Daun

Senin, 08 Juli 2013

Melampaui



prolog





Aku meneguk air teh hangat yang sejak tadi menemani ku. Santai menunggu. Membaca koran. Ini waktu pagi jam sembilan—aku menunggu seseorang. Seseorang yang ku ajak pulang ke balik tembok yang sudah tidak lagi kokoh. Tembok yang sudah menjadi puing-puing semata. Dia seorang wanita yang benar-benar paham akan situasi yang selalu aku hadapi. Mengerti dan menjadi seorang pendengar dan pemberi nasihat yang baik menggantikan tembok nan indah itu.
Waktu masih begitu panjang. Aku sengaja datang lebih awal. Aku ingin sedikit mengenang banyak hal—sudah terlalu lama aku meninggalkan negeri ku sendiri. Nampak beribu orang berlaluan mengejar waktu, santai karena berlibur, bahkan panik terlihat di wajah salah satu orang-orang ini. Orang-orang berjas dengan nyamannya berjalan dengan pengaman manusia di tiap pojokan ia berdiri. Mengusir siapa saja yang ada di hadapannya. Yang dikawal memakai kacamata hitam bergaya dengan jas rapih. Rombongan itu lewat tidak mengenal siapapun yang ada di hadapannya. Seoran Ibu hamil nakmpak merasa kesal karena orang-orang yang mengangkat dagu dan menjunjung ototnya menghalangi jalannya yang tidka terlalu bebas. Wajah sang Ibu tampak lucu. Membuat orang-orang disekitar tertawa dan menyoraki rombongan orang-orang yang bisa jadi penting itu.
Aku tersenyum melihat Ibu hamil itu. Sekaran waktu menunjunkkan 09.30 WIB. Aku masih menunggu sambil meminum teh hangat kembali. Umur ku sudah tiga puluh tahun. Usia yang cukup matang, bukan?. Aku pulang ke Jakarta untuk memenuhi sebuah janji. Janji yang tidak akan aku ingkari. Janji membawa putri cantik itu ke balik tembok nan anggun itu.
Tapi hari ini semoga tidak ada lagi kabar yang membuat ku harus membatalkannya. Semoga tidak. Kalian tahu?. Begitu sakit jika membatalkan janji yang sangat kita ingin tepati—padahal itu sudah kehendak Tuhan, bukan?.
Dulu. Di tempat yang sama, kursi yang sama, waktu yang sama—hanya tahun yang berbeda, di tempat ini aku bukan sedang menunggu dan bukan sedang datang. Tapi aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Pergi untuk melamapaui seseorang yang sangat aku cintai di dunia ini, pergi untuk melampaui seseorang yang ku punya satu-satunya di dunia. Aku akan pergi memenuhi janji untuknya, untuk Ayah juga Ibu dan untuk diri ku sendiri. Aku akan melampaui seseorang setelah aku membuatnya begitu luar biasa besar di dunia. 

Kali ini hal yang sama bisa saja terjadi—tapi pada siapa?—bisa jadi pada seseorang yang aku tunggu saat ini.
Aku meneguk kembali teh ini. teh mulai sedikit terasa dingin. Kembali menatap sekitar, memperhatikan banyak tabiat baik maupun buruk seseorang lewat memperhatikan di sini itu baik—bisa belajar dengan tersirat. Belajar dengan hanya memandang kehidupan orang lain.
Aku menatap serius beribu skenario yang dibuat oleh sang pencipta. Menyaksikan skenario di depan mata—itu menyenangkan.
Saat aku menatap ke depan, ada sesuatu yang terlihat ganjil.
Aku tersenyum ria. Aku mengenal senyuman dari balik keramaian itu. Membuat keramaian ini menjadi sepi seketika. Aku mengenal rambut hitam legam yang sekarang telah memanjang itu. Aku begitu mengenalnya. Dia seseorang yang aku ingin bawa pulang ke balik tembok cantik nan menyenangkan ku.
Wanita itu melambaikan tangannya. Rambut hitam panjangnya tergerai indah dan jatuh begitu saja di pundak kirinya. Pemandangan ini lebih indah dari iklan shampo di TV.
“Kau menunggu lama?” wanita itu tersenyum begitu anggun. Wajahnya sudah berubah lebih menyenangkan lagi dari pada tiga tahun yang lampau. Aku masih menatapnya yang sibuk melirik ke arah teh yang telah habis. Aku menggeleng.
“Bukan milik ku” aku tersenyum dan mengelus rambutnya yang begitu lembut. Dia mengernyitkan dahi.
“Bukankah, sepuluh menit yang lalu, kau mendengar pesawat baru saja mendarat?” aku berkata meyakininya yang terlihat sedikit curiga. Wajahnnya berubah—senyuman itu kembali terlihat.
“Aku senang bisa menjemput kamu, Yard” wanita itu terus saja terseyum. Ya Tuhan, apa ini syurga dunia?.
Aku tersenyum. Aku menatap bandara ini.
Aya, Kakak pulang. Kakak akan bawa wanita cantik ini melampaui mu. Seperti janji ku. Kakak tidak tahu apa Kakak telah melampaui mu. Kakak tidak tahu, Aya.
Bagaimana kabar mu di sana Aya?. Bukankah, itu tempat terbaik dari yang terbaik?—rumah yang terbaik dari rumah yang terbaik?.
Aya, sedang apa kau di sana?—wahai tembok yang amat cantik jelita.


Jam Yang Rusak




Ayah sedang sedang menyantap sarapannya. Pagi-pagi Ayah harus pergi sepagi ini untuk melayani masyarakat yang sangat membutuhkan tenaganya. Aya sepagi ini malah merengek ria di depan Ibu. Menarik-narik daster Ibu yang sejak tadi sibuk sekali seperti setrikaan—dapur-meja makan. Bapak memerhatikan Aya yang sejak tadi berusah meminta sesuatu.
“Ibu, Aya janji deh—nilai Aya akan sepuluh semua. Aya janji, Bu” Aya masih saja sibuk menarik-narik baju Ibu. Aku tidak begitu peduli—paling hanya meminta mainan atau boneka.
Ibu menghentikan kesibukannya. Aya menatap Ibu dengan penuh pengharapan. Ibu hanya menatapnya sebentar lalu—sibuk kembali membereskan bekal untuk kami. Aya kembali merengek tanpa ampun. Ayah mulai tidak nyaman. Ia hentikan makannya dan mencuci tangan.
“Aya, kemarilah sebentar. Ayah buru-buru” Ayah mengayunkan tangannya ke arah Aya. Aya menjadi antusias. Pasti akan ada sesuatu yang special jika Ayah sudah mulai bertindak dalam urusan seperti ini. Aya tertarik. Ia berlari ke arah Ayah yang memasuki ruang tengah.
Aku selesai makan—tidak begitu tertarik dengan Aya. Aku segera mengamil tas di ruang tengah—yang tidak lain, ada kamar Ayah dan Ibu juga di luarnya ada kasur kami.
Ayah duduk masuk ke kamarnya. Aya menunggu di kasurnya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ayah keluar dai kamar sambil menyembunyikan tangan dari balik unggungnya yang menyenangkan. Aku masih sibuk dengan tas ku dan memasukan beberapa mainan kecil. Ayah duduk di samping Aya. Aya menatap penuh keantusiasan.
Ia keluarkan apa yang ada di balik punggungnya. Ia tersenyum lebar.
Aku hanya menoleh.
“Jam rusak?” Aya melemas, terlihat sekali wajahnya yang merasa kecewa. Aku menyengir kuda. Ternyata hanya dua jam rusak gelangnya.
Ayah menggelengkan kepalanya. “Ih, Ayah. Ini rusak semua. Benar, kok” Aya mengulurkan jam tangannya. Aku sekarang benar-benar tertarik. Aku berdiri mendekati.
Ayah menggeleng untuk yang kedua kalinya.
“Jam yang ini, benar-benar rusak.” Ayah mengambil salah satu jam yang memang benar sangat rusak. Aku memerhatikan. Pun Aya dengan wajah kecewanya.
“Tapi yang ini tidak rusak seutuhnya, bukan?. Hanya tidak ada bagian pergelangannya saja” Ayah mengambil jam kedua yang masih hidup tetapi sudah tidak bisa dipakai kembali di tangan siapapun. Aya mengangguk. Aku masih memerhatikan dan menunggu penjelasan Ayah. Ayah tersenyum lebar.
“Ada banyak sekali yang bisa kamu pelajari dari jam tangan ini, Aya. Ah iya, Ayah harus berangkat sekarang. Pejabat berangkat dulu ya, anak-anak” Ayah menyerahkan kedua jam itu pada Aya. Aya semakin manyun karena tidak diberi penjelasan yang lebih lagi.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Kenapa tidak ada penjelasan sama sekali?. Sudahlah. Aku bawa tas dan pamit pada Ibu. Ayah mengacak-acak rambut Aya. Aya masih tidak paham dan terus menatap jam tangan itu.
 Aku dan Ayah memakai sepatu di depan rumah. Selalu seperti ini dipagi hari. Selalu. Aku dan Ayah memberi salam dan aku menciun tangannya. Lalu kami berpisah jalan. Ayah ke kiri—aku ke kanan.
Aku berlari kencang ke depan. Orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada Teh Oot yang sedang menjemur bajunya. Ada Tante Urda yang sibuk dengan dagangan di warungnya. Aku menyapa mereka dengan ramah. Berlarian berangkat sekolah dengan semangat.
Nama ku Riyard. Umur sebelas tahun. Aku duduk di kelas enam SD. Ayah bekerja sebagai pegawai di kelurahan. Beliau sangat bijak dan berwibawa. Bagi ku dan adik ku—Ayah selalu menajdi Gubernur—bahkan menajdi seorang Presiden untuk ku dan adik ku. Adik ku bernama Aya—perempuan yang mendapat jam tangan rusak dari Ayah. Dia perempuan yang cantik seperti Ibu—rambutnya yang sebahu dan hitam legam berkilauan, lurus dan begitu anggun. Dia memang cantik. Matanya yang bulat hitam bersinar dan raut wajahnya yang menyenangkan kekanakan—kadang membuat ku tidak mampu menolak apa yang ia minta pada ku. Aya berumur sembilan tahun, duduk di kelas tiga SD. Aku satu sekolah dengannya. Yang aku herankan, dia tidak pernah ingin bersekolah di tempat yang sama dengan ku. Selalu itu yang ia keluhkan. Padahal seharusnya aku yang merasa kesal karena dia satu sekolah dengan ku. Tapi malah sebaliknya. Alasannya, takut aku akan mengikuti setiap kegiatan yang ia lakukan dan terus saja mengintilinya. Hey, seharusnya ak yang merasa seperti itu. Aku acapkali protes denagn asumsinya itu. Toh, aku tidak pernah seperti itu selama tiga tahun terakhir. Aku tetap cuek engan kegiatannya. Lagi pula, ia selalu menceritakan kegiatannya di sekolah saat di rumah. Mengambil alih pembicaraan saat di meja makan. Jadi aku tidak perlu khawatir, bukan?. Aya saja yang terlihat aneh.
Kami memiliki Ibu yang sangat cantik. Matanya bulat seperti Aya. rambutnya panjang dikuncir rapih di belakang. Pekerjaannya memang Ibu rumah tangga. Tapi harus ku akui—beliau masih bekerja sebagai tukang cuci dan menggosok di rumah tetangga. Ibu tidak pernah bisa diam, selalu saja ada yang ia kerjakan. Enatah apalah. Uang dari hasil kerjanya dipakai untuk membantu biaya sekolah dan kehidupan kami sehari-hari. Ayah juga idak pernah merasa keberatan jika Ibu juga bekerja. Baginya yang penting tidak melebihi ketentuan dan juga halal pekerjaannya. Terkadang Ibu benar-benar merasa lelah karena pekerjaanya, tapi ia tidak mau berhenti. Ini yang membuat aku selalu mencoba untuk menghormati Ibu. Meskipun ia benar-benar marah, tetapi rasa sayang tetap tertancam dan tak bisa dicabut lagi olehnya di dalam hatinya. Begitulah bagi ku seorang Ibu. Bagi aku anak laki-laki yang terkadang tidak tahu diri dan begitu nakal di hadapannya. Dia tetap menyayangi kita, meski dalam keadaan marah besar sekalipun. Aku masuk pagi. Aya masuk siang. Saat aku pulang sekolah, wajah Aya masih saja terlihat kecewa dengan kejadian tadi pagi.
“Ya sudahlah, Ya. Pasti kamu disuruh cari penjelasan sendiri mungkin—sama Ayah” aku masuk rumah sudah menyembur wajah Aya dengan obrolan sok tahu ku.
Aya melotot ke arah ku. “Apaan sih, Kak. Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima menit. Aya lupa buat PR” Aya garuk-garuk kepalanya sambil memasukan buku PR-nya. Aku menepuk jidat. Ku kira apa.
“Coba Kakak lihat” aku mencoba memberanikan diri untuk mengerjakan PR-nya. Aya menarik buku PR-nya. “Aku lebih pintar dari, Kakak. Bagaimana pula kakak mampu menjawab PR-ku?” Aya meremehkan ku dengan wajahnya yang menjadi menyebalkan.
Aku ber-puhh. Aku pergi kebelakang dan melihat Ibu yang asyik dengan cucian tetangga. Aku menelan ludah saat Ibu mengelap peluhnya di dahi. Aku berjalan perlahan, hendak bersalaman. Ibu menyambut dengan seperti biasanya. “Makan, Yard. Awas kau, jangan langsung pergi main” Ibu memerintahkan sambil terus menggosrek pakaian. Aku ber-ya, segera meletakkan tas dan mengganti baju. Sepi, hanya ada suara gosrekan baju. Sepertinya, Aya sudah pergi ke sekolah.
Ibu sudah selesai mencuci. Aku sedang asyik dengan santapan siang ku. Ibu datang menghampiri. “Yard, memang di sekolah ada apa?. Kenapa adik mu merengek tidak ingin masuk sekolah hari ini?. Hah, untung Ayah memberikan sesuatu. Ibu bingung” Ibu bertanya penasaran. Aku hampir saja tersedak. Tidak ingin masuk sekolah?. Aku mengernyitkan dahi tidak mengerti. Meminta sedikit penjelasan.
“Adik mu, semalam ke kamar Ibu. Dia bilang dia tidak ingin masuk sekolah hari ini. Saat Ibu tanya kenapa. Dia tidak menjawab, malah terus memohon. Jadi, Ibu juga tidak jawab. Untung Ayah kau memberikan jam rusak itu. Dia malah minta maaf sama Ibu tadi. Bilang, kalau dia bodoh sekali malah membolos. Padahal cuma karena tugas. Memang ada apa, Riyard” Ibu menjelaskan tanpa memotong satu pun cerita. Aku menelan ludah. Hebat sekali Aya bisa sadar secepat itu.
“Mungkin tugas yang belum ia kerjakan, Bu. Tadi Aya bilang ke Riyard, dia lagi mikir. Sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. ‘Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima menit’. Gitu Bu” aku tidak memotong bagian kata itu, bahkan aku memeraktekan cara bicaranya di depan Ibu. Ibu melotot sambil mengernyitkan dahi.
“Riyard serius. Mungkin PR-nya susah, Bu” aku bela sedikit adik ku. Aku tahu, Ibu akan marah sepanjang minggu ini jika mendengar alasan tidak mengerjakan PR. Aku pun akan kena sasaran sepanjang minggu ini.
Ibu ber-oh. Aku yang kini menghela nafas lega. “Jam itu, berguna juga” Ibu mengangguk-anggukan kepala. Jam?.

***

Aku sedang asyik dengan tugas rumah alias PR-ku. Ini pelajaran kesukaan ku, matematika. Tidak ada yang bisa menandingi rasa suka itu. Entah sejak kapan aku begitu menyukai pelajaran ini. Pak Arif adalah guru matematika sekaligus guru mata pelajaran yang lainnya. Tapi bisa dibilang, Pak Arif tulen guru matematika. Melihat cara mengajar matematika berbeda dengan mata pelajaran yang lain, sudah membuat ku tahu persis. Beliau adalah guru matematika tulen.
Pernah Pak Arif berkata, “Nak, jika kalian ingin mnguasai sesuatu. Maka sukailah dulu guru yang mengajarkan sesuatu yang ingin kalian kuasai itu”. Semua murid hanya be-oh ria. Tidak begitu mengerti maksud dari Pak Arif.
Saat ini aku malah memikirkan terus perkataan Pak Arif. Benar saja, aku begitu menyukai Pak Arif—dalam arti mengagumi. Dia orang pertama yang membela aku di kelas dan juga yang pertama kali menyalahkan aku di dalam kelas. Aku tidak tahu apa maksud Pak Arif, tapi aku tahu itu baik untuk kami semua.

Aya menyikut lengan ku. “Kak, Aya pusing.  Mau tidaur saja. Aya tahu, Aya lebih pintar dari Kakak. Makanya, Kakak kerjakan ya, PR Aya. Aya pusing” Aya berbisik kepada ku. Aku melotot ria. Beraninya kau memerintah Kakak mu. Mata ku mendelik. Aya mulai mengerti apa aksara dalam tatapan ku. Dia mulai memelas dengan wajah menggemaskannya.
Ayah tiba-tiba sudah berada di samping kami. Aku sedikit terloncat.
“Aya, jam rusaknya?” Ayah mengelus rambut Aya. Aya menyengir ria.
Aku yang duduk di samping Aya menyikut lengannya—hendak bertanya. Yang disikut hanya menundukan kepalanya. Aku hanya bingung dibuatnya. Ada apa?. Ayah tidak bicara lagi, ia hanya bicara seperti itu dan pergi ke kamarnya. Aku menoleh ke arah mereka berdua. Ada sesuatu yang tidak aku tahu—tapi apa?.
“Aya—“ baru aku menoleh pada Aya—ia berdiri mengambil buku yang tadi diserahkan pada ku. Aku hanya menggeruk kepala ku yang tak gatal. Tak mengeti. Aya pergi ke ruang tamu dan meneruskan mengerjakan tugasnya. Aku datang menghampirinya. Ingin rasanya aku membantu si rambut hitam legam ini.
“Kepala kau—“ Ayah menarik aku yang sudah berjalan hampir melewati ruang tamu. Aku menatap Ayah. Ayah menggeleng dengan tatapan mata yang tegas, itu artinya aku akan dihukum jika melawan perintahnya barusan.
“Itu hanya alasan adik mu saja untuk tidak mengerjakan tugaasnya. Kau sendiri juga tahu kalau adik kau tak suka pelajaran matematika kan?. Tapi biarkan dia belajar—dengan waktu yang terus berjalan, pasti dia akan menyukai pelajaran itu bukan?” Ayah berbisik berbicara dengan ku. Aku paham sekarang. Aya memang tidak menyukai matematika, baginya matematika terlalu rumit. Walaupun nilai matematikanya bahkan di atas rata-rata, tapi rasa suka tetap tidak bisa dipaksakan.
“Jam rusak itu ada gunanya untuk adik mu. Jam pertama—jam rusak detakkannya, jam yang benar-benar tidak bisa dipakai lagi. Adik mu mudah saja tahu arti semua itu. Ketika waktu benar-benar berhenti, segala hal tidak dapat dipakai kembali. Jadi dunakan waktu dengan sebaik mungkin. Jam kedua—jam yang masih menyala, hanya saja tidak bisa dipakai karena gelangnya sudah rusak. Adik mu sekali lagi mengerti dengan mudah apa maksud Ayah. Jika waktu terus berjalan tapi kau rusak dengan cara yang sia-sia, maka waktu tidak akan bisa kau pakai. Bahkan bisa jadi, waktu enggan dipakai oleh mu. Bagaimana menurut mu, Riyard?” Ayah menjelaskan panjang lebar. Sungguh, Aya benar-benar anak yang benar-benar pintar. Bagaimana bisa ia menyimpulkan semua itu dengan hanya menatap ke dua jam yang diberikan Ayah?. Bahkan hal yang seperti itu sama sekali tidak terpikirkan oleh otak ku ini. Aku menelan ludah menatap Ayah yang menjelaskan panjang lebar.
“Seharusnya kau lebih paham dari adik mu, Riyard. Suatu hari nanti, kau-lah yang harus menjaganya tanpa Ayah. Bisa jadi, tanpa Ibu pula” Ayah tersenyum mengacak-acak rambut ku. Aku mengangguk. Dua kalimat terakhir sungguh menyeramkan. Aku tak pernah berfikir sampai ke sana. Tidak pernah sedikitpun.
Aku menatap ke arah tugas-tugas matematika ku. Menatapnya dengan bingung. Bukankah, guru kelas tiga dan kelas enam sama-sama Pak Arif?. Tapi kenapa Aya tidak menyukai matematika?. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. aku harus melanjutkan tugas-tugas ini. Waktu tidak pernah mengizinkan kita membuatnya berhenti, kecuali pemilik waktu.


Jam Yang Rusak—2


Bunyi dentingan bel masuk sekolah kami, terdengar. Aku yang masih berada di luar pagar sekolah terlonjak kaget dan tidak sengaja menumpahkan es krim coklat ku. Aku mengomel-omel tak jelas. Darwis berteriak keras memanggilku untuk segera masuk. Aku berlari. Bel istirahat masih berdentang aku punya kesempatan untuk cepat masuk sebelum Mang Dodo menutup gerbang sekolah. Nampaknya Mang Dodo selalu sigap di depan pagar sekolah meneriaki murid sekolah. Jarak ku tinggal satu meter. Mang Dodo menyengir ria. Sengaja sekali mempercepat menutup gerbang. Sedikit lagi. Aku harus melampaui gerbang itu.
Aku menyentuh dada ku. Menoleh pada Mang Dodo, sedikit melotot. Mang Dodo hanya menyengir ria, puas melihat wajah ku yang cukup pias saat melewati pagar sekolah.
Mang Dodo adalah penjaga sekolah. Tidak hanya Mang Dodo, tapi ada Pak Getu yang menemani. Mereka berdualah yang bertugas membersihkan, menjaga juga mengebel saat jam-jam sekolah. Mereka berdua cukup cekatan dan tepat waktu. Tidak pernah sedikitpun meleset.
“Yard, ada yang bilang pada ku. Waktu itu begitu berharga, jadi jangan sia-siakan. Sekarang kau sia-siakan dengan berhenti sejenak untuk mengambil nafas karena berlari dari warung Mpok Menah ke sekolah


Tidak ada komentar: