Daun

Kamis, 11 Juli 2013

Puisi ( Melampauinya )

Apa aku akan berhenti sekarang?
Apa sebenarnya yang aku lakukan?
Termangu diam menatap segalanya berubah?
Membisu menatap kenestapaan di hadapan?

Bagaimana bisa aku diam seperti ini?
Luka kecil apa yang sebenarnya menghantam tembok besar di sini?
Kenapa aku hanya menatapa kosong sekitar?
Bahkan seeokor burung hinggap di kepala tak ku gubris

Aku harus kibaskan beribu dilema tak jelas
Aku harus hentikan beribu ke tidak pastian merugikan ini
Kenapa aku hanya terdiam?
Ayah, sungguh aku tidak paham

Aku terluka dengan apa--aku sama sekali tak tahu
Tapi kau bilang,
Aku pasti bisa melampauinya?
Bahkan aku bingung dengan tembok yang hancur itu
Bagaimana aku bisa melampauinya?
Saat tembok itu berdiri tegap
Sungguh, aku bisa dan mampu melampauinya
Tapi kenapa?
Tembok itu hancur dan aku hanya menatap kosong tembok itu
Tembok hancur itu bagai luka
Luka itu membuat ku tak paham, Ayah

Aku harus bangkit
Lihat.
Aku hanya terdiam kosong
Aku harus berdiri
Aku harus melampaui tembok besar itu
Aku harus
Harus melampauinya

Aku seorang laki-laki yang melihat dunia yang tegap
Mencoba melampauinya
Tapi saat dunia itu hancur lebur
Aku dijadikan bingung olehnya

Aku akan melampauinya, Ayah
Meski jantung rasanya sudah tak kan berfungsi
Meski paru-paru rasanya sudah tak mengizinkan
Aku lampaui tembok hancur itu
Pasti, seperti janji ku
Janji seorang pria sejati

#Melampauinya

Tidak ada komentar: