betul jam tangan rusak itu, kan?” Ayah membelai rambut yang hitam legam dan nampak indah itu. Aku meneguk ludah. Sangat mengagumkan. Aya benar-benar menaggumkan. Aku cukup terkesan dengan adik ku yang penuh dengan pemahaman yang baik disekitarnya. Membuat aku menggeleng-geleng tak percaya. Aku bangga mempunyai adik sepertinya.
Aya, bagaimana bisa kau bilang—kau ingin melampaui ku?. Bagaimana bisa?. Bukankah kau sudah melebihi ku?. Melebihi pemahaman yang aku ketahui.

***

Sekarang umurku tiga puluh dua tahun. Nampak lebih tua dua puluh tahun dari massa-masa itu. Sekarang aku hanya menatap dengan penuh senyuman pemandangan Jakarta. Mengeluarkan jam tangan yang rusak di saku kemeja. Tersenyum terus tiada henti-hentinya seperti seseorang yang sedang dirundung berjuta cinta, tiada henti mengingat seseorang yang belum tentu mengingat kita. Hania menyentuh lengan ku lembut. Aku menoleh. Wajahnya yang menyenangkan tersenyum kepada ku.
“Kau masih menyimpan jam tangan itu?” Hania bertanya dengan wajah yang benar-benar tidak percaya. Dia tahu persis legenda si jam tangan yang rusak ini. Aku mengangguk. Dia hanya diam dan mengangguk, tidak kembali bertanya hal-hal lain. Dia membiarkan ku menatap penuh kerinduan jalanan. Menatap rindu kenangan-kengan getir di jalanan depan mata yang menjadi saksi kehidupan seseorang. Aku kembali terhnayut dalam kenangan-kenangan yang sangat panjang itu. Bahkan kenangan itu tak sedikit pun ku lupakan. Pun kenangan pahit yang menyelimuti kalbu.

***

“KAKAK!” ada yang memanggil ku dari belakang. Aku mengernyitkan dahi—menoleh. Aya?. Suaranya begitu terdengar sedih. Seperti sedang menangis.
“Kakak!!” aku mengernyitkan dahi. Di lorong kelas ini—aku melihat seorang anak berumur sembilan tahun berlari-lari memanggil ku kakak sambil mengusap-usap wajahnya yang basah karena air mata. Aya?.
“Kakak—“ Aya  menghentikan langkahnya di depan ku. Menyodorkan selembar kertas ulangan.
Aku mengernyitkan dahi. Perlahan mengambil kertas itu dari tangan Aya. Awalnya aku tidak mengerti sama sekali maksud Aya menyodorkan kertas ini. Lamat-lamat aku melihat Aya yang masih mengusap wajah dan terisak. Aku tertawa.
“Cengeng sekali” aku mengusap-usap rambut hitam legam itu. “Ayah dan Ibu pasti sangat senang melihat nilai mu, Aya. Aya si anak jenius!” aku menepuk nepuk lengannya yang guntai. Ia tertawa lebar mendengar pujianku. Aku menyengir lebar menatap wajahnya yang penuh dengan rasa bangga pada sesuatu yang aku tidak tahu.
Aku celingukkan menatap sekitar. Menyuruh Aya segera masuk ke kelas. Guru akan curiga jika melihat Aya menangis di hadapan ku—akan ada banyak cerita-cerita aneh nantinya. Aya tertawa dan menganggukkan kepala. Dia selalu saja menjadi adik yang benar-benar baik.
Berlari ke lorong kelas seperti itu dan berlinangkan air mata bisa membuat guru-guru dan murid heboh. Bahkan bisa dengan cepat terdenegar di kuping Ayah dan Ibu. Aku menggusahnya. Mulutnya sedikit manyun. Ia berlari kembali dengan riangnya ke kelasnya. Aku mengelus dada dan pergi menuju kelas ku.
Apa nilai iatu cukup berarti baginya?. Bukanya ia selalu mendapat nilai seperti itu?. Kenapa harus menangis dan berlarian seperti itu?. Aku sedikit menoleh kembali ke arah lorong menuju kelas Aya. Aku sungguh tak paham saat itu.
Sesampai di kelas Pak Arif melihat ku dengan tatapan aneh dengan kaca matanya. Sedikit menyelidik. “Kau habis buang air atau ketemu anak perempuan di kelas sebelah, Yard?” Pak Arif menyelidik kembali. Seisi kelas tertawa berbahak-bahak, bahkan Darwis mensuilkan suaranya—membuat kelas makin gaduh. Aku menggelengkan kepala mengelak. Dia adik ku, bukan kelas enam sebelah.
Pak Arif memukul papan tulis dengan penggaris besarnya. Kelas mulai terkendali. Darwis masih menatap ku dengan penuh ejekan. Aku melototinya dengan penuh pelampiasan.
“Sudahlah, kau duduk Riyard” Pak Arif mempersilahkan ku.
Darwis teman ku satu ayunan, satu mainan, satu TPA, satu TK, satu daerah, satu guru, satu SD—entah akan terus bersama atau tidak. Dia lelaki yang benar-benar penuh dengan kesetiaan kawan. Buruknya, dia lelaki yang susah untuk diajak berdiskusi dan berkompromi sedikit. Keras kepala dan berambisi. Bahkan baru dua belas tahun kami berteman, sudah beratus kali kami berselisih karena keras kepala yang dimilikinya. Hasilnya, akulah yang selalu mengalah dalam hal ini.
Darwis mempunyai tubuh yang cukup tinggi dan berbeda dengan kami yang ceking dan tidak berisi. Darwis mempunyai tubuh yang berisi dan terlihat kuat. Badannya atletis. Bagaimana tidak, hobi dan cita-citanya dibidang olahraga semua. Bermain bola?—jangan tanya, dialah kapten dari kapten di keluraha kami. Dia bak seorang pelatih saat ia memimpin diskusi. Sampai waktu ketika saat berada di final melawan sekolah tetangga, Pak Arif sama sekali tidak memberikan pelatih untuk regu bola sekolah kami. Kami hampir saja bersi tegang dengan Pak Arif,, tapi beliau mempercayakan semua pada sang kapten—Darwis. Aku yang sangat mengenal Darwis tanpa sedikitpun basa-basi langsung saja setuju. Darwis yang masih tidak percaya diri hanya menatap kosong wajah ku sambil mengernyitkan dahi. Aku mengangkat bahu.
Tiga puluh menit pertandingan, kami dalam posisi benar-benar tidak mengerti harus bagaimana. Darwis hanya menggigit bibir sambil terus berfikir, bahkan bola yang digiringnya mudah saja direbut oleh lawan. Aku beberapa kali meneriakinya untuk berkonsentrasi. Ini babak penentuan. Babak yang selalu ditunggu-tunggu. Kenapa Darwis berfikir begitu keras?—bukanya mudah sekali, tinggal bermain seperti biasa kita bermain. Aku menepuk-nepuk punggungnya. Semangat. Pak Arif meminta waktu. Kami berlari gontai kearah Pak Arif.
“Kau kenapa, Darwis?” Pak Arif bertolak pinggang dan mengernyitkan dahinya. Darwis menunduk dalam-dalam.
“Terlalu berat, Pak” Darwis menundukan kepalanya kembali. Aku bisa melihatnya sedan gmenggigit bibir menahan rasa berat yang ia katakan.
“Berat?” semua teman-teman saling menatap—mereka tidak mengerti.
“Dua amanat langsung kau taruh di pundak kau begitu berat?. Kau ini bahkan lebih hebat dari ku, Nak. Kau Darwis Pamungkas!. Lakukan semuanya seperti biasa. Bermainlah seperti yang selalu kau lakukan. Jangan fikirkan dua amanat yang ada di pundak kau itu” Pak Arif menggenggam pundak Darwis. Aku dengan sadar atau tidak—entahlah. Aku menggenggap pundaknya juga. Semua teman mengikuti ku. Darwis mengangkat kepalanya dan tersenyum.
“SEMANGAT!!!” kami berteriak lantang dan kembali ke lapangan.
Babak pertama berakhir. Kami belum mencetak angka sama sekali. Darwis suddah kembali seperti semula—lawan kami memang lebih kuat. Skor sementara 1 – 0. Waktu istirahat, Pak Arif benar-benar tak ingin ikut campur lagi. Darwis yang mengendalikan semuanya. Rencana-rencananya ia keluarkan dengan semangat. Saat ini aku tidak melihat Darwis yang keras kepala. Ini sungguh sangat berbeda. Berkali-kali aku terpesona melihat tingkahnya yang seperti pelatih international itu. Berkali-kali aku bengong menatap sahabat terbaik ku itu.
“Kawan—“ Darwis mengagetkan ku.
“Kau tidak akan jatuh cinta pada ku, kan?” aku melemparnya dengan handuk bau. Semua tertawa terbahak-bahak.
Babak kedua dimulai. Menit ke lima belas, kami dapat menyaamai kedudukan. Lawan semakin memperketat pertahanan. Macan regu kami, Darwis Pamungkas menggeraung keras. Membuat kami makin bersemangat membara. Menit ke dua puluh lima, kami menaiki kedudukan dengan skor 3 – 1. Darwis tersenyum lebar. Selanjutnya, macan lawan makin menggeraung keras kembali. Dua macan ini saling menggocek, direbut Darwis, direbut kembali lawan, direbut lagi. Berputar. Berlari tiada henti. Direbut kembali. Berputar. Ada duel di lapangan. Perlawanan makin sengit. Aku menelan ludah saat kedudukan mmulai imbang kembali—macan lawan membobol gawang kami. Usup yang setia dengan gawangnya, berkali-kali berteria—kecewa. Darwis menepuk-nepuk punggungnya dengan wajah penuh penghargaan, membuat aku tersenyum lebar. Inilah kawan ku, Darwis Pamungkas. Waktu hampir usai. Wajah Darwis terlihat lebih tegas dan dewasa. Aku menelan ludah.
Lima menit berjalan kembali, waktu tinggal  delapan puluh menit. Aku menggiring bola dan mengopernya menuju Gugun si straiker. Dia menerima operan ku dengan ulus tiada hambatan. Sang kapten berlari menuju kotak pinalti. Mata kapten yang jeli dan Gugun sedang berbicara—mereka bicara lewat tatapan. Sepuluh detik saja pembicaraan isyarat itu selesai. Kapten berlari kearah gawang, membuat semua musuh mengelilinginya. Membuatnya terhalang-halang. Aku mencoba berlari kearahnya. Mata itu bergerak ke arah ku. Darwis menyuruh ku menyingkir dan pergi ke tepat tengah-tengah kotak pinalti. Aku mennurut begitu saja.
BUK—
SUIING—
Bola dioper pada ku. Aku diam sesaat. Aku menatap ke arah Darwis yang meyakinkan ku lewat tatapannya. Baiklah, aku akan tendang menuju gawang. Banyak lawan menyerbu ke arah ku, hanya ada dua orang di daerah gawang—kipper dan satu lawan. Dia terlihat bingung melihat semua temannya menuju ke arah ku dan mencoba untuk tetap bertahan. Aku menelan ludah. Peluh rasanya benar-benar membuat berjuta rasa haus—haus akan kemenagan. Aku menarik nafas dalam-dalam. Waktu benar-benar berhenti. Aku memulai mengangkat kaki kiri ku. Itu perintah dari sang kapten.
“Nanti saat aku suruh kau menendang. Kau harus tendang dengan kaki kiri mu, kawan!” dia memerintahkan itu tadi. Aku mengingatnya di otak ku.
Kaki rasanya benar-benar berat.  Aku mulai membaca dengan nama-Nya.
BUK—
Bola melayang tak kontras. Tidak tinggi dan tidak rendah. Bola itu mengarah ke kanan—di sana ada satu lawan yang berjaga dekat gawang. Tapi bola itu benar-benar hebat. Bola itu memutar dengan gesitnya. Ia melesat cepat ke arah gawang melewati satu lawan yang berteriak kesal. Dan—
“GOOOOOOOOOOOOOOL”
Semua sorakan ramai memenuhi lapangan. Darwis berlarian senang memelukku tanda penghargaan. Semua lawan menundukkan kepala. Usup tampak lebih berseri-seri. Membuat semua bergembira. Aku hanya menatap gawang dengan senyuman—mematung. Darwis memukul pundak ku. Membisikkan kata-kata penghargaan. Waktu tinggal satu menit lagi. Bola kembali ditendang. Darwis mencoba untuk tidak memberikannya sama sekali ke kaki-kaki lawan. Sengaja benar wajahnya meledek. Lima puluh detik berlalu. Bola masih berada di kaki-kaki kami. Lima puluh lima detik berlalu, bola sama sekali tak dicapai oleh lawan. Mereka malah berlarian guntai, merasa sudah benar-benar berakhir. Lima puluh sembilan detik berlalu. Dan—

***

“Kau bilang apa?. Aya menangis di depan kau karena ia dapat nilai matematika, seratus?” Darwis melototkan mata. Aku mengangguk membenarkan.
Kami sedang berjalan di rel kereta api pulang ke rumah.
Dia berdecak. “Kenapa, kau?” aku menoleh tersinggung.
“Kau buat adik kau menangis, kawan. Jangan buat ia menangis, atau kau aku buat jadi kerak telor!” dia menunjuk ku dengan wajah yang setengah meledek, setengah mengancam. Aku mengedipkan mataku.
“Jam tangan itu, masih ada padanya?. Seberguna itu kah, jam tangan rusak itu?” dia menatap langit yang membiru cantik. Aku makin melotot dibuatnya. Sejak kapan dia menjadi pujangga dengan pertanyaan sok  seperti itu?. Aku ikut-ikutan menatap ke arah langit yang memang cerah.
“Adik mu itu hebat ya, lebih hebat dari kau, kawan. Cantik pula” aku berhenti sejenak untuk merapikan tali sepatu ku. Suara dan kalimat Darwis tadi hanya terdengar sekelibat saja. aku ber-hah?.
“Tidak—“ dia menjawab singkat. “Ngomong-ngomong, apa jam tangan itu bisa menjawab. Apa aku bisa menjadi pemain bola international?”


















KRAYON


Aku menggaruk kepala ku yang benar-benar gatal. Tidak tertahankan gatalnya, membuat aku sendiri menjadi menjijikan. Darwis mengelap peluh yang membasahi keningnya. Matahari benar-benar galak kali ini. Darwis menepuk pundak Syahril.
“Kawan, bukankah neraka lebih panas dari pada matahari?” aku menoleh pada Darwis. Ada apa dengannya?. Syahril mengernyitkan dahinya. Mengangguk. Wajahnya benar-benar terlihat kepanasan. Darwis terlihat menelan ludahnya. Lalu menegakkan tubuhnya.
“Kalau begitu, ini panas tidak ada apa-apanya. Aku ini kan Darwis Pamungkas” dia menepak-nepak dadanya—tanda penuh kebanggaan. Aku menelan ludah.
Tepa saja ini panas yang menyengat di dunia ini. Aku masih setia dengan garukan kepala ku. Darwis tersenyum lebar dalam sesaat dan kembali membungkukkan badan dalam sesaat pula. Syahril menahan tawanya.
Kami berada di rel kereta api yang setia kami lewati untuk sampai ke rumah kami masing-masing. Kami ber-tiga. Aku, Darwis, Syahril—memilih jalan ini untuk lebih menghemat uang kami, dari pada kami harus naik angkot yang menarik uang sesribu. Seribu rupiah ini lebih berguna untuk membeli gundu atau layangan—tentu saja untuk seumuran kami. Syahril duduk di atas rel kereta, memilih untuk beristirahat sejenak. Darwis melihat Syahril yang duduk dengan menghela nafas. Aku tanpa basa-basi langsung duduk pula, ide bagus. Ibu tidak mungkin marah dengan ketelatan dpulang ke rumah di saat pana yang seperti ini, bukan?. Darwis menatap ku dan Syahril.
“Baiklah, istirahat. Kasihan juga aku dengan kaki-kaki pintar ku ini” dia memijat-mijat kakinya yang terlihat sedikit berotot.
“Ada lomba mewarnai. Tapi kenapa semua anak harus ikut, ya?” Aku memulai pembicaraan sambil membongkar tas, berharap ada sisa air minum.
Darwis menggeleng. “Aku tidak akan ikut” singkatnya.
Syahril menoleh. Raut wajahnya bertanya, kenapa?.
“Kau kan tahu, aku paling tidak suka mewarnai. Itu hobi anak perempuan” Darwis menggeleng keras untuk hal ini. Kami memaksanya untuk ikut—itu sama saja kami membunuh persahabatan kami sendiri. Dia akan mengomel seperti anak perempuan dan tidak akan mendekati kami lagi, selama ia masih mengingat-ingat pemaksaan yang kami lakukan. Artinya, Darwis akan membolos sekolah dan pergi mengamen di jalanan kota lagi. Padahal dari awal aku tidak menyukai tindakan bolosnya itu. Itu membuang-buang waktu.
“Tapi pastikan, kau tidak bolos dengan mengamen lagi. Kau tidak mau membuat Cik Garga mengamuk lagi kan?” aku menepuk pundaknya dan menawari air minuman di tangan. Ia menangambil air minum ku, tapi tidak setuju dengan nasehat ku. Syahril yang berhadapan dengan Darwis ingin menasehatinya juga. Baru sja membuka mulut, Darwis berkata tidak dengan jari telunjuknya. Syahril merebut minum dan melotot pada Darwis.
Aku tidak bisa memaksakan apa yang aku katakan pada Darwis. Ia selalu keras kepala, jika itu maunya, maka tidak ada yang bisa mengubahnya—tak terkecuali Bapaknya. Baiknya, keinginan Darwis masih diambang batas. Tidak terlalu buruk. Hanya boloslah, ide buruknya. Tapi apa slahnya laki-laki mewarnai?. Bukankah, bayak sekali seiman laki-laki?. Aku berdiri menggendong tas, mengajak mereka cepat-cepat pulang.
Rumah terlihat sepi. Aya sepertinya sudah berangkat ke sekolah. Hari ini, ia masuk siang. Aku masuk pagi. Biasanya kami juga satu jadwal.
Aku meletakkan tas di atas kasur. Buru-buru ke dapur meraih gelas air minum. Haus benar-benar menjarahi tubuh. Aku duduk sejenak di meja makan kecil ini. mengintip isi tudung nasi. Tidak apa-apa. Biasanya Ibu sudah menyiapkan nasi dengan telur atau apapun yang bisa dimakan, akan marah besar jika kami tidak melahapnya dan menghabiskannya. Aku celingukkan, perut ku terasa lapar karena sebuah kebiasaan.
“Riyard! Kau sudah pulang, Nak?” ada seseorang yang memanggil dari depan rumah.
Wanita setengah baya itu terlihat tergopoh-gopoh dan pucat. “Aya. aya di rumah sakit, Yard. Segeralah kau ke sana. Biar diantarkan sama Tulang Dodo yang antar kau ke rumh sakit!” wanita itu menarik-narik tangan ku. Aku benar-benar sempurna kaku sekujr tubuh. Kalimat pertama Tante Rang membuat dunia terasa berhenti. Sekujur tubuh ku terasa dingin. Jantung berdegub tiada berarah. Ada sesuatu yang terasa menusuk.
Tante Rang menggoyangkan tubuh ku. Wajahnya terlihat benar-benar khawatir.
Motor besar itu menggeraung. Tulang Dodo menancap gas tepat saat aku benar-benar duduk dan berpegangan kencang dengannya. Dia akan mengebut kali ini. aku bahkan memeluknya. Berharap motor ini sampai dalam waktu sedetik. Tapi rasanya, waktu benar-benar berjalan sangat lambat. Fikiran ku ngelantur tak berarah. Bagaimana keadaannya. Bagaimana keadaan saudara ku yang paling pintar. Bagaimana wajahnya sekarang?. Apakah rambutnya kusut?—rambut sepundak yang hitam legam itu?. Aku semakin kencang memeluk Tulang Dodo.
Aku tidak pernah suka rumah sakit. Kenapa namanya harus rumah sakit?. Seharusnya mereka menamakannya dengan nama ‘Rumah Sehat’, agar orang-orang mudah tersugesti, bukan?. Kalau ‘Rumah Sakit’, tentunya tetap saja sakit. Judulnya, tidak membuat orang menjadi semangat. Aku melangkah gontai di belakan Tulang Dodo. Tulang Dodo menarik tangna ku—cepat.
Aku tidak pernah suka rumah sakit. Bau ruangan dan obat-obatannya membuat ku merasa pusing. Tulang Dodo kencang sekali menarik tanganku. Aku mencoba untuk menyeimbangkan jalanku di sampingnya, agar tangannya tidak menggerat-gerat di tangan ku. Tulang Dodo berhenti di sebuah kamar. Aku menelan ludah. Tulang menatap ku dengan penuh wajah menenangkan.
Ayah, Ibu menoleh ke arah kami yang baru saja membuaka pintu kamar ini. aku menelan ludah, mencoba menguatkan diri saat melihat ranjang itu. Ranjang yang di tiduri oleh seorang anak umur sembilan tahun.

***


Hah, gimana ya, Kak?. Aya ingin ikut lomba mewarnai itu. Sayang sekali kan, kalau krayon ini tak dipakai disaat-saat bagus seperti itu” Aya terus saja menggurat-gurat tangannya di atas krayon yang aku berikan padanya. Aku ikut menatap kraon yang ada di tangan kanannya.
“Lain kali saja, Aya” aku mengambil segelas air untuknya. Aya memonyongkan bibirnya.
Di ruangan ini tidak ada Ayah ataupun Ibu. Ayah melanjutkan pekerjaanya, Ibu mengambil beberapa baju ganti dan makanan untuk ku dan Aya. Aya sepanjang malam mengeluh, makanan rumah sakit benar-benar tidak enak. Tidak membangkitkan gairah untuk sembuh. Bahkan tidak ingin makan. Dokter akhirnya menyerah dengan amukan dari Aya. Akhirnya dokter mengatakan makanan apa saja yang tidak boleh dimakannya saat ini. Ibu mengangguk-angguk.
“Tapi bisa kan, pake kursi roda ke sekolah” Aya tidak menerima air yang ku berikan. Aku menearik nafas.
“Berdo’a saja” aku menyodorkan segelas air itu. Aya menoleh, menatap wajah ku penuh kesal. Akhirnya dia mau meminum airnya. Krayon pemberian ku itu di taruhnya di samping tubuhnya. Setelah minum, krayonnya tetap ia genggam.
Akulah yang memberikan krayon itu. Itu hasil tabungan yang aku simpan. Aku senang melihat Aya tiada hentinya menggambar dengan krayon lama yang ia punya. Krayonnya sudah kecil, hitam, tidak pantas lagi untuk dipakai mewarnai. Akhirnya aku berinisiatif untuk membelikannya dengan uang ku.

Tidak ada komentar: