Menatap Rembulan
Rembulan nampak cembung di sisi kiri rumah ini.
Membalut sempurna gelapnya malam dengan tatapan meredupnya. Bahkan di pojokan
jalan. Tempat dimana tak ada seorang pun yang ingin menoleh. Di pojok jalan ini
terduduk lelaki tua yang menatap rembulan takjim dengan beribu rasa lelah di
pundaknya. Beralaskan koran dan pakaian yang bahkan hanya dicuci seminggu
sekali membalut tubuhnya. Lelaki tua ini dengan penuh rasa lelah menatap
rembulan, mengadu pada Sang Penciptanya. Begitu lelahkah kehidupan ini Tuhan?
Atau hanya aku sang tua renta ini saja yang merasakannya?.
Bahkan di sudut simpangan jalan ini seorang lelaki
yang tampan nan jelita sedang mengucak-ucak rambut palsunya. Mengusap wajah,
menatap ke atas awan yang tampak kebiruan. Menghela nafas tak henti-henti. Menatap
rembulan dan bernafas panjang lagi. Malam ini bgitu panjang untuk lelaki tampan
nan jelita itu. Menatap ketidak puasan hatinya. Merasa tak ada lagi yang dapat
ia lakukan selain hal ini. Mengalurkan tangan. Menatap genit pria-pria tak
berpendidikan hanya untuk mengenyangkan perut semata. Malam ini, lelaki tampan
nan jelita itu berkali-kali mengadu pada Sang Pencipta sambil menatap rembulan
dengan sangat sendu dan khawtirnya.
Di tengah kesedihan semua ini, duduk seorang anak
kecil yang mengayunkan ayunannya dimalam yang begitu mendayu sambil menatap
indahnya rembulan. Tersenyum, bernanyi riang. Malam ini begitu sederhana
baginya. Malam ini rembulan indah dan ia hanya ingin berayun dan bernyanyi
menatap rembulan. Tak ada keluhan. Tak ada pertanyaan yang membuat semuanya
terasa sesak. Malam ini, anak kecil berambut hitam legam ini meyakinkan
rembulan. Dia bukanlah tempat untuk terus ditatapi dengan tatapan lelah dan
rasa akit yang terasa menusuk bagian-bagian tubuh. Malam ini, gadis kecil
dengan pipi tembamnya itu berayun riang membisikan kata-kata indah pada
rembulan.
“Rembulan,
kau sangat cantik”
“Aku memang tak pernah pintar untuk bercerita
sepertinya, benarkan?” aku menatap lirih semua pemandangan ini. Berbicara
sendiri.
Mengusap wajah. Di sisi rumah ini, anak perempuan
ini tidak sedang berayun menatap rembulan. Ia sedang menatap lurus ke arah
depan tanpa mengayun ayunannya. Tanpa menggoyangkan kakinya. Anak perempuan ini
bahkan tak sedang menatap indah rembulan. Ia bertanya-tanya. Pertanyaan yang
menyesakkan hidup seperti lelaki tua renta itu dan lelaki tampan nan jelita
itu. Pertanyaan yang sama menyesakan.
Aku menyentuh lembut lengan kiri anak perempuan
sembilan tahun itu. Mengusapnya. Memberi sentuhan yang menyenangkan. Anak itu
tetap menatap kosong jalan di depannya.
“Waktunya tidur Kinnai,” aku membantunya berdiri
dari ayunan. Yang ku bantu hanya menerima dan tak berkomentar apa-apa. Ya,
selalu saja seperti ini. Bagai patung. Wajah ceria nan lucu menggemaskannya
menghilang begitu saja.
Aku menghela nafas panjang. Rambutnya yang tumbuh
dan terus panjang sama sekali tak ingin ia potong.
Pernah, saat ia tidur aku potong perlahan ujung
rambutnya agar rambutnya tidak menjadi rusak. Tapi ia terbangun dan mengamuk
semalan tanpa henti. Mendorongku keras ke arah tembok. Melempar guntingnya.
Lalu tangis pecah di kelopak matanya.
Aku tidak pernah melihat tangisan itu sebelumnya.
Tidak pernah.
Aku membantu Kinai tiduran di atas ranjang yang
sangat manis dengan nuansa biru yang membalut seluruh kamarnya. Aku menelan
ludah.
“Kinnai, apa kau mau ku bacakan ceerita?” aku
bertanya. Mengambil satu buku cantik berwarna pink di rak buku. Ia hanya menggeleng. Menatap
kosong segalanya yang ada di depannya. Aku tersenyum, mengangguk.
Aku meninggalkan tempat tidur itu dan tersenyum
pergi keluar kamar itu. Entah apa sebenarnya yang ia pikirkan. Dia depresi?.
Entahlah. Dia hanya marah jika rambutnya didekat-dekati dengan gunting rambut.
Selain dari pada itu, ia tak pernah marah. Hanya menatap kosong segala yang ada
di rumah ini.
“Apa ia sudah tidur?” Fahri mengagetkan ku di
depan pintu kamar Kinnai. Aku mengangguk.
“Ya Tuhan, apa yang harus lakukan, katakan? Anak
itu hanya menatap kosong rembulannya.” Fahri mengusap wajahnya.
Satu tahun sudah Fahri tak pernah berbicara dengan
anaknya. Ia selalu merasa bersalah atas segalanya. Lelaki yang tampan dan
perawakannya yang menyenangkan ini membuat ribuan wanita terpesona padanya. Tak
terkecuali aku. Wanita yang beda dua belas tahun darinya. Begitu jauh bukan?. Fahri
adalah kakak panti yang dulu selalu bercerita di panti yang aku tempati. Ia
memang bukan siapa-siapa di panti. Tapi ia sungguh kakak yang benar-benar baik untuk panti. Bahkan ibu
panti sangat menyayanginya. Aku berada di panti sejak kecil. Saat aku sepuluh tahun dan lelaki itu berumur dua
puluh dua tahun. Ia mengajar di panti dua tahun sebelum aku berada di panti.
Aku ingin memutar waktu rasanya. Tapi bukan untuk
sekarang.
Fahri mengusap wajahnya. Berkali-kali gugup
menatap minumannya. Ia sungguh masih mengingat sekali kejadian satu tahun yang
lalu. Ketika semua membuat anak kesayangannya ini memulai harinya tanpa
tersenyum lagi.
***
“Bunda, nanti kalau sudah di bandara, telpon
Kinnai ya, Bunda” Kinnai memeluk erat tubuh Bundanya, Rinnai. Aku tersenyum
senang melihat anak itu telah menerima kepergian Bunda dan Ayahnya untuk
berlibur.
Sebelumnya, Kinnai mengamuk memaksa ingn ikut.
Padahal ia masih harus menikuti ulangan di sekolahnya. Ia sampai mogok makan
seharian karena tidak diperkenankan ikut oleh sang Bunda.
“Bunda gak mau kamu ikut karena ada ulangan
sayang. Lagi pula ini bukan liburan sungguhan. Bunda harus bekerja juga, kan?”
Rinnai mengusap rrambut hitam legam itu dengan lembut. Yang di tegur sibuk meenggerung, merajuk.
“Nanti Ayah belikan oleh-oleh yang buaanyak” Fahri
memeluk anak kesayangannya. Aku hanya menelan ludah pemandangan ini. Sedikit
menyakitkan untuk sisi hatiku yang lain.
“Mas, aku saja yang pergi. Kau tetap di sini”
Rinnai menyampaikan sedikit pedapat pada suaminya, Fahri. Fahri menggeleng.
“Sayang, ini pekerjaan ku. Biar aku yang pergi,
ya?” Rinnai menyentuh tangan suaminya lembut. Fahri tetep menggeleng.
“Tidak, kau tidak akan pergi sendiri ke tempat
yang bahkan tidak pernah kau injak, Rinnai” Faahri menggeleng keras. Rinnai
tentulah istri yang sangat baik dan Fahri adalah suami yang sangat baik.
Kinnai-pun adalah anak yang sangat baik. Keluarga ini benar-benarlah baik.
Aku tersenyum menatap Rinnai.
“Biarkan Kinnai bersama ku. Dia akan baik-baik
saja. Lagi pula hanya seminggu, kan?” aku berkata sambil menatap Kinnai yang
masih menekuk kakinya.
“Kinnai, Kak Liana mungkin jahat bicara seperti
ini. Tapi kalau kamu gak biarin Bunda dan Ayah pergi, nanti siapa yang akan
membelikan kamu boneka bear kesukaan kamu” aku mengatkannya dengan mantap.
Biasanya hal ini, bisa membuat anak kecil yang merajuk seperti ini sedikit
sadar.
Kinnai menghapus air matanya. Bertanya lewat
tatapan matanya. Aku mengangguk mantap. Yang menangis tersenyum sempurna,
membuat lesung pipinya terlihat begitu menggemaskan.
Fahri tertawa. Rinnai tersenyum kepada ku.
“Kau selalu menjadi bagian dari keluarga kami,
Liana. Kau begitu baik” Rinnai memeluk ku. Aku hanya tersenyum.
Bagaimanalah bisa, hal kecil ini dikatakan sangat
baik. Toh, merekalah yang sangat baik pada ku. Menanggung hidup ku. Menerima
ku. Bahkan Rinnai tak keberatan aku tinggal dengan mereka berdua. Padahal
mereka baru menikah. Walau awalnya itu juga paksaan dari Fahri kepada ku, agar
aku mau tinggal bersama mereka berdua.
Aku menggeleng. Kinnai menarik baju ku. Menatap ku
dengan tatapan yang sangat serius.
“Kak Liana” ia masih menatap ku dengan tatapan
yang sangat manis.
“hem” aku tersenyum lembut.
“Aku saayang kakak!” tiba-tiba Kinnai memelukku
keras. Membuat tubuh ku sedikit sakit. Fahri dan Rinnai tertawa.
Hari ini mereka berdua berangkat. Kinnai
berkali-kali memeluk Bundanya. Menciumnya lagi. Yang dicium sibuk mengusap
kelopak matanya yang basah. Entah kenapa, ia akan begitu merindukan putrinya.
“Bunda! Pokoknya jangan lupa! Boneka bearnya!!”
Kinnai berlari kencang saat mobil Bundanya melesat meninggalkan rumah.
Entah bagaimana. Tiba-tiba Kinnai menangis.
Mungkin baru kali ini ia ditinggal oleh Bundanya. Tapi tangoisan itu kecil.
Hanya tetesan air mata yang terlihat. Membuat aku yang menatap wajah Kinnai
yang kembali ke pintu rummah menjadi bingung sendiri. Bahkan ia sendiri tak
mengerti kenapa air matanya terjatuh begitu saja. Kinnai tidak sedih kayak
kemaren, kok. Katanya. Sudahlah.
Tidak. Kalian tahu? Tidak sampai setengah hari.
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Kinnai yang mengangkat. Ia dari tadi pagi
menunggui telepon rumah saja. Ia bilang, Bunda akan menelponnya di jalan.
Begitu yakin. Bahkan berkali-kali kecewa karena yang menelpon justru Gio.
Kerabat Fahri yang sudah dianggap paman oleh keluarga kecil ini. Gio orang yang
sangat menyenangkan sekaligus menyebalkan. Gio suka membuat anak manis yang
satu ini terpesona dalam sekejap dan membuatnya menjadi sangat menyebalkan
dalam sekejap pula. Kinnai berkali-kali membanting telepon karena yang
menelponnya Paman Gionya.
Saat telpon berdering kembali.
“Bunda?” Kinnai langsung bicara tanpa basa-basi.
“Nai, ma-ma-maafkan bu-bu-n-n...”
Tut. Tut. Tut. Tut. Tut. Tut.
Tiba-tiba telponnya terjatuh. Aku tersentak,kaget.
“Ada apa, sayang?” aku membelai rambut hitam legam
itu. Matanya yang hitam bulat itu buncah. Khawatir dan berkali-kali memanggil
Bundanya.
“Bunda, Kak! Bunda!” Kinnai memegang tangan ku.
Seketika itu juga aku menjadii panik. Aku berusaha menelpon Fahri. Tidak ada
jawaban sama sekali.
Berkali-kali. Aku coba lagi menelpon supir. Tidak
ada jawaban kembali. Berkali-kali aku coba telpon Rinnai. Tidak ada jawaban
pula. Aku menelan ludah. Mengelap peluh yang sudah berjatuhan dari tadi. Kinnai
sibuk menangis. Ia bahkan sangat bingung, kenapa Bundanya berkata seperti itu?.
Baru dua jam-an—mereka belum benar-benar sampai di
bandara. Ya Tuhan, tidak. Aku tidak ingin berfikiran buruk. Itu sangat menyaaakitkan. Bahkan untuk anak
menggemaskan yannng satu ini. Mana aku tega?.
Tiga hari berlalu. Rumah begitu ramai saat ini.
Mungkin untuk seminggu kedepan juga. Aku menghela nafas. Rasanya mataku sudah
bengkak dan tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
Malam ini. Rembulan sendu sekali. Mengiringi
malam-malam keluarga ini. Kesedihan mengungkung rumah ini. Duka yang mendalam
membuat semua rasa sangat menyakitkan terus saja mengelupas tiada henti. Baru
saja ingin melupakan. Ingin bengkit. Tapi tetap sama. Terluka lagi. Tersayat
lagi. Bagaimanalah dengan anak yang masih berumur tujuh tahun ini menahan segala
asanya?. Bagaimanalah anak perempuan nan menggemaskan inimelslui sumua
kesedihan ini?. Bahkan melihat Fahri yg terus menangis tiada henti seperti
seorang anak perempuan membuat ku jengah.
Aku menelan ludah melihat Kinnai yang hanya
menatap kosong ke arah gumpalan putih berselimutkan kain batik itu. Tidak
menangis. Tidak tersenyum. Benar-benar datar tatapannya kini. Aku memeluk anak
itu. Membisikan sejuta janji untuk kejadian ini. Bukan janji manis seperti
menjajikan permen kepada anak umur enam tahun. Janji-janji ini tidak bisa
diberikan langsung dua atau tiga jam kedepan. Janji ini bisa jadi, akan
terwujud tahun depan, lima tahun kedepan, sepuluh, bahkan dua puluh tahun
kedepan saat waktunya benar-benar tiba.
Mayat Rinnai telah dikuburkan. Hujan turun selesai
pemakaman. Fahri sungguh seperti anak-anak.
Ia tidak seperti biasanya. Kehilangan seperti ini membuat dirinya begitu
berbeda. Di begitu kacau dan tanpa arah. Terus saja menyalahkan diri. Menangis
sebentar-sebentar. Berkata kasar kepada dirinya sendiri. Ini benar-benar bukan
Fahri yang ku kenal. Fahri seperti mengalami perubahan pada diriya. Aku heran,
apa dia begitu mencintai wanita itu?. Lalu?. Aku?. Kinnai?.
Aku?. Akhirnya pikiran itu terlintas juga di otak
ku. Bodohnya. Masih saja bisa memikirkan masa lalu yang begitu rumit.
Dua hari kemudian. Fahri sudah sedikit atau
entahlah, dia bisa merelakan kepergian Rinnai. Tapi mungkin tidak untuk seorang
anak yang benar-benar menggemaskan ini. Seharusnya dia bisa lebih dewasa,
bukan?.
Aku membawa anak manis ini pergi dari kesibukan
yang begitu menyedihkan ini. Aku memmbawanya ke puncak. Tempat keluarga Rinnai.
Neneknya mudah saja menerima ku yang sebenarnya bukanlah siapa-siapa didalamm
keluara ini. Ia sungguh nenek yang baik hati. Rumah kecil ini adalah tempat
pensiun sang nenek. Menghabiskan waktu-waktu tuanya di rumah sederhana. Sejuk.
Aku suka pemandangan ini. Tapi apa yang aku lakukan tidak dapat membuat Kinnai
benar-benar lega. Bahkan ia tidak pernah menarik nafas panjang. Ia bungkam.
Tiga hari berada di sini, tidak menghasilkan
apa-apa. Padahal ada nenek kesayangannya. Tapi ia bahkan tidak mau membuka
mulutnya. Dia hanya menangis dalam diam. Apa kalian tahu?. Menangis dalam diam
itu lebih menyakitkan dari pada tangisan yang seperti apapun juga. Tidak bisa
benar-benar dipahami. Nenek bahkan bertanya-tanya kepada ku, apa yang
sebenarnya membuat Kinnai sedih. Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tau semua itu?.
Bahkan selama ini aku mencari jawabannya ke rumah ini. Aku mengusap wajah ku.
Fahri setuju membawa Kinnai berlibur.
“Kita akan berlibur ke Bali, Kinnai. Seru, kan?”
aku mmengusap rambut hitam legamnya yang mulai memanjang tidak tertahankan.
Yang ditanya tidak merespon. Hanya memandang ku sekilas. Lalu ia pergi ke dalam
kamar. Mengunci kamarnya.
Tidak. Fahri tidak pernah keberatan jika Kinnai
mengunci kamarnya. Akulah yang sangat tidak setuju. Hal ini bisa berakibat
fatal, bukan?. Bahkan aku sangat kacau saat pertama kali ia mengunci kamarnya
di puncak. Khawatir setengah mati. Bahkan aku mengambil tangga dan masuk lewat
jendela. Yang dikhawatirkan malah sedang menatap kosong aku yang kacau balau
ketakutan melihatnya mengunci diri di kamar.
“Kau bilang, kau bukan siapa-siapa di keluarga
ini?. Bagaimana mungkin, Liana?. Bahkan kau adalah bagian dari keluarga ini.
Kau adalah adik bagi Fahri dan juga Rinnai. Kau bahkan kakak bagi Kinnai. Kau
sangat baik, nak” nenek memeluk ku erat. Pelukan seorang ibu. Aku sungguh
merindukan pelukan itu.
Liburan itu benar-benar tidak menampakkan hasil.
Kinnai tetap bungkam. Ini benar-benar membuat ku sangat khawatir. Liburan
dilakukan selama tiga bulan. Bahkan kami berencana menetap di Bali. Tapi aku
rasa, Kinnai tidak menyukai rencana itu. Karena sehari setelah membicarakan
rencana itu pada Kinnai. Ia marah. Seperti saat aku menggunting rambutnya.
Mengamuk. Merajuk. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta, sehari
setelah kejadiann itu.
***
“Setahun sudah, Fahri” aku meneguk teh di hadapan
ku. Kami duduk berdua di di taman rumah. Menatap rembulan yang elok menyelimuti
jakarta. Rembulannya benar-benar benderang.
Fahri mengangguk.
“Dan sudah lima belas tahun aku mengenal mu” aku
menatap rembulan mantap. Pernyataan ku barusaan adalah fakta. Fakta entah kami
adalah kakak beradik atau fakta kami adalah sahabat?. Umur kami sangatlah
berbeda jauh sekali. Bahkan aku tak pernah memanggilnya kakak. Tak pernah. Apa
lagi memanggilnya Om?. Tidak mungkin.
Aku melirik ke arahnya. Ya Tuhan, wajah itu
benar-benar sendu menatap rembulan. Sebagaimana ia dulu. Ini benar-benar dia.
Aku tersenyum dan menatap rembulan kembali.
“Tidak bisakah, kau menatap kehidupan ini,
sebagaimana kau menatap rembulan kali ini?” aku masih takjim menatap rembulan
sambil menanyakan hal itu padanya. Pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan
sejak enam bulan lalu.
“Apa?” Fahri menatap ku ling-lung.
“Apa ini benar-benar kau?” aku meletakan cangkir
di atas meja. Ahri menatap ku tak mengerti.
“Fahri, jangan kusut kan wajah mu terus menerus.
Bahkan Ibu panti sering bicara bukan? Apa pun bentuk kehilangan yang dihadapi, cara
terbaik untuk memahami segalanya adalah dengan memahami dari sisi yang pergi”
aku menjelaskan.
Mata Fahri mengerjap-ngerjap, entah apa yang
sedang ia pikirkan.
“Aku sudah tidak tahan melihat mu menyalahkan
dirimu terus menerus dan membuat Kinnai hanya terus kosong” aku kembali
menjelaskan. Matanya masih mengerjap-ngerjap, membuat ku mengusap wajah terus
menerus. Rambut ku yang sebahu menjadi sedikit berantakan.
Set—
Mata ku melotot. Aku menahan tangan itu. Tagan itu
lembut menyentuh rambut hitam legam ku. Matanya menatap ku sempurna. Bola
matanya benar-benar indah. Ya Tuhan. Ini benar-benar dia yag sepuluh tahun
lalu, saat aku berumur lima belas tahun dan dia berumur dua puluh tujuh tahun.
Aku berdiri. Ya Tuhan, aku tak ingin rasa dan asa
itu muncul kebali dan tumbuh seenaknya.
“Sudah malam. Pikirkan semua itu” aku beranjak
pergi dari tempat ini. Yang ku ajak bicara hanya diam mematung. Tatapannya
kosong. Wajahnya benar-benar mirip dengan Kinnai. Anak itu menuruni semua
fisikly Ayahnya.
Aku menaruh semua cangkir di wastafel. Mengangkat
kepala tinggi-tinggi. Menelan ludah.
Kenapa dia harus melakukan hal itu?. Aku mengelus
dada. Benar-benar jantung ku ini berdebar-debar tiada henti membuat seribu
bunga menggelayut di atas kepala ku. Aku mengibaskan tangan. Ber-halah dalam
hati. Kekanakkan.
Aku Liana
“Fahri!!” aku berteri menuju taman panti.
Melambaikan tangan. Pemuda tampan itu datang lagi minggu ini. Kunjungan
rutinnya. Rambut hitam legam ku melambai=lambai mengiringi. Fahri membala
lambaian ku.
“LIANA!! SUDAH IBU KATA! PANGGIL DIA KAK FAHRI!!”
Ibu pati mengomel dari dalam. Aku ber-hess. Fahri saja tidak pernah protes atas
panggilan itu.
Fahri datang dengan motor bebek hitam yang sudah
tidak terawat lagi.
“Apa buku pesanan ku, sudah...” Fahri menyodorkan
tiga buku tebal. Aku menyeringai menatap buku itu. Ber-wahh. Aku memeluknya.
Dia benar-benar baik. Tiada peduli titipan anak panti semahal apapun. Jika
terlalu mahal, maka ia akan mengacungkan jari telunjuknya.
“PERJANJIAN!” Dia berteriak.
“Berjanjilah untuk menurut pada
Ibu, tidak mengeluh dan rajin beribadah” janji yang biasa saja. Tapi apa kalian
tahu?. Janji seperti itu ajaib sekali. Janji itu membuat kami benar-benar
menurut. Apa lagi kami dia selalu menepati jannjinya. Berkata lembut pada kami.
Membelai rambut kami. Benar-benar menyenangkan.
Aku. Liana. Anak berumur sepuluh
dua belas tahun. Aku anak yatim piatu. Sebelum berada di panti menyenangkan
ini, aku adalah anak seorang nelayan di sumatra. Aku hidup sederhana dengan
mereka. Tidak ada kekayaan yang begitu nyata. Kami masih bisa makan makanan
laut yang enak-enak tanpa harus pusing memikirkan harga yang harus dibayar.
Tuhan memang selalu baik. Lihat lah, Dia memang sungguh Tuhan yang penyayang.
Hamparan biru luas ini banyak sekali makanan yang tehampar luas. Bersyukurlah
kita sebagai ciptaannya.
Aku lahir sebagai anak seorang
nelayan tua. Mereka cukup sabaruntuk mendapatkan anak seperti ku. Bapak dan Ibu
menikah sepuluh tahun sebelum aku dilahirkan. Begitu sabar hidaup mereka selama
ini. Cinta mereka yang bermuar pada sebuah komitmen yang sejati, membuat cinta
mereka utuh sampai akhirnya mendapatkan aku. Putri semata wayang mereka yang
malang. Lima tahun yang sangat sulit setelah kelahiran ku. Segala rupa yang ada
di dunia ini mahal sekali untuk di beli. Rasanya seperti, bernafas panjang saja
harus membbayar sekian ribu. Keluarga kami begitu sulit. Apa lagi badai sering
sekali berkunjung. Membuat Bapak menghela nafasnya berkali-kali menyebut
namanya. Membuat Ibu berkali-kali mengelus punggung Bapak—Berbisik,
menenangkan.
Tuhan, entah apa arti keadilan.
Aku tak pernah menemukannya. Mungkin belum menemukannya.
Disaat kami yang tersungkur
mencari sesuap nasi. Harus menerjang badai, mengaduk-aduk tong sampah. Di dunia
ini ada orang-orang yang seenaknya tertawa dengan perut buncitnya.
Berkenyang-kenyang dengan uang yang bisa merusak tubuh mereka. Ber-cuih saat saat
ada yang membutuhkan bantuan mereka?. Tidak,kah cukup?. Ibu ku adalah seorang
Ibu rumah tangga yang buta. Bapak ku adalah seorang nelayan yang hidup dengan
beribu pemahaman hidup. Hidup kami begitu sederhana. Bagaimana mungkin mereka
yang mempunyai lebih, malah asik tertawa berbahak-bahak dengan perut yang
penuh?.
Bagaimana aku bisa melihat
keadilan sendiri dalam hidup ku saat aku beumur lima tahun yang menatap
kesusahan orang tua ku?. Dua tahun berlalu dengan beribu kesulitan dari mu yang
begitu merambat menyerbu batin. Tidak hanya keluarga ku. Begitu pula dengan
tetangga-tetengga ku. Apakah kau memberikan kesulitan ini pada kami semua
karena ingin melihat keteguhan hati hamba-hamba mu Ya Rabbi. Bahkan aku anak
berumur tujuh tahun yang masih polos yang tak terkira, harus kehilangan kedua
orang tua ku yang diterjang badai, demi membayar biaya rumah sakit untuk anak
semata wayangnya yang sedang sakit ini.
Malam itu adalah hari ketujuh
kami sekeluarga berpuasa. Sahur dengan ikan kecil yang mungil dengan beberapa
suap nasi. Lalu berbuka puasa dengan rebus yang dibeli Bapak di pasar dengan
harga murah.
Aku mengeluh. Perutku benar-benar
terasa sakit. Panas yang tinggi pun menyelimuti seluruh tubuhku. Nafas
benar-benar tersenggal. Malam itu Ibu histeris melihat aku yang panas tak
terkira bagai tungku api yang panas. Aku mengeluh kembali. Untuk keluarga
seperti kami, pergi ke rumah sakit itu sangat lah tidak memungkinkan. Kondisi
ekonomi, kawan. Faktanya, kebanyakan rumah sakit enggan mengurusi pasien yang
tidak mampu untuk menyelesaikan as=daministrasi awal. Berdalih, sudah prosedur
rumah sakit. Malam itu aku dibawa ke rumah seorang dokter dekat rumah. Ketokan
pertama tidak ada jawaban. Ketokan kedua masih sama. Keteokan ketiga—
”Maaf, mba. Cari siapa ya?” yang
membukakan pintu rumah itu adalah pembantu-nya.
“Anak kami panas tinggi, tolong—“
Bapak yang menggendongku berbicara. Tapi dipotong. “Maaf, mba. Dokter Nindanya
tidak ada di rumah” pembantu itu langsung saja menutup pintunya. Bapak dan Ibu
menatap kosong pintu itu.
Tidak. Bapak tidak mau mengambil
resiko lain. Ia tahu bahwa dokter Ninda berada di dalam rumah. Ia tahu persis
sifat dokter yang satu ini. Hanya bapak yang menyalahkan dirinya sendiri, untuk
apa dia berharap pada dokter yang sama sekali tidak tahu seperti apa pekerjaan
yang telah dokter itu pilih. Bodohnya—bapak menggerutu sendiri. Lalu menghela nafas panjang, pergi dari rumah
dokter itu. Tidak ada pilihan lain. Bapak dan ibu berlari dan pergi membawa
motor ke rumah sakit.
Ibu sudah bersiap untuk semua
ini. Ia membawa uang yang ia tabung di celengan ayamnya untuk situasi buruk
seperti ini. Itu membantu banyak hal. Walaupun aku benar-benar drop saat itu,
tapi bagaimana bisa aku tak mengingat semua hal yang membuat tubuh ku merinding
tiap kali mengingat hal ini.
Sampailah kami di rumah sakit.
Bahkan aku tidak percaya harus menceritakan hal ini. Entah siapalah yang begitu
kejam di dunia ini. Rumah sakit sama sekali tidak mau membantu kami saat itu.
Beralasan bahwa ruangan benar-benar penuh dan aku harus dirawat. Bapak sempat
bersih tegang dengan penjaga dan suster di sana. Ibu yang menggendongk menangis
tidak tahan dengan semua ini. Bahkan dengan keadaan beliau yang buta, tak
menghalanginya untuk menangis. Karena mata tidak pernah bisa merasakan. Jika
hati yang merasakan, barulah mata melanjutkan. Entah menangis, mata tersenyum.
Entahlah. Dibalik semua ketidak adilan ini. Masih ada seorang dermawan, relawan,
pahlawan. Benar sudah kata-kata bijak itu bukan?. Didalam sebuah kesulitan,
pastilah ada jalan.
Seorang wanita mendekat.
Pakaiannya layaknya seorang dokter. Wanita yang benar-benar cantik. Wajahnya
masih terlihat muda. Bertanya kepada bapak dan ibu, apa yang sebenarnya
terjadi. Dokter cantik itu mengusap-usap dahinya. Melotot ke-arah penjaga.
“Bawa anak ini ke ruangan saya.
Administasinya biar saya yang urus semmuanya” –dokter cantik itu bergegas
menyuruh perawat lainnya untuk membantu membawa ku-keruangannya. Masalah
administrsi, nanti-nanti saja ibu dan bapak menanyakannya. Yang penting bagi
mereka berdua—aku sembuh.
Setelah hampir sseperempat jam
dalam sehari ini, menunggu hasil darah dan tes lainnya. Hasilnya—DBD. Bapak dan
ibu saling tatap. Wajahnya begitu prihatin. Itu berarti, aku harus benar-benar
dirawat.
Ibu mengeluarkan sesuatu dari
kantongnya. Perlahan-lahan mencari letak tanga dokter cantik itu, meraba-raba.
“terimalah, bu. Untuk biaya anak
saya selama dirawat. Saya tidak tahu persis ber-apa jumlah seluruh uangnya.
Tapi..” isak ibu mulai terlepas. “tlong sembuhkan anak saya” isak ibu
benar-benar pecah saat itu. Bapak hanya menahan tangisnya.
“Tidak, bu” dokte cantik itu
mengulurkan lagi uang yang diberi oleh ibu. “Ini me-mang sudah tugas saya sebagai
dokter. Ingat, yang menyembuhkan bkanlah saya, tapi yang kuasa yang
menyembuhkan” dokter cantk itu berkata lembuut.
Ia begitubaik. Ia mengurs semua
keperluan ku di rumah sakit. Membuat ibu merasa berhutan budi padanya.
Berkali-kali mengucapkan terimakasih. Tapi bagaimanalah mungkin ia
terus-terusan menopang biaya rumah sakit pada sang dokter cantik ini?.
Setidaknya, obat-obatan bapak harus membelinya sendiri. Itu tekadnya saat
melihat ku siuman. Akhirnya bapak pergi. Dia bilang, ingin melaut. Ibu tersenggal
mendengar ucapan bapak. Ibu meraba-raba lengan bapak.
“Tidak, pak. Aku tahu niat baik
mu. Tapi badai sedang berlanjut seminggu terakhir. Aku tidak ingin terjadi
sesuatu yang buruk” ibu menggenggam lengan bapak yang kekar.
“Tak apalah Ros, badai pasti
berlalu” bapak menenangkan ib sambil tersenyum. Ibu tahu kalau bapak sedang
bergurau.
“Jangan bergurau disaat seperti
ini. Aku serius Bang” ibu menggoyang-goyangkan lengan bapak. Bapak menggeleng.
Memeluk ibu, berbisik seribu obat penenang buat istrinya. Ibu hanya menyeka
ujung matanya.
Bapak akhirnya pergi.
Pergi, benar-benar pergi.
Keesokan harinya. Tak ada perahu bapak merapat di dermaga. Jenap, kerabat bapak
yang terburu-buru pergi ke rumah sakit. Mengabarkan berita yang benar-benar
buruk untuk keluarga kami. Ibu tak henti-hentinya terisak. Belum ada
tanda-tanda kedatangan bapak. Lima hari. Satu minggu. Bapak benar-benar lenyap
ditelan badai. Sampai akhirnya aku sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter
cantik itu.
Malam itu, saat aku tak lagi diceritakan
banyak kisah olehnya. Aku menangis. Mengisi di dalam sepi. Menatap rembulan.
Bapak. Apa kau bisa mendengar, ku?. Liana, anak bapak semata wayang.
Malam-malam yang benar menyakitkan.
Jika saja aku sudah dewasa saat
itu. Andai saja saat itu aku tidak terbaring di atas kasur di dalam ruangan
yang berbau khas ini—aku akan berlari ke dermaga. Berteriak keras. Kalau bisa,
aku akan menaiki salah satu kapal kecil. Nekat pergi mencari Bapak. Dalam sepi
aku menangis. Merengek ingin bertemu. Sayangnya, kebanyakan dari kita, dibukan
oleh kesedihan itu. Tidakkah kita menatap sejenak sekitar?. Ada seseorang yang
bahkan memilih mengkhawatirkan kita, dibanding berlart dalam kesedihan mendalam
atas kepergian kekasihnya.
Ibu memelukku lembut. Berbisik
tentang beribu janji yang dibisikan Bapak setiap harinya, di telinga ku. Aku
tidak menangis. Aku hanya menatap kosong janji-janji yang dijanjian Bapak.
Meredalah duka. Ku senderkan kepala di pangkuan Ibu. Ibu tersenyum—membelai
lembut rambut hitam legam ku. Menyanyikan lagu-lagu yang indah.
Taman
bunga menari
Bersiulah
burung-burung
Merasa
bebas
Berterbangan
Janji-janji
intan datang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar