prolog
Aku meneguk air teh hangat yang
sejak tadi menemani ku. Santai menunggu. Membaca koran. Ini waktu pagi jam
sembilan—aku menunggu seseorang. Seseorang yang ku ajak pulang ke balik tembok
yang sudah tidak lagi kokoh. Tembok yang sudah menjadi puing-puing semata. Dia
seorang wanita yang benar-benar paham akan situasi yang selalu aku hadapi.
Mengerti dan menjadi seorang pendengar dan pemberi nasihat yang baik
menggantikan tembok nan indah itu.
Waktu masih begitu panjang. Aku
sengaja datang lebih awal. Aku ingin sedikit mengenang banyak hal—sudah terlalu
lama aku meninggalkan negeri ku sendiri. Nampak beribu orang berlaluan mengejar
waktu, santai karena berlibur, bahkan panik terlihat di wajah salah satu
orang-orang ini. Orang-orang berjas dengan nyamannya berjalan dengan pengaman
manusia di tiap pojokan ia berdiri. Mengusir siapa saja yang ada di hadapannya.
Yang dikawal memakai kacamata hitam bergaya dengan jas rapih. Rombongan itu
lewat tidak mengenal siapapun yang ada di hadapannya. Seoran Ibu hamil nakmpak
merasa kesal karena orang-orang yang mengangkat dagu dan menjunjung ototnya
menghalangi jalannya yang tidka terlalu bebas. Wajah sang Ibu tampak lucu.
Membuat orang-orang disekitar tertawa dan menyoraki rombongan orang-orang yang
bisa jadi penting itu.
Aku tersenyum melihat Ibu hamil itu.
Sekaran waktu menunjunkkan 09.30 WIB. Aku masih menunggu sambil meminum teh
hangat kembali. Umur ku sudah tiga puluh tahun. Usia yang cukup matang, bukan?.
Aku pulang ke Jakarta untuk memenuhi sebuah janji. Janji yang tidak akan aku
ingkari. Janji membawa putri cantik itu ke balik tembok nan anggun itu.
Tapi hari ini semoga tidak ada lagi
kabar yang membuat ku harus membatalkannya. Semoga tidak. Kalian tahu?. Begitu
sakit jika membatalkan janji yang sangat kita ingin tepati—padahal itu sudah
kehendak Tuhan, bukan?.
Dulu. Di tempat yang sama, kursi
yang sama, waktu yang sama—hanya tahun yang berbeda, di tempat ini aku bukan
sedang menunggu dan bukan sedang datang. Tapi aku akan pergi meninggalkan
tempat ini. Pergi untuk melamapaui seseorang yang sangat aku cintai di dunia
ini, pergi untuk melampaui seseorang yang ku punya satu-satunya di dunia. Aku
akan pergi memenuhi janji untuknya, untuk Ayah juga Ibu dan untuk diri ku
sendiri. Aku akan melampaui seseorang setelah aku membuatnya begitu luar biasa
besar di dunia.
Kali ini hal yang sama bisa saja
terjadi—tapi pada siapa?—bisa jadi pada seseorang yang aku tunggu saat ini.
Aku meneguk kembali teh ini. teh
mulai sedikit terasa dingin. Kembali menatap sekitar, memperhatikan banyak
tabiat baik maupun buruk seseorang lewat memperhatikan di sini itu baik—bisa belajar
dengan tersirat. Belajar dengan hanya memandang kehidupan orang lain.
Aku menatap serius beribu skenario
yang dibuat oleh sang pencipta. Menyaksikan skenario di depan mata—itu menyenangkan.
Saat aku menatap ke depan, ada
sesuatu yang terlihat ganjil.
Aku tersenyum ria. Aku mengenal
senyuman dari balik keramaian itu. Membuat keramaian ini menjadi sepi seketika.
Aku mengenal rambut hitam legam yang sekarang telah memanjang itu. Aku begitu
mengenalnya. Dia seseorang yang aku ingin bawa pulang ke balik tembok cantik
nan menyenangkan ku.
Wanita itu melambaikan tangannya. Rambut
hitam panjangnya tergerai indah dan jatuh begitu saja di pundak kirinya. Pemandangan
ini lebih indah dari iklan shampo di TV.
“Kau menunggu lama?” wanita itu
tersenyum begitu anggun. Wajahnya sudah berubah lebih menyenangkan lagi dari pada
tiga tahun yang lampau. Aku masih menatapnya yang sibuk melirik ke arah teh
yang telah habis. Aku menggeleng.
“Bukan milik ku” aku tersenyum dan
mengelus rambutnya yang begitu lembut. Dia mengernyitkan dahi.
“Bukankah, sepuluh menit yang lalu, kau
mendengar pesawat baru saja mendarat?” aku berkata meyakininya yang terlihat
sedikit curiga. Wajahnnya berubah—senyuman itu kembali terlihat.
“Aku senang bisa menjemput kamu,
Yard” wanita itu terus saja terseyum. Ya Tuhan, apa ini syurga dunia?.
Aku tersenyum. Aku menatap bandara
ini.
Aya, Kakak pulang. Kakak akan bawa
wanita cantik ini melampaui mu. Seperti janji ku. Kakak tidak tahu apa Kakak
telah melampaui mu. Kakak tidak tahu, Aya.
Bagaimana kabar mu di sana Aya?.
Bukankah, itu tempat terbaik dari yang terbaik?—rumah yang terbaik dari rumah
yang terbaik?.
Aya, sedang apa kau di sana?—wahai tembok
yang amat cantik jelita.
Jam Yang Rusak
Ayah sedang sedang menyantap
sarapannya. Pagi-pagi Ayah harus pergi sepagi ini untuk melayani masyarakat
yang sangat membutuhkan tenaganya. Aya sepagi ini malah merengek ria di depan
Ibu. Menarik-narik daster Ibu yang sejak tadi sibuk sekali seperti
setrikaan—dapur-meja makan. Bapak memerhatikan Aya yang sejak tadi berusah
meminta sesuatu.
“Ibu, Aya janji deh—nilai Aya akan
sepuluh semua. Aya janji, Bu” Aya masih saja sibuk menarik-narik baju Ibu. Aku
tidak begitu peduli—paling hanya meminta mainan atau boneka.
Ibu menghentikan kesibukannya. Aya
menatap Ibu dengan penuh pengharapan. Ibu hanya menatapnya sebentar lalu—sibuk
kembali membereskan bekal untuk kami. Aya kembali merengek tanpa ampun. Ayah
mulai tidak nyaman. Ia hentikan makannya dan mencuci tangan.
“Aya, kemarilah sebentar. Ayah
buru-buru” Ayah mengayunkan tangannya ke arah Aya. Aya menjadi antusias. Pasti
akan ada sesuatu yang special jika Ayah sudah mulai bertindak dalam urusan
seperti ini. Aya tertarik. Ia berlari ke arah Ayah yang memasuki ruang tengah.
Aku selesai makan—tidak begitu
tertarik dengan Aya. Aku segera mengamil tas di ruang tengah—yang tidak lain,
ada kamar Ayah dan Ibu juga di luarnya ada kasur kami.
Ayah duduk masuk ke kamarnya. Aya
menunggu di kasurnya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Ayah keluar dai kamar
sambil menyembunyikan tangan dari balik unggungnya yang menyenangkan. Aku masih
sibuk dengan tas ku dan memasukan beberapa mainan kecil. Ayah duduk di samping
Aya. Aya menatap penuh keantusiasan.
Ia keluarkan apa yang ada di balik
punggungnya. Ia tersenyum lebar.
Aku hanya menoleh.
“Jam rusak?” Aya melemas, terlihat
sekali wajahnya yang merasa kecewa. Aku menyengir kuda. Ternyata hanya dua jam
rusak gelangnya.
Ayah menggelengkan kepalanya. “Ih,
Ayah. Ini rusak semua. Benar, kok” Aya mengulurkan jam tangannya. Aku sekarang
benar-benar tertarik. Aku berdiri mendekati.
Ayah menggeleng untuk yang kedua
kalinya.
“Jam yang ini, benar-benar rusak.” Ayah
mengambil salah satu jam yang memang benar sangat rusak. Aku memerhatikan. Pun
Aya dengan wajah kecewanya.
“Tapi yang ini tidak rusak
seutuhnya, bukan?. Hanya tidak ada bagian pergelangannya saja” Ayah mengambil
jam kedua yang masih hidup tetapi sudah tidak bisa dipakai kembali di tangan
siapapun. Aya mengangguk. Aku masih memerhatikan dan menunggu penjelasan Ayah.
Ayah tersenyum lebar.
“Ada banyak sekali yang bisa kamu
pelajari dari jam tangan ini, Aya. Ah iya, Ayah harus berangkat sekarang.
Pejabat berangkat dulu ya, anak-anak” Ayah menyerahkan kedua jam itu pada Aya.
Aya semakin manyun karena tidak diberi penjelasan yang lebih lagi.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Kenapa
tidak ada penjelasan sama sekali?. Sudahlah. Aku bawa tas dan pamit pada Ibu.
Ayah mengacak-acak rambut Aya. Aya masih tidak paham dan terus menatap jam
tangan itu.
Aku dan Ayah memakai sepatu di depan rumah.
Selalu seperti ini dipagi hari. Selalu. Aku dan Ayah memberi salam dan aku
menciun tangannya. Lalu kami berpisah jalan. Ayah ke kiri—aku ke kanan.
Aku berlari kencang ke depan.
Orang-orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Ada Teh Oot yang sedang
menjemur bajunya. Ada Tante Urda yang sibuk dengan dagangan di warungnya. Aku
menyapa mereka dengan ramah. Berlarian berangkat sekolah dengan semangat.
Nama ku Riyard. Umur sebelas tahun.
Aku duduk di kelas enam SD. Ayah bekerja sebagai pegawai di kelurahan. Beliau
sangat bijak dan berwibawa. Bagi ku dan adik ku—Ayah selalu menajdi
Gubernur—bahkan menajdi seorang Presiden untuk ku dan adik ku. Adik ku bernama
Aya—perempuan yang mendapat jam tangan rusak dari Ayah. Dia perempuan yang
cantik seperti Ibu—rambutnya yang sebahu dan hitam legam berkilauan, lurus dan
begitu anggun. Dia memang cantik. Matanya yang bulat hitam bersinar dan raut
wajahnya yang menyenangkan kekanakan—kadang membuat ku tidak mampu menolak apa
yang ia minta pada ku. Aya berumur sembilan tahun, duduk di kelas tiga SD. Aku
satu sekolah dengannya. Yang aku herankan, dia tidak pernah ingin bersekolah di
tempat yang sama dengan ku. Selalu itu yang ia keluhkan. Padahal seharusnya aku
yang merasa kesal karena dia satu sekolah dengan ku. Tapi malah sebaliknya.
Alasannya, takut aku akan mengikuti setiap kegiatan yang ia lakukan dan terus
saja mengintilinya. Hey, seharusnya ak yang merasa seperti itu. Aku acapkali
protes denagn asumsinya itu. Toh, aku tidak pernah seperti itu selama tiga
tahun terakhir. Aku tetap cuek engan kegiatannya. Lagi pula, ia selalu
menceritakan kegiatannya di sekolah saat di rumah. Mengambil alih pembicaraan
saat di meja makan. Jadi aku tidak perlu khawatir, bukan?. Aya saja yang
terlihat aneh.
Kami memiliki Ibu yang sangat
cantik. Matanya bulat seperti Aya. rambutnya panjang dikuncir rapih di
belakang. Pekerjaannya memang Ibu rumah tangga. Tapi harus ku akui—beliau masih
bekerja sebagai tukang cuci dan menggosok di rumah tetangga. Ibu tidak pernah
bisa diam, selalu saja ada yang ia kerjakan. Enatah apalah. Uang dari hasil
kerjanya dipakai untuk membantu biaya sekolah dan kehidupan kami sehari-hari.
Ayah juga idak pernah merasa keberatan jika Ibu juga bekerja. Baginya yang
penting tidak melebihi ketentuan dan juga halal pekerjaannya. Terkadang Ibu
benar-benar merasa lelah karena pekerjaanya, tapi ia tidak mau berhenti. Ini
yang membuat aku selalu mencoba untuk menghormati Ibu. Meskipun ia benar-benar
marah, tetapi rasa sayang tetap tertancam dan tak bisa dicabut lagi olehnya di
dalam hatinya. Begitulah bagi ku seorang Ibu. Bagi aku anak laki-laki yang
terkadang tidak tahu diri dan begitu nakal di hadapannya. Dia tetap menyayangi
kita, meski dalam keadaan marah besar sekalipun. Aku masuk pagi. Aya masuk
siang. Saat aku pulang sekolah, wajah Aya masih saja terlihat kecewa dengan
kejadian tadi pagi.
“Ya sudahlah, Ya. Pasti kamu disuruh
cari penjelasan sendiri mungkin—sama Ayah” aku masuk rumah sudah menyembur
wajah Aya dengan obrolan sok tahu ku.
Aya melotot ke arah ku. “Apaan sih,
Kak. Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu lima
menit. Aya lupa buat PR” Aya garuk-garuk kepalanya sambil memasukan buku
PR-nya. Aku menepuk jidat. Ku kira apa.
“Coba Kakak lihat” aku mencoba
memberanikan diri untuk mengerjakan PR-nya. Aya menarik buku PR-nya. “Aku lebih
pintar dari, Kakak. Bagaimana pula kakak mampu menjawab PR-ku?” Aya meremehkan
ku dengan wajahnya yang menjadi menyebalkan.
Aku ber-puhh. Aku pergi kebelakang dan melihat Ibu yang asyik dengan cucian
tetangga. Aku menelan ludah saat Ibu mengelap peluhnya di dahi. Aku berjalan
perlahan, hendak bersalaman. Ibu menyambut dengan seperti biasanya. “Makan,
Yard. Awas kau, jangan langsung pergi main” Ibu memerintahkan sambil terus
menggosrek pakaian. Aku ber-ya, segera meletakkan tas dan mengganti baju. Sepi,
hanya ada suara gosrekan baju. Sepertinya, Aya sudah pergi ke sekolah.
Ibu sudah selesai mencuci. Aku
sedang asyik dengan santapan siang ku. Ibu datang menghampiri. “Yard, memang di
sekolah ada apa?. Kenapa adik mu merengek tidak ingin masuk sekolah hari ini?.
Hah, untung Ayah memberikan sesuatu. Ibu bingung” Ibu bertanya penasaran. Aku
hampir saja tersedak. Tidak ingin masuk sekolah?. Aku mengernyitkan dahi tidak
mengerti. Meminta sedikit penjelasan.
“Adik mu, semalam ke kamar Ibu. Dia
bilang dia tidak ingin masuk sekolah hari ini. Saat Ibu tanya kenapa. Dia tidak
menjawab, malah terus memohon. Jadi, Ibu juga tidak jawab. Untung Ayah kau
memberikan jam rusak itu. Dia malah minta maaf sama Ibu tadi. Bilang, kalau dia
bodoh sekali malah membolos. Padahal cuma karena tugas. Memang ada apa, Riyard”
Ibu menjelaskan tanpa memotong satu pun cerita. Aku menelan ludah. Hebat sekali
Aya bisa sadar secepat itu.
“Mungkin tugas yang belum ia
kerjakan, Bu. Tadi Aya bilang ke Riyard, dia lagi mikir. Sambil menunjuk-nunjuk
kepalanya. ‘Aya Cuma lagi mikirin—gimana caranya mengerjakan PR dalam waktu
lima menit’. Gitu Bu” aku tidak memotong bagian kata itu, bahkan aku
memeraktekan cara bicaranya di depan Ibu. Ibu melotot sambil mengernyitkan
dahi.
“Riyard serius. Mungkin PR-nya
susah, Bu” aku bela sedikit adik ku. Aku tahu, Ibu akan marah sepanjang minggu
ini jika mendengar alasan tidak mengerjakan PR. Aku pun akan kena sasaran
sepanjang minggu ini.
Ibu ber-oh. Aku yang kini menghela
nafas lega. “Jam itu, berguna juga” Ibu mengangguk-anggukan kepala. Jam?.
***
Aku sedang asyik dengan tugas rumah
alias PR-ku. Ini pelajaran kesukaan ku, matematika. Tidak ada yang bisa
menandingi rasa suka itu. Entah sejak kapan aku begitu menyukai pelajaran ini.
Pak Arif adalah guru matematika sekaligus guru mata pelajaran yang lainnya.
Tapi bisa dibilang, Pak Arif tulen guru matematika. Melihat cara mengajar
matematika berbeda dengan mata pelajaran yang lain, sudah membuat ku tahu
persis. Beliau adalah guru matematika tulen.
Pernah Pak Arif berkata, “Nak, jika
kalian ingin mnguasai sesuatu. Maka sukailah dulu guru yang mengajarkan sesuatu
yang ingin kalian kuasai itu”. Semua murid hanya be-oh ria. Tidak begitu
mengerti maksud dari Pak Arif.
Saat ini aku malah memikirkan terus
perkataan Pak Arif. Benar saja, aku begitu menyukai Pak Arif—dalam arti
mengagumi. Dia orang pertama yang membela aku di kelas dan juga yang pertama
kali menyalahkan aku di dalam kelas. Aku tidak tahu apa maksud Pak Arif, tapi
aku tahu itu baik untuk kami semua.
Aya menyikut lengan ku. “Kak, Aya
pusing. Mau tidaur saja. Aya tahu, Aya
lebih pintar dari Kakak. Makanya, Kakak kerjakan ya, PR Aya. Aya pusing” Aya
berbisik kepada ku. Aku melotot ria. Beraninya kau memerintah Kakak mu. Mata ku
mendelik. Aya mulai mengerti apa aksara dalam tatapan ku. Dia mulai memelas
dengan wajah menggemaskannya.
Ayah tiba-tiba sudah berada di
samping kami. Aku sedikit terloncat.
“Aya, jam rusaknya?” Ayah mengelus
rambut Aya. Aya menyengir ria.
Aku yang duduk di samping Aya
menyikut lengannya—hendak bertanya. Yang disikut hanya menundukan kepalanya.
Aku hanya bingung dibuatnya. Ada apa?. Ayah tidak bicara lagi, ia hanya bicara
seperti itu dan pergi ke kamarnya. Aku menoleh ke arah mereka berdua. Ada
sesuatu yang tidak aku tahu—tapi apa?.
“Aya—“ baru aku menoleh pada Aya—ia berdiri
mengambil buku yang tadi diserahkan pada ku. Aku hanya menggeruk kepala ku yang
tak gatal. Tak mengeti. Aya pergi ke ruang tamu dan meneruskan mengerjakan
tugasnya. Aku datang menghampirinya. Ingin rasanya aku membantu si rambut hitam
legam ini.
“Kepala kau—“ Ayah menarik aku yang
sudah berjalan hampir melewati ruang tamu. Aku menatap Ayah. Ayah menggeleng
dengan tatapan mata yang tegas, itu artinya aku akan dihukum jika melawan
perintahnya barusan.
“Itu hanya alasan adik mu saja untuk
tidak mengerjakan tugaasnya. Kau sendiri juga tahu kalau adik kau tak suka
pelajaran matematika kan?. Tapi biarkan dia belajar—dengan waktu yang terus
berjalan, pasti dia akan menyukai pelajaran itu bukan?” Ayah berbisik berbicara
dengan ku. Aku paham sekarang. Aya memang tidak menyukai matematika, baginya
matematika terlalu rumit. Walaupun nilai matematikanya bahkan di atas rata-rata,
tapi rasa suka tetap tidak bisa dipaksakan.
“Jam rusak itu ada gunanya untuk
adik mu. Jam pertama—jam rusak detakkannya, jam yang benar-benar tidak bisa
dipakai lagi. Adik mu mudah saja tahu arti semua itu. Ketika waktu benar-benar
berhenti, segala hal tidak dapat dipakai kembali. Jadi dunakan waktu dengan
sebaik mungkin. Jam kedua—jam yang masih menyala, hanya saja tidak bisa dipakai
karena gelangnya sudah rusak. Adik mu sekali lagi mengerti dengan mudah apa
maksud Ayah. Jika waktu terus berjalan tapi kau rusak dengan cara yang sia-sia,
maka waktu tidak akan bisa kau pakai. Bahkan bisa jadi, waktu enggan dipakai
oleh mu. Bagaimana menurut mu, Riyard?” Ayah menjelaskan panjang lebar. Sungguh,
Aya benar-benar anak yang benar-benar pintar. Bagaimana bisa ia menyimpulkan
semua itu dengan hanya menatap ke dua jam yang diberikan Ayah?. Bahkan hal yang
seperti itu sama sekali tidak terpikirkan oleh otak ku ini. Aku menelan ludah
menatap Ayah yang menjelaskan panjang lebar.
“Seharusnya kau lebih paham dari
adik mu, Riyard. Suatu hari nanti, kau-lah yang harus menjaganya tanpa Ayah. Bisa
jadi, tanpa Ibu pula” Ayah tersenyum mengacak-acak rambut ku. Aku mengangguk. Dua
kalimat terakhir sungguh menyeramkan. Aku tak pernah berfikir sampai ke sana. Tidak
pernah sedikitpun.
Aku menatap ke arah tugas-tugas
matematika ku. Menatapnya dengan bingung. Bukankah, guru kelas tiga dan kelas
enam sama-sama Pak Arif?. Tapi kenapa Aya tidak menyukai matematika?. Aku menggaruk
kepala yang tidak gatal. aku harus melanjutkan tugas-tugas ini. Waktu tidak
pernah mengizinkan kita membuatnya berhenti, kecuali pemilik waktu.
Jam Yang Rusak—2
Bunyi dentingan bel masuk sekolah
kami, terdengar. Aku yang masih berada di luar pagar sekolah terlonjak kaget
dan tidak sengaja menumpahkan es krim coklat ku. Aku mengomel-omel tak jelas.
Darwis berteriak keras memanggilku untuk segera masuk. Aku berlari. Bel istirahat
masih berdentang aku punya kesempatan untuk cepat masuk sebelum Mang Dodo
menutup gerbang sekolah. Nampaknya Mang Dodo selalu sigap di depan pagar
sekolah meneriaki murid sekolah. Jarak ku tinggal satu meter. Mang Dodo
menyengir ria. Sengaja sekali mempercepat menutup gerbang. Sedikit lagi. Aku harus
melampaui gerbang itu.
Aku menyentuh dada ku. Menoleh pada
Mang Dodo, sedikit melotot. Mang Dodo hanya menyengir ria, puas melihat wajah
ku yang cukup pias saat melewati pagar sekolah.
Mang Dodo adalah penjaga sekolah. Tidak
hanya Mang Dodo, tapi ada Pak Getu yang menemani. Mereka berdualah yang
bertugas membersihkan, menjaga juga mengebel saat jam-jam sekolah. Mereka berdua
cukup cekatan dan tepat waktu. Tidak pernah sedikitpun meleset.
“Yard, ada yang bilang pada ku. Waktu
itu begitu berharga, jadi jangan sia-siakan. Sekarang kau sia-siakan dengan
berhenti sejenak untuk mengambil nafas karena berlari dari warung Mpok Menah ke
sekolah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar