Daun

Selasa, 09 Juli 2013

Biarkanlah Bongkahan Perasaan Ini

Sore itu saat cahaya surya tak nampak. Saat aku dan teman ku Aci berjalan pulang ke rumah. Terasa lelah di pundak dan kaki saat itu. Bagaimanalah kalian akan menyangka?. seharian kami berjalan, rapat, merapihkan barang-barang di ruangan yang akan kami pakai. Aku dan Aci harus berjalan pada saat berangkat--pun sama halnya dengan saat pulang. Ya, begitulah pengerbonan kami di organisasi ini. Berjuang dengan semangat!.
Aku masih enak mengobrol tentang banyak hal perasaan Aci. Mungkin yang lebih tepatnya--Aci curhat sepanjang perjalanan berangkat dan pulang. Curhat dengan tema dan judul yang sama. Biasa, anak umuran remaja seperti ini. Banyak sekali curhat masalah cinta. Kalian tahu?. Bebalnya, temanku ini tak pernah bisa paham atas dirinya sendiri. Ia berpisah dari laki-laki yang ia cintai itu. Berpisah semenit--kembali semenit. Berpisah sehari dan kembali lagi. Berpisah seminggu dan kembali lagi. Berpisah sebulan dan kembali lagi.  Terus saja seperti itu. Sekarang pun aneh. Mereka berdua sudah berpisah selama sebulan. Aci mengatakan, "aku serius, Dzia. Aku tak akan kembali lagi dengannya". Aku masih belum percaya tentang itu. Pasalnya, Aci masih menyimpan sejuta rasa. Anehnya lagi. Sang mantan itu masih saja bermodus-modus ria lewat orang tua Aci. Itu menyebalkan, kawan.
Aci bingung dengan sifat yang katanya mentan kekasihnya--pasalnya, karena kemodusan mantannya tersebut, Aci menjadi penuh dengan beribu harap kembali. Ketika Aci mencoba membuka mulutnya dan bertanya apakah sebenarnya perasaan sang lelaki. Tidak, tidak pernah ada jawaban dari mantannya. Tak pernah. Itu lah yang menjadi topik pembicaraannya. Kenapa lelaki itu tak pernah membalas pesannya. Padahal kalau lelaki itu menjawab "tidak ada perasaan apapun" maka sudah selesai pengharapan Aci. Kalau lelaki itu menjawab "masih, masih ada perasaan" pastilah sang lelaki akan tahu jawabannya. Lelaki itu pasti akan kembali dengan Aci seutuhnya.
Lihat. Bukankah, jika perasaan itu terlihat rumit, tidak jelas, tidak beraturan dan hanya buat sakit hati saja. Seharusnya, tinggalkan saja. Cinta itu sederhana, yang membuatnya begitu rumit kita sendiri. Bukan perasaan itu. Entah apa yang dipikirkan kawan ku yang satu ini.
Aku masih menggelengkan kepala tak paham dengan tabiat kawan ku. Saat melewati tempat itu. Tempat yang sudah dari minggu kemarin ingin aku hindari. Tempat ini malah harus sering aku lewati. Sebuah Yayasan yang juga dikelola oleh seseorang yang ku kenal. Seseorang yang tidak asing lagi di kepala dan entah kenapa--juga di hati ku. Tempat itu membuat sejuta bebungaan tiba-tiba bermekaran. Sejanak saja aku sudah bisa sadar.
Ada seeorang yang menegur kami. Orang itu adalah "Ayah". Lelaki setengah baya ini adalah Ayah asuh bagi anak-anak yatim di yayasan tersebut.
"Neng, dari mana hujan-hujanan?" Ayah bertanya dengan tatapan khawatir kepada kawan ku Aci--yang juga salah satu anak yatim di yayasan itu.
"Habis dari sekolah, Yah" Aci menjawab singkat. Aku hanya tersenyum.
Mereka pun membicarakan sesuatu, sepertinya acara untuk nanti malam. Aku tidak begitu mendengar. Aku malah sibuk dengan perasaan ku. Ada seseorang yang keluar dari yayasan. Aku sedikit menunduk.
Tidak. Dia bukan siapa-siapa. Dia adik dari seseorang itu. Aku sedikit menghela nafas. Tidak lama, kami sudah hampir meninggalkan jalan depan yayasan itu. Aku menelan ludah. Mata ku tidak dapat pergi dari yayasan itu. Sampai--
Di balik dedaunan pohon yang tidak besar di taman yayasan, ada seseorang yang sangat aku hafal postur tubuhnya yang menyenangkan. Waktu bagai tak sependapat dengan ku. Sungguh, aku sangat berharap waktu cepat berlalu. Tapi kenapa waktu tidak sependapat dengan ku saat ini--hey, aku bukan Tuhan.
Dibalik dedaunan pohon yang habis dibasahi oleh hujan itu sedikit bergoyang. Ada seseorang di baliknya sedang memegang sendalnya. Seperti sedang membersihkan sendal. Entahlah. Mata ku seperti sangat mengetahui siapa seseorang itu. Tidak. Tidak terlihat wajahnya sama sekali. Wajahnya tertutup dedaunan yang randum itu. Sepanjang jalan yang hanya dua meter itu, aku tidak dapat melihat jalan. Mata ku fokus melihat seseorang itu.
Tidak lama saat aku memerhatikan seseorang itu, wajah lelaki itu menoleh ke arah kami yang sedang bejalan. Aku masih saja memerhatikannya. Entah, apa seseorang itu sedang melihat ku yang sedang memerhatikannya atau tidak. Cukup lama mungkin, kami bertatapan dengan hijab hijau menyenangkan itu (pohon).
Aku menelan ludah.
Aku sadar. Itu dia. Seseorang itu adalah dia. Aku menelan ludah sekali lagi. Kali ini aku memalingkan wajah ku perlahan. mengangkat kepala ku ke atas dan menunduk dengan cepat. Aci tidak melihat tingkah aneh ku itu. Tidak melihat.
Aku menghela nafas panjang. Rasanya benar-benar lelah hari ini. Tapi bertemu dengannya tanpa melihat langsung wajahnya itu--cukup membuat penghibur lara. Aku sedikit tersenyum. Yang aku pahami. Perasaan ini tetap akan aku kunci. Walau pun mungkin dia tidak akan pernah tahu. Tetapi hanya Tuhan dan para malaikatnya yang tahu. Biarlah juga perasaan ini diketahui oleh ppohon yang membuat ku tadi terlihat aneh. Biarlah bongkahan perasaan ini diketahui oleh beribu makhluk bumi selain manusia. Biarlah. Aku harap aku akan menjaga perasaan ini.
Berharap perasaan yang terpendam itu, berubah menjadi do'a yang mujarab. Biarlah semuanya ku serahkan kepada sang pemilik dan pembolak-balikan hati. Biarlah.

Tidak ada komentar: