Daun

Senin, 08 Juli 2013

Rembulan untuk Kinnai



Menatap Rembulan





Rembulan nampak cembung di sisi kiri rumah ini. Membalut sempurna gelapnya malam dengan tatapan meredupnya. Bahkan di pojokan jalan. Tempat dimana tak ada seorang pun yang ingin menoleh. Di pojok jalan ini terduduk lelaki tua yang menatap rembulan takjim dengan beribu rasa lelah di pundaknya. Beralaskan koran dan pakaian yang bahkan hanya dicuci seminggu sekali membalut tubuhnya. Lelaki tua ini dengan penuh rasa lelah menatap rembulan, mengadu pada Sang Penciptanya. Begitu lelahkah kehidupan ini Tuhan? Atau hanya aku sang tua renta ini saja yang merasakannya?.
Bahkan di sudut simpangan jalan ini seorang lelaki yang tampan nan jelita sedang mengucak-ucak rambut palsunya. Mengusap wajah, menatap ke atas awan yang tampak kebiruan. Menghela nafas tak henti-henti. Menatap rembulan dan bernafas panjang lagi. Malam ini bgitu panjang untuk lelaki tampan nan jelita itu. Menatap ketidak puasan hatinya. Merasa tak ada lagi yang dapat ia lakukan selain hal ini. Mengalurkan tangan. Menatap genit pria-pria tak berpendidikan hanya untuk mengenyangkan perut semata. Malam ini, lelaki tampan nan jelita itu berkali-kali mengadu pada Sang Pencipta sambil menatap rembulan dengan sangat sendu dan khawtirnya.
Di tengah kesedihan semua ini, duduk seorang anak kecil yang mengayunkan ayunannya dimalam yang begitu mendayu sambil menatap indahnya rembulan. Tersenyum, bernanyi riang. Malam ini begitu sederhana baginya. Malam ini rembulan indah dan ia hanya ingin berayun dan bernyanyi menatap rembulan. Tak ada keluhan. Tak ada pertanyaan yang membuat semuanya terasa sesak. Malam ini, anak kecil berambut hitam legam ini meyakinkan rembulan. Dia bukanlah tempat untuk terus ditatapi dengan tatapan lelah dan rasa akit yang terasa menusuk bagian-bagian tubuh. Malam ini, gadis kecil dengan pipi tembamnya itu berayun riang membisikan kata-kata indah pada rembulan.
“Rembulan, kau sangat cantik”
“Aku memang tak pernah pintar untuk bercerita sepertinya, benarkan?” aku menatap lirih semua pemandangan ini. Berbicara sendiri.
Mengusap wajah. Di sisi rumah ini, anak perempuan ini tidak sedang berayun menatap rembulan. Ia sedang menatap lurus ke arah depan tanpa mengayun ayunannya. Tanpa menggoyangkan kakinya. Anak perempuan ini bahkan tak sedang menatap indah rembulan. Ia bertanya-tanya. Pertanyaan yang menyesakkan hidup seperti lelaki tua renta itu dan lelaki tampan nan jelita itu. Pertanyaan yang sama menyesakan.
Aku menyentuh lembut lengan kiri anak perempuan sembilan tahun itu. Mengusapnya. Memberi sentuhan yang menyenangkan. Anak itu tetap menatap kosong jalan di depannya.
“Waktunya tidur Kinnai,” aku membantunya berdiri dari ayunan. Yang ku bantu hanya menerima dan tak berkomentar apa-apa. Ya, selalu saja seperti ini. Bagai patung. Wajah ceria nan lucu menggemaskannya menghilang begitu saja.
Aku menghela nafas panjang. Rambutnya yang tumbuh dan terus panjang sama sekali tak ingin ia potong.
Pernah, saat ia tidur aku potong perlahan ujung rambutnya agar rambutnya tidak menjadi rusak. Tapi ia terbangun dan mengamuk semalan tanpa henti. Mendorongku keras ke arah tembok. Melempar guntingnya. Lalu tangis pecah di kelopak matanya.
Aku tidak pernah melihat tangisan itu sebelumnya. Tidak pernah.
Aku membantu Kinai tiduran di atas ranjang yang sangat manis dengan nuansa biru yang membalut seluruh kamarnya. Aku menelan ludah.
“Kinnai, apa kau mau ku bacakan ceerita?” aku bertanya. Mengambil satu buku cantik berwarna pink  di rak buku. Ia hanya menggeleng. Menatap kosong segalanya yang ada di depannya. Aku tersenyum, mengangguk.
Aku meninggalkan tempat tidur itu dan tersenyum pergi keluar kamar itu. Entah apa sebenarnya yang ia pikirkan. Dia depresi?. Entahlah. Dia hanya marah jika rambutnya didekat-dekati dengan gunting rambut. Selain dari pada itu, ia tak pernah marah. Hanya menatap kosong segala yang ada di rumah ini.
“Apa ia sudah tidur?” Fahri mengagetkan ku di depan pintu kamar Kinnai. Aku mengangguk.
“Ya Tuhan, apa yang harus lakukan, katakan? Anak itu hanya menatap kosong rembulannya.” Fahri mengusap wajahnya.
Satu tahun sudah Fahri tak pernah berbicara dengan anaknya. Ia selalu merasa bersalah atas segalanya. Lelaki yang tampan dan perawakannya yang menyenangkan ini membuat ribuan wanita terpesona padanya. Tak terkecuali aku. Wanita yang beda dua belas tahun darinya. Begitu jauh bukan?. Fahri adalah kakak panti yang dulu selalu bercerita di panti yang aku tempati. Ia memang bukan siapa-siapa di panti. Tapi ia sungguh kakak  yang benar-benar baik untuk panti. Bahkan ibu panti sangat menyayanginya. Aku berada di panti sejak kecil. Saat aku  sepuluh tahun dan lelaki itu berumur dua puluh dua tahun. Ia mengajar di panti dua tahun sebelum aku berada di panti.
Aku ingin memutar waktu rasanya. Tapi bukan untuk sekarang.
Fahri mengusap wajahnya. Berkali-kali gugup menatap minumannya. Ia sungguh masih mengingat sekali kejadian satu tahun yang lalu. Ketika semua membuat anak kesayangannya ini memulai harinya tanpa tersenyum lagi.

***

“Bunda, nanti kalau sudah di bandara, telpon Kinnai ya, Bunda” Kinnai memeluk erat tubuh Bundanya, Rinnai. Aku tersenyum senang melihat anak itu telah menerima kepergian Bunda dan Ayahnya untuk berlibur.
Sebelumnya, Kinnai mengamuk memaksa ingn ikut. Padahal ia masih harus menikuti ulangan di sekolahnya. Ia sampai mogok makan seharian karena tidak diperkenankan ikut oleh sang Bunda.
“Bunda gak mau kamu ikut karena ada ulangan sayang. Lagi pula ini bukan liburan sungguhan. Bunda harus bekerja juga, kan?” Rinnai mengusap rrambut hitam legam itu dengan lembut. Yang  di tegur sibuk meenggerung, merajuk.
“Nanti Ayah belikan oleh-oleh yang buaanyak” Fahri memeluk anak kesayangannya. Aku hanya menelan ludah pemandangan ini. Sedikit menyakitkan untuk sisi hatiku yang lain.
“Mas, aku saja yang pergi. Kau tetap di sini” Rinnai menyampaikan sedikit pedapat pada suaminya, Fahri. Fahri menggeleng.
“Sayang, ini pekerjaan ku. Biar aku yang pergi, ya?” Rinnai menyentuh tangan suaminya lembut. Fahri tetep menggeleng.
“Tidak, kau tidak akan pergi sendiri ke tempat yang bahkan tidak pernah kau injak, Rinnai” Faahri menggeleng keras. Rinnai tentulah istri yang sangat baik dan Fahri adalah suami yang sangat baik. Kinnai-pun adalah anak yang sangat baik. Keluarga ini benar-benarlah baik.
Aku tersenyum menatap Rinnai.
“Biarkan Kinnai bersama ku. Dia akan baik-baik saja. Lagi pula hanya seminggu, kan?” aku berkata sambil menatap Kinnai yang masih menekuk kakinya.
“Kinnai, Kak Liana mungkin jahat bicara seperti ini. Tapi kalau kamu gak biarin Bunda dan Ayah pergi, nanti siapa yang akan membelikan kamu boneka bear kesukaan kamu” aku mengatkannya dengan mantap. Biasanya hal ini, bisa membuat anak kecil yang merajuk seperti ini sedikit sadar.
Kinnai menghapus air matanya. Bertanya lewat tatapan matanya. Aku mengangguk mantap. Yang menangis tersenyum sempurna, membuat lesung pipinya terlihat begitu menggemaskan.
Fahri tertawa. Rinnai tersenyum kepada ku.
“Kau selalu menjadi bagian dari keluarga kami, Liana. Kau begitu baik” Rinnai memeluk ku. Aku hanya tersenyum.
Bagaimanalah bisa, hal kecil ini dikatakan sangat baik. Toh, merekalah yang sangat baik pada ku. Menanggung hidup ku. Menerima ku. Bahkan Rinnai tak keberatan aku tinggal dengan mereka berdua. Padahal mereka baru menikah. Walau awalnya itu juga paksaan dari Fahri kepada ku, agar aku mau tinggal bersama mereka berdua.
Aku menggeleng. Kinnai menarik baju ku. Menatap ku dengan tatapan yang sangat serius.
“Kak Liana” ia masih menatap ku dengan tatapan yang sangat manis.
“hem” aku tersenyum lembut.
“Aku saayang kakak!” tiba-tiba Kinnai memelukku keras. Membuat tubuh ku sedikit sakit. Fahri dan Rinnai tertawa.
Hari ini mereka berdua berangkat. Kinnai berkali-kali memeluk Bundanya. Menciumnya lagi. Yang dicium sibuk mengusap kelopak matanya yang basah. Entah kenapa, ia akan begitu merindukan putrinya.
“Bunda! Pokoknya jangan lupa! Boneka bearnya!!” Kinnai berlari kencang saat mobil Bundanya melesat meninggalkan rumah.
Entah bagaimana. Tiba-tiba Kinnai menangis. Mungkin baru kali ini ia ditinggal oleh Bundanya. Tapi tangoisan itu kecil. Hanya tetesan air mata yang terlihat. Membuat aku yang menatap wajah Kinnai yang kembali ke pintu rummah menjadi bingung sendiri. Bahkan ia sendiri tak mengerti kenapa air matanya terjatuh begitu saja. Kinnai tidak sedih kayak kemaren, kok. Katanya. Sudahlah.
Tidak. Kalian tahu? Tidak sampai setengah hari. Tiba-tiba telepon rumah berdering. Kinnai yang mengangkat. Ia dari tadi pagi menunggui telepon rumah saja. Ia bilang, Bunda akan menelponnya di jalan. Begitu yakin. Bahkan berkali-kali kecewa karena yang menelpon justru Gio. Kerabat Fahri yang sudah dianggap paman oleh keluarga kecil ini. Gio orang yang sangat menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gio suka membuat anak manis yang satu ini terpesona dalam sekejap dan membuatnya menjadi sangat menyebalkan dalam sekejap pula. Kinnai berkali-kali membanting telepon karena yang menelponnya Paman Gionya.
Saat telpon berdering kembali.
“Bunda?” Kinnai langsung bicara tanpa basa-basi.
“Nai, ma-ma-maafkan bu-bu-n-n...”
Tut. Tut. Tut. Tut. Tut. Tut.
Tiba-tiba telponnya terjatuh. Aku tersentak,kaget.
“Ada apa, sayang?” aku membelai rambut hitam legam itu. Matanya yang hitam bulat itu buncah. Khawatir dan berkali-kali memanggil Bundanya.
“Bunda, Kak! Bunda!” Kinnai memegang tangan ku. Seketika itu juga aku menjadii panik. Aku berusaha menelpon Fahri. Tidak ada jawaban sama sekali.
Berkali-kali. Aku coba lagi menelpon supir. Tidak ada jawaban kembali. Berkali-kali aku coba telpon Rinnai. Tidak ada jawaban pula. Aku menelan ludah. Mengelap peluh yang sudah berjatuhan dari tadi. Kinnai sibuk menangis. Ia bahkan sangat bingung, kenapa Bundanya berkata seperti itu?.
Baru dua jam-an—mereka belum benar-benar sampai di bandara. Ya Tuhan, tidak. Aku tidak ingin berfikiran buruk. Itu sangat   menyaaakitkan. Bahkan untuk anak menggemaskan yannng satu ini. Mana aku tega?.
Tiga hari berlalu. Rumah begitu ramai saat ini. Mungkin untuk seminggu kedepan juga. Aku menghela nafas. Rasanya mataku sudah bengkak dan tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
Malam ini. Rembulan sendu sekali. Mengiringi malam-malam keluarga ini. Kesedihan mengungkung rumah ini. Duka yang mendalam membuat semua rasa sangat menyakitkan terus saja mengelupas tiada henti. Baru saja ingin melupakan. Ingin bengkit. Tapi tetap sama. Terluka lagi. Tersayat lagi. Bagaimanalah dengan anak yang masih berumur tujuh tahun ini menahan segala asanya?. Bagaimanalah anak perempuan nan menggemaskan inimelslui sumua kesedihan ini?. Bahkan melihat Fahri yg terus menangis tiada henti seperti seorang anak perempuan membuat ku jengah.
Aku menelan ludah melihat Kinnai yang hanya menatap kosong ke arah gumpalan putih berselimutkan kain batik itu. Tidak menangis. Tidak tersenyum. Benar-benar datar tatapannya kini. Aku memeluk anak itu. Membisikan sejuta janji untuk kejadian ini. Bukan janji manis seperti menjajikan permen kepada anak umur enam tahun. Janji-janji ini tidak bisa diberikan langsung dua atau tiga jam kedepan. Janji ini bisa jadi, akan terwujud tahun depan, lima tahun kedepan, sepuluh, bahkan dua puluh tahun kedepan saat waktunya benar-benar tiba.
Mayat Rinnai telah dikuburkan. Hujan turun selesai pemakaman. Fahri sungguh seperti anak-anak.  Ia tidak seperti biasanya. Kehilangan seperti ini membuat dirinya begitu berbeda. Di begitu kacau dan tanpa arah. Terus saja menyalahkan diri. Menangis sebentar-sebentar. Berkata kasar kepada dirinya sendiri. Ini benar-benar bukan Fahri yang ku kenal. Fahri seperti mengalami perubahan pada diriya. Aku heran, apa dia begitu mencintai wanita itu?. Lalu?. Aku?. Kinnai?.
Aku?. Akhirnya pikiran itu terlintas juga di otak ku. Bodohnya. Masih saja bisa memikirkan masa lalu yang begitu rumit.
Dua hari kemudian. Fahri sudah sedikit atau entahlah, dia bisa merelakan kepergian Rinnai. Tapi mungkin tidak untuk seorang anak yang benar-benar menggemaskan ini. Seharusnya dia bisa lebih dewasa, bukan?.
Aku membawa anak manis ini pergi dari kesibukan yang begitu menyedihkan ini. Aku memmbawanya ke puncak. Tempat keluarga Rinnai. Neneknya mudah saja menerima ku yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa didalamm keluara ini. Ia sungguh nenek yang baik hati. Rumah kecil ini adalah tempat pensiun sang nenek. Menghabiskan waktu-waktu tuanya di rumah sederhana. Sejuk. Aku suka pemandangan ini. Tapi apa yang aku lakukan tidak dapat membuat Kinnai benar-benar lega. Bahkan ia tidak pernah menarik nafas panjang. Ia bungkam.
Tiga hari berada di sini, tidak menghasilkan apa-apa. Padahal ada nenek kesayangannya. Tapi ia bahkan tidak mau membuka mulutnya. Dia hanya menangis dalam diam. Apa kalian tahu?. Menangis dalam diam itu lebih menyakitkan dari pada tangisan yang seperti apapun juga. Tidak bisa benar-benar dipahami. Nenek bahkan bertanya-tanya kepada ku, apa yang sebenarnya membuat Kinnai sedih. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tau semua itu?. Bahkan selama ini aku mencari jawabannya ke rumah ini. Aku mengusap wajah ku. Fahri setuju membawa Kinnai berlibur.
“Kita akan berlibur ke Bali, Kinnai. Seru, kan?” aku mmengusap rambut hitam legamnya yang mulai memanjang tidak tertahankan. Yang ditanya tidak merespon. Hanya memandang ku sekilas. Lalu ia pergi ke dalam kamar. Mengunci kamarnya.
Tidak. Fahri tidak pernah keberatan jika Kinnai mengunci kamarnya. Akulah yang sangat tidak setuju. Hal ini bisa berakibat fatal, bukan?. Bahkan aku sangat kacau saat pertama kali ia mengunci kamarnya di puncak. Khawatir setengah mati. Bahkan aku mengambil tangga dan masuk lewat jendela. Yang dikhawatirkan malah sedang menatap kosong aku yang kacau balau ketakutan melihatnya mengunci diri di kamar.
“Kau bilang, kau bukan siapa-siapa di keluarga ini?. Bagaimana mungkin, Liana?. Bahkan kau adalah bagian dari keluarga ini. Kau adalah adik bagi Fahri dan juga Rinnai. Kau bahkan kakak bagi Kinnai. Kau sangat baik, nak” nenek memeluk ku erat. Pelukan seorang ibu. Aku sungguh merindukan pelukan itu.
Liburan itu benar-benar tidak menampakkan hasil. Kinnai tetap bungkam. Ini benar-benar membuat ku sangat khawatir. Liburan dilakukan selama tiga bulan. Bahkan kami berencana menetap di Bali. Tapi aku rasa, Kinnai tidak menyukai rencana itu. Karena sehari setelah membicarakan rencana itu pada Kinnai. Ia marah. Seperti saat aku menggunting rambutnya. Mengamuk. Merajuk. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta, sehari setelah kejadiann itu.

***

“Setahun sudah, Fahri” aku meneguk teh di hadapan ku. Kami duduk berdua di di taman rumah. Menatap rembulan yang elok menyelimuti jakarta. Rembulannya benar-benar benderang.
Fahri mengangguk.
“Dan sudah lima belas tahun aku mengenal mu” aku menatap rembulan mantap. Pernyataan ku barusaan adalah fakta. Fakta entah kami adalah kakak beradik atau fakta kami adalah sahabat?. Umur kami sangatlah berbeda jauh sekali. Bahkan aku tak pernah memanggilnya kakak. Tak pernah. Apa lagi memanggilnya Om?. Tidak mungkin.
Aku melirik ke arahnya. Ya Tuhan, wajah itu benar-benar sendu menatap rembulan. Sebagaimana ia dulu. Ini benar-benar dia. Aku tersenyum dan menatap rembulan kembali.
“Tidak bisakah, kau menatap kehidupan ini, sebagaimana kau menatap rembulan kali ini?” aku masih takjim menatap rembulan sambil menanyakan hal itu padanya. Pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan sejak enam bulan lalu.
“Apa?” Fahri menatap ku ling-lung.
“Apa ini benar-benar kau?” aku meletakan cangkir di atas meja. Ahri menatap ku tak mengerti.
“Fahri, jangan kusut kan wajah mu terus menerus. Bahkan Ibu panti sering bicara bukan? Apa pun bentuk kehilangan yang dihadapi, cara terbaik untuk memahami segalanya adalah dengan memahami dari sisi yang pergi” aku menjelaskan.
Mata Fahri mengerjap-ngerjap, entah apa yang sedang ia pikirkan.
“Aku sudah tidak tahan melihat mu menyalahkan dirimu terus menerus dan membuat Kinnai hanya terus kosong” aku kembali menjelaskan. Matanya masih mengerjap-ngerjap, membuat ku mengusap wajah terus menerus. Rambut ku yang sebahu menjadi sedikit berantakan.
Set—
Mata ku melotot. Aku menahan tangan itu. Tagan itu lembut menyentuh rambut hitam legam ku. Matanya menatap ku sempurna. Bola matanya benar-benar indah. Ya Tuhan. Ini benar-benar dia yag sepuluh tahun lalu, saat aku berumur lima belas tahun dan dia berumur dua puluh tujuh tahun.
Aku berdiri. Ya Tuhan, aku tak ingin rasa dan asa itu muncul kebali dan tumbuh seenaknya.
“Sudah malam. Pikirkan semua itu” aku beranjak pergi dari tempat ini. Yang ku ajak bicara hanya diam mematung. Tatapannya kosong. Wajahnya benar-benar mirip dengan Kinnai. Anak itu menuruni semua fisikly Ayahnya.
Aku menaruh semua cangkir di wastafel. Mengangkat kepala tinggi-tinggi. Menelan ludah.
Kenapa dia harus melakukan hal itu?. Aku mengelus dada. Benar-benar jantung ku ini berdebar-debar tiada henti membuat seribu bunga menggelayut di atas kepala ku. Aku mengibaskan tangan. Ber-halah dalam hati. Kekanakkan.













Aku Liana





“Fahri!!” aku berteri menuju taman panti. Melambaikan tangan. Pemuda tampan itu datang lagi minggu ini. Kunjungan rutinnya. Rambut hitam legam ku melambai=lambai mengiringi. Fahri membala lambaian ku.
“LIANA!! SUDAH IBU KATA! PANGGIL DIA KAK FAHRI!!” Ibu pati mengomel dari dalam. Aku ber-hess. Fahri saja tidak pernah protes atas panggilan itu.
Fahri datang dengan motor bebek hitam yang sudah tidak terawat lagi.
“Apa buku pesanan ku, sudah...” Fahri menyodorkan tiga buku tebal. Aku menyeringai menatap buku itu. Ber-wahh. Aku memeluknya. Dia benar-benar baik. Tiada peduli titipan anak panti semahal apapun. Jika terlalu mahal, maka ia akan mengacungkan jari telunjuknya.
“PERJANJIAN!” Dia berteriak.
“Berjanjilah untuk menurut pada Ibu, tidak mengeluh dan rajin beribadah” janji yang biasa saja. Tapi apa kalian tahu?. Janji seperti itu ajaib sekali. Janji itu membuat kami benar-benar menurut. Apa lagi kami dia selalu menepati jannjinya. Berkata lembut pada kami. Membelai rambut kami. Benar-benar menyenangkan.
Aku. Liana. Anak berumur sepuluh dua belas tahun. Aku anak yatim piatu. Sebelum berada di panti menyenangkan ini, aku adalah anak seorang nelayan di sumatra. Aku hidup sederhana dengan mereka. Tidak ada kekayaan yang begitu nyata. Kami masih bisa makan makanan laut yang enak-enak tanpa harus pusing memikirkan harga yang harus dibayar. Tuhan memang selalu baik. Lihat lah, Dia memang sungguh Tuhan yang penyayang. Hamparan biru luas ini banyak sekali makanan yang tehampar luas. Bersyukurlah kita sebagai ciptaannya.
Aku lahir sebagai anak seorang nelayan tua. Mereka cukup sabaruntuk mendapatkan anak seperti ku. Bapak dan Ibu menikah sepuluh tahun sebelum aku dilahirkan. Begitu sabar hidaup mereka selama ini. Cinta mereka yang bermuar pada sebuah komitmen yang sejati, membuat cinta mereka utuh sampai akhirnya mendapatkan aku. Putri semata wayang mereka yang malang. Lima tahun yang sangat sulit setelah kelahiran ku. Segala rupa yang ada di dunia ini mahal sekali untuk di beli. Rasanya seperti, bernafas panjang saja harus membbayar sekian ribu. Keluarga kami begitu sulit. Apa lagi badai sering sekali berkunjung. Membuat Bapak menghela nafasnya berkali-kali menyebut namanya. Membuat Ibu berkali-kali mengelus punggung Bapak—Berbisik, menenangkan.
Tuhan, entah apa arti keadilan. Aku tak pernah menemukannya. Mungkin belum menemukannya.
Disaat kami yang tersungkur mencari sesuap nasi. Harus menerjang badai, mengaduk-aduk tong sampah. Di dunia ini ada orang-orang yang seenaknya tertawa dengan perut buncitnya. Berkenyang-kenyang dengan uang yang bisa merusak tubuh mereka. Ber-cuih saat saat ada yang membutuhkan bantuan mereka?. Tidak,kah cukup?. Ibu ku adalah seorang Ibu rumah tangga yang buta. Bapak ku adalah seorang nelayan yang hidup dengan beribu pemahaman hidup. Hidup kami begitu sederhana. Bagaimana mungkin mereka yang mempunyai lebih, malah asik tertawa berbahak-bahak dengan perut yang penuh?.
Bagaimana aku bisa melihat keadilan sendiri dalam hidup ku saat aku beumur lima tahun yang menatap kesusahan orang tua ku?. Dua tahun berlalu dengan beribu kesulitan dari mu yang begitu merambat menyerbu batin. Tidak hanya keluarga ku. Begitu pula dengan tetangga-tetengga ku. Apakah kau memberikan kesulitan ini pada kami semua karena ingin melihat keteguhan hati hamba-hamba mu Ya Rabbi. Bahkan aku anak berumur tujuh tahun yang masih polos yang tak terkira, harus kehilangan kedua orang tua ku yang diterjang badai, demi membayar biaya rumah sakit untuk anak semata wayangnya yang sedang sakit ini.
Malam itu adalah hari ketujuh kami sekeluarga berpuasa. Sahur dengan ikan kecil yang mungil dengan beberapa suap nasi. Lalu berbuka puasa dengan rebus yang dibeli Bapak di pasar dengan harga murah.
Aku mengeluh. Perutku benar-benar terasa sakit. Panas yang tinggi pun menyelimuti seluruh tubuhku. Nafas benar-benar tersenggal. Malam itu Ibu histeris melihat aku yang panas tak terkira bagai tungku api yang panas. Aku mengeluh kembali. Untuk keluarga seperti kami, pergi ke rumah sakit itu sangat lah tidak memungkinkan. Kondisi ekonomi, kawan. Faktanya, kebanyakan rumah sakit enggan mengurusi pasien yang tidak mampu untuk menyelesaikan as=daministrasi awal. Berdalih, sudah prosedur rumah sakit. Malam itu aku dibawa ke rumah seorang dokter dekat rumah. Ketokan pertama tidak ada jawaban. Ketokan kedua masih sama. Keteokan ketiga—
”Maaf, mba. Cari siapa ya?” yang membukakan pintu rumah itu adalah pembantu-nya.
“Anak kami panas tinggi, tolong—“ Bapak yang menggendongku berbicara. Tapi dipotong. “Maaf, mba. Dokter Nindanya tidak ada di rumah” pembantu itu langsung saja menutup pintunya. Bapak dan Ibu menatap kosong pintu itu.
Tidak. Bapak tidak mau mengambil resiko lain. Ia tahu bahwa dokter Ninda berada di dalam rumah. Ia tahu persis sifat dokter yang satu ini. Hanya bapak yang menyalahkan dirinya sendiri, untuk apa dia berharap pada dokter yang sama sekali tidak tahu seperti apa pekerjaan yang telah dokter itu pilih. Bodohnya—bapak menggerutu sendiri.  Lalu menghela nafas panjang, pergi dari rumah dokter itu. Tidak ada pilihan lain. Bapak dan ibu berlari dan pergi membawa motor ke rumah sakit.
Ibu sudah bersiap untuk semua ini. Ia membawa uang yang ia tabung di celengan ayamnya untuk situasi buruk seperti ini. Itu membantu banyak hal. Walaupun aku benar-benar drop saat itu, tapi bagaimana bisa aku tak mengingat semua hal yang membuat tubuh ku merinding tiap kali mengingat hal ini.
Sampailah kami di rumah sakit. Bahkan aku tidak percaya harus menceritakan hal ini. Entah siapalah yang begitu kejam di dunia ini. Rumah sakit sama sekali tidak mau membantu kami saat itu. Beralasan bahwa ruangan benar-benar penuh dan aku harus dirawat. Bapak sempat bersih tegang dengan penjaga dan suster di sana. Ibu yang menggendongk menangis tidak tahan dengan semua ini. Bahkan dengan keadaan beliau yang buta, tak menghalanginya untuk menangis. Karena mata tidak pernah bisa merasakan. Jika hati yang merasakan, barulah mata melanjutkan. Entah menangis, mata tersenyum. Entahlah. Dibalik semua ketidak adilan ini. Masih ada seorang dermawan, relawan, pahlawan. Benar sudah kata-kata bijak itu bukan?. Didalam sebuah kesulitan, pastilah ada jalan.
Seorang wanita mendekat. Pakaiannya layaknya seorang dokter. Wanita yang benar-benar cantik. Wajahnya masih terlihat muda. Bertanya kepada bapak dan ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Dokter cantik itu mengusap-usap dahinya. Melotot ke-arah penjaga.
“Bawa anak ini ke ruangan saya. Administasinya biar saya yang urus semmuanya” –dokter cantik itu bergegas menyuruh perawat lainnya untuk membantu membawa ku-keruangannya. Masalah administrsi, nanti-nanti saja ibu dan bapak menanyakannya. Yang penting bagi mereka berdua—aku sembuh.
Setelah hampir sseperempat jam dalam sehari ini, menunggu hasil darah dan tes lainnya. Hasilnya—DBD. Bapak dan ibu saling tatap. Wajahnya begitu prihatin. Itu berarti, aku harus benar-benar dirawat.
Ibu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Perlahan-lahan mencari letak tanga dokter cantik itu, meraba-raba.
“terimalah, bu. Untuk biaya anak saya selama dirawat. Saya tidak tahu persis ber-apa jumlah seluruh uangnya. Tapi..” isak ibu mulai terlepas. “tlong sembuhkan anak saya” isak ibu benar-benar pecah saat itu. Bapak hanya menahan tangisnya.
“Tidak, bu” dokte cantik itu mengulurkan lagi uang yang diberi oleh ibu. “Ini me-mang sudah tugas saya sebagai dokter. Ingat, yang menyembuhkan bkanlah saya, tapi yang kuasa yang menyembuhkan” dokter cantk itu berkata lembuut.
Ia begitubaik. Ia mengurs semua keperluan ku di rumah sakit. Membuat ibu merasa berhutan budi padanya. Berkali-kali mengucapkan terimakasih. Tapi bagaimanalah mungkin ia terus-terusan menopang biaya rumah sakit pada sang dokter cantik ini?. Setidaknya, obat-obatan bapak harus membelinya sendiri. Itu tekadnya saat melihat ku siuman. Akhirnya bapak pergi. Dia bilang, ingin melaut. Ibu tersenggal mendengar ucapan bapak. Ibu meraba-raba lengan bapak.
“Tidak, pak. Aku tahu niat baik mu. Tapi badai sedang berlanjut seminggu terakhir. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk” ibu menggenggam lengan bapak yang kekar.
“Tak apalah Ros, badai pasti berlalu” bapak menenangkan ib sambil tersenyum. Ibu tahu kalau bapak sedang bergurau.
“Jangan bergurau disaat seperti ini. Aku serius Bang” ibu menggoyang-goyangkan lengan bapak. Bapak menggeleng. Memeluk ibu, berbisik seribu obat penenang buat istrinya. Ibu hanya menyeka ujung matanya.
Bapak akhirnya pergi.
Pergi, benar-benar pergi. Keesokan harinya. Tak ada perahu bapak merapat di dermaga. Jenap, kerabat bapak yang terburu-buru pergi ke rumah sakit. Mengabarkan berita yang benar-benar buruk untuk keluarga kami. Ibu tak henti-hentinya terisak. Belum ada tanda-tanda kedatangan bapak. Lima hari. Satu minggu. Bapak benar-benar lenyap ditelan badai. Sampai akhirnya aku sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter cantik itu.
Malam itu, saat aku tak lagi diceritakan banyak kisah olehnya. Aku menangis. Mengisi di dalam sepi. Menatap rembulan. Bapak. Apa kau bisa mendengar, ku?. Liana, anak bapak semata wayang. Malam-malam yang benar menyakitkan.
Jika saja aku sudah dewasa saat itu. Andai saja saat itu aku tidak terbaring di atas kasur di dalam ruangan yang berbau khas ini—aku akan berlari ke dermaga. Berteriak keras. Kalau bisa, aku akan menaiki salah satu kapal kecil. Nekat pergi mencari Bapak. Dalam sepi aku menangis. Merengek ingin bertemu. Sayangnya, kebanyakan dari kita, dibukan oleh kesedihan itu. Tidakkah kita menatap sejenak sekitar?. Ada seseorang yang bahkan memilih mengkhawatirkan kita, dibanding berlart dalam kesedihan mendalam atas kepergian kekasihnya.
Ibu memelukku lembut. Berbisik tentang beribu janji yang dibisikan Bapak setiap harinya, di telinga ku. Aku tidak menangis. Aku hanya menatap kosong janji-janji yang dijanjian Bapak. Meredalah duka. Ku senderkan kepala di pangkuan Ibu. Ibu tersenyum—membelai lembut rambut hitam legam ku. Menyanyikan lagu-lagu yang indah.
Taman bunga menari
Bersiulah burung-burung
Merasa bebas
Berterbangan
Janji-janji intan datang

Tidak ada komentar: