Lihatlah Ibu,
Tembok itu nampak cantik
Dia sudah semakin besar sekarang
Tembok yang tidak ingin sama sekali aku lewati
Tembok besar yang sama sekali tidak akan ku lampaui
Karena aku yang membuatnya tampak seelok ini sekarang
Bagaimana bisa aku meninggalkannya dan melampauinya?
Ayah,
Aku pernah berjanji pada mu untuk menjadi seorang kesatria
Kesatria yang menebaskan pedangnya
Menebas semua yang ingin menembus tembok besar ini dengan kelicikan mereka
Ibu,
Aku pernah berjanji menjadi seorang Ibu bagi tembok nan elok itu
Melindungi kerajaan ku dan tembok besar itu
Dengan penuh kehangatan seorang Ibu
Ayah, Ibu
Pun aku berjanji untuk melewati tembok besar itu
Melampauinnya
Bahkan tembok indah itu mengetahui janji ku
Bagi ku dia bukan tembok penghalangku untuk bebas
Dia bukan penghalang
Akulah yang membuatnya menjadi sebesar dan seelok ini
Jadi, dia bukanlah penghalang bukan?
Saat ia menagih janji ku untuk melampauinya
Saat semuanya aku terima, karenanya
Dia, tembok itu hancur seketika
Bahkan saat aku baru saja membuka pintu keluarnnya sepanjang jari kelingking
Dia hancur, Ayah
Dia hancur, Ibu
Ada sesuatu yang menggerogotinya
Ada sesuatu yang membuatnya begitu kokoh, ambruk seketika
Aku tahu, itu Tuhan
Aku tahu, Tuhan ingin mengambil milik-Nya
Aku tahu, aku bukanlah pemilik tembok itu seutuhnya
Ya, aku tahu
Tidak,
Aku tidak akan melampaui tembok ini
Ketika aku sudah begitu yakin akan melewatinya
Dia hancur seketika
Aku tidak akan melampauinya sekaranga
Aku akan melampauinya lagi ketika kokoh dan tegar terlihat padanya
Dia hancur, Ayah
Kau tidak akan memaksa ku kan?
Ibu,
Tembok yang paling kau sayangi itu
HANCUR
Dia lemah sekali sekarang
Bagaimana bisa aku melampaui tembok ini dengan keadaan seperti ini, bukan?
Bukankah? aku lelaki satria, Bu?
Kau tidak akan memaksa ku kan?
-Melampauinya-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar