Daun

Selasa, 16 Juli 2013

Rahasia Kecil Yang Terlupakan

Ada yang pergi dan ada yang datang. Begitu lmrah diajaran tahun yang baru, bukan?. Sangat lumrah. Selamat datang adik-adik. Selamat datang di sekolah kami yang begitu sederhana. Bisa jadi sangat sederhana. Tidak, kami begitu paham dengan kemungkinan kesan pertama kalian atas sekolah kami ini. Ya, beginilah kondisinya. Tidak dapat dibohongi.
Kami ingin pasang wajah yang paling menyenangkan milik kami. Berharap besar kalian akan merasa nyaman. Aku kakak kelas kalian, kakak yang masih memilki banyak kekurangan. Melihat kalian yang sudahh lemas menatap saya yang berbicara di depan karena dalam keadaan puasa, itulah yang membuat saya terus ter-cas. spirit terus terisi dan bersemangat agar kalian benar-benar merasa nyaman. Jika kalian seseorang yang sudah merasakan MOPD, saya yakin, wajah kalian akan ditekuk ketika melihat kami.
Sebelum ku merasa yakin, kalian malah memasang wajah itu lebih dulu.Saat saya tanya kesan saat masuk sekolah kami yang sederhana ini, kalian hanya menggelengkan kepala. Tidak tahu, kak. Ya Tuhan, bagaimana kau bisa tidak tahu, adik-adik ku?. Saya tidak akan pernah marah akan hal yang kalian keluarkan tentang kesan pertama saat melihat sekolah sederhana ini. Tapi kalian tidak tahu. Ya. Tidak tahu harus berkata apa. Seperti saat kami pertama kali diberitahukan akan pindah tempat. Tidak tahu harus berkata apa. Tapi lama kelamaan kami mengeluh. Jauh. Gak ada kendaraan umum yang dapat masuk seenaknya kesana. Kami keluarkan semuanya. Tapi apa kalian tahu?, kami bungkam. Bungkam begitu saja saat akan melaksanakan kegiatan ini. Guru-guru kami, panutan kami terlihat sangat terpayah-payah. Entah apa mereka hanya memikirkan bagaimana nanti kami dan adik-adik kami. Saya tidak tahu. Tapi mereka benar-benar terlihat sibuk. Sibuk banyak di tempat ini. Aku menelan ludah saat melihat salah satu panutan yang sangat aku senangi memakai kaos terbasah-basah penuh peluh dan memakai tiga koyo di kepalanya. Membuat kami yagn tadinya malas-malasan langsung terperangah. Merasa benar-benar bodoh. Kenapa begitu mudah rasa malas memasuki kalbu?. Beliau bukan hanya guru pengajar di sini. Beliau banyak mengajar di tempat lain. Bahkan menjadi ketua RT. Beliau benar-benar merasa penat. Tapi kenapa kami merasa lebih penat dan merasa lelah?.
Ya Tuhan, berkahi mereka dengan beribu rahmat mu.
Ini membosankan, adik-adik. Ini membosankan.
Adik-adik, bisakah kalian merasakan hal yang sama seperti kami?. Kalau bukan kalian yang berdiri sekarang membantu seluruh panutan kita membangun sekolah ini. Maka sekolah ini tidak akan pernah terbangun lagi. Kemungkinan teburuk. 2020 tidak ada lagi sekolah ini.
Jika kalian meresa malu bersekolah di sekolah ini. Dengarkan satu saja rahasia yang lumrah, rahasia yang kecil. Tapi, sungguh. Rahasia lumrah ini banyak sekali yang dilupakan.
Inilah rahasia kecil dan lumrah yang terlupakan.
Tersenyumlah, karena kita bersekolah yang bisa jadi tidak terkenal sama sekali. Bahkan tetangga sebelah bisa jadi tidak tahu. Sebab masih ada yang bingung ingin sekolah atau tidak, karena harus menjadi tulang punggung keluarga mencari sesuap nasi yang bahkan hanya bisa digapai dalam waktu dua hari. Tersenyumlah, karena kita hanya bisa bersekolah di tmpat yang bisa jadi akan ambruk sebentar lagi. Sebab, masih ada di luar sana yang tidak memiliki kesempatan untuk mengennyam pendidikan karena keterbatasan diri. Tersenyumlah, karena kita hanya bersaekolah di tempat yang bisa jadi sangat minim jumlah anaknya. Sebab, masih banyak anak di luar sana yang tidak memiliki kesempatan untuk menyapa teman sebaya karena sibuk dengan aisan untuk sesuap nasi di mulut.
Adik, bannyak sekali "Tersenyumlah, sebab" yang lain, yang bisa dikeluarkan. Tapi, ini saja sudah cukup membuat air mata berlinang bagi saya.
Rahasia kecil anak-anak di luar sana adalah tersenyum dan tetap bersyukur apa pun yang kita punya. Sungguh, bahkan mereka yang lebih paham arti kalimat itu dibanding kita yagn sibuk mengeluh ini itu. Mereka pula terkadang tidak sadar, bahwa mereka tersenyum lepas dan tetap merasa bahagia.
Saya terlalu iri dengan mereka. Semoga rahasia kecil ini bisa membuat kita tetap mensyukuri segala hal yang ada di depan mata kita.
Adik-adik, terimakasih karena ingin bersekolah di sekolah kami. Terimakasih.

Tidak ada komentar: