Liana meringuk di ataas
bantal. Menangis tak henti-henti di kamar sohibnya. Tak henti-henti pula
menghabiskan tissue kamar sohibnya ini. Sisiy, sohib karibnya sejak masuk
kuliah ini hanya menggeleng tak mengerti dengan Liana. Terus berusah
menenangkan.
“Lu terlalu berlebihan,
Na” Sisiy memberikan tissue untuk yang kesekian kalinya.
“Berlebihan gimana
coba? Kan sudah beribu kali aku peringatkan padanya. Sekali lagi ia lakukan hal
itu, maka tiada ampun atas hubungan kita ini. PUTUS!!” Liana menagis tak
tertahankan di atas bantal Sisiy. Membuatnya menelan ludah melihat bantal penuh
sesuatu .
“Ya udahlah. Lagian
udah tahu dia play boy tingkat kabupaten, masih aja lu dipertahanin. Lu nya
juga yang lebay kan?” Sisiy mulai tak tahan dengan kelakuan sohibnya ini.
Menarik badan Liana.
“Besok gua ada jam
kuliah pagi sangat. Jadi gua harap l ngertiin gua ya, Liana sayang??” Sisiy
menepuk-nepuk punggung Liana. Berharap Liana pergi dari kamarnya dan tidak
mengganggu tidurnya. Kuliahnya besok pagi lebih penting diurusi dibanding pacar
yang gak jelas juntrungannya itu”
Liana menghapus air
matanya. Ia berharap bisa tidur di kamar sohibnya ini. Tapi Sisiy menggeleng
keras. Dia menunjukan banyak tugas yang harus diserahkan besok. Jika Liana
menginap di kamarnya, maka insomnia Sisiy akan kambuh. Liana mendengus kesal.
Pergi dari kamar sohibnya itu. Dalam hatinya mempertanyakan atas kesohiban
diantara mereka. Teman macam apa?. Liana mengeluh kesal.
Pagi hari tiba, Sisiy
sibuk merapihkan bajunya. Mengangkat berkas-berkas tugas yang harus ia bawa.
Jangan sampai ada yang tertinggal. Satupun jangan. Sisiy melotot saat melihat
Liana pagi-pagi mendatangi kamarnya dengan wajah yang benar-benar kacau balau.
Tidak seperti Liana yang biasa. Sisiy menggelengkan kepala saat Liana sampai
tepat berada di depan pintu kamarnya.
“Pagi sekali lu kuliah?
Gakk bisa siangan dikit? Tyo tadi...”
“Aduh, Liana ku sayang.
Bukanya ua mau jadi teman yang jahat. Tapi masalah ini juga penting, bukan? Gua
harus kuliah dan ngasih tugas-tugas ini ke dosen killer itu. Lu tahu sendiri,
beliau bisa kalap kalau tugas gak dikumpulin dalam ketepatan waktu yang beliau
kasih, bukan?” Sisiy memotong pembicaraan Liana. Memegang lengan Liana. Memhon.
Lalu berlalu meniggalkan Liana.
Tugas kuliah ini
penting, sobat.
Liana tak menjawab
apa-apa. Dia paham dan sadar dia salah jika mengentikan Sisiy untuk memberikan
tugasnya pada dosen killer itu.
“Nanti ketemu di kampus
ya??” Liana setengah berteriak. Sisiy melambaikan tangannya.
Pukul sebelas. Tugas Sisiy
terselamatkan. Ia benar-benar beruntung kali ini. Dosen killer itu menyukai
jawaban atas tugas-tugas yang diberikanny. Sisiy bersorak riag di dalam
hatinya. Meneguk jus yang sejak tadi menemaninya di kantin, menunggu Liana.
Apa pasal, kantin
kedatangan Tyo. Mantan pacar Liana atau enatahlah apa hubungannya. Sisiy
menutup wajahnya dengan buku-bukunya. Kalau ia sampai terlihat, pasti lelaki
itu mendekatinya dan bertanya seputar Liana dengan tatapan yang sangat
mencurigakan. Bukan tatapan ingin tahu tentang Liana, tapi lebih tatapan
menggodanya.
Tyo ternyata tidak
sendiri, ia bersama tiga temannya. Memesan makanan ringan. Tertawa bersama.
Tidak ada percakapan penting yang membuat telinga bergetar. Meja mereka hanya
berjarak satu meja kosong dari meja Sisiy. Memungkinkan Sisiy untuk menguping
yang tidak beres. Lima menit pertama hanya seputar kegiatan basket Tyo.
Dan
“Lu katanya mutusin
Liana, Bro? Kenapa? Dia, kan cantek luar binasah!” satu temanya memulai
pertanyaan yang membuat kupingku begerak sempurna.
“Gua bosen, dia aneh.
Gua udah suruh dia jangan deket cowok lain, tapi tetap aja kayak gak punya
cowok. Nyari pegangan mulu” Tyo menjelaskan dengan seenaknya. Sisiy
menggelengkan kepala. Bukankah dia yang malah play boy?. Beraninya ngegodain
teman satu kos Liana dan Sisiy, padahal masih berpacaran dengannya bukan?.
Sisiy mendengus mendengarnya.
Kupingnya masih
bergerak-gerak.
“Weh, sob. Lu sama aja
dong kayak dia. Sekarang aja lu punya tiga pacar lain, kan?” temannya yang lain
tertawa. Bertanya santai seperti tidak ada masalah. Teman yang lainnya tertawa
gelak. Setuju.
“Gua ya gua, kalo dia
mau pacaran sama gua, ya itu syaratnya” Tyo tertawa balik. Tergelak meminum
jusnya.
Sisiy menelan ludah
mendengar percakapan ini. Sungguh sangat keterlaluan. Memang siapa dia? Orang
tua Liana? Seenaknya saja melarang-larang ini itu. Mau nikahin saja belum
tentukan. Liana berdiri dan segera pergi dari tempat itu. Menelpon sohibnya
agar bertemu di taman kampus.
Sesampainya di sana,
Sisiy menunggu dengan tenang. Sohibnya itu benar-benar suka bermain-main dengan
cinta. Sedangkan Sisiy hampir tidak pernah termakan omongan laki-laki macam
Tyo. Dia pernah diangap tidak waras karena tidak pernah berpacaran. Tapi apa
yang penting?. Bahkan kuliahnya lebih penting dari pada itu. Untuk
penyemangat?. Tidak. Apanya yang semangat jika terus saja lelaki itu melarang
ini itu. Tiap hari diganggu dengan sms yang bahkan hanya itu-itu saja isinya.
Sisiy bahkan lebih paham hal itu. Siang ini Sisiy harus menjelaskan semuanya
pada sohibnya itu. Entah ia mau terima atau tidak. Terserah pada sohibnya
nanti.
Sudah hampir sepuluh
menit Sisiy menunggu sohibnya.
“Siy, Tyo tadi bilang
mau balikan sama gua! Gua mau balikan! Mau!” Liana datang sambil
berteriak-teriak. Sisiy menggelengkan kepala. Menatap sohibnya lamat-lamat.
“Kenapa?” Liana betanya
bingung.
“Gua gak boleh balikan
sama dia? Masa gitu sih? Kan lu sohib gua” tanyanya sedih. Padahal berbicara
saja belum.
“Karena gua temen lu,
makany gua gak akan ngizinin, Na” Sisiy menatap Liana serius.
Liana bingung. Bertanya
kenapa. Memegang tangan Liana sambil menggoyang-goyangkannya.
“Apa lu nganggep gua
gak peduli dengan kehidupan cinta lu itu, Na?” Sisiy menatap Liana tajam.
“Gua berteman sama lu
tuh udah tiga tahun. Selama ini bahkan u gak ngerti? Bahkan gua yanng paling
ngertiin lu, sob. Tadi gua denger Tyo ngomong dia bosen sama lu. Terus lu
bilang dia ngajak balikan lu? Mikir dong, Na” Sisiy mulai kesal dengan
sohibnya.
Liana menggaruk epala.
Wajahnya memerah kesal.
“Siapa yang ngonmong
kayak gitu? Tyo? Lu gak usah bohong, Siy. Barusan gua ketemu sama dia, dan
dia..
“Ngajak balikan? Lu tuh
kan tahu, gua kan berbohong sama lu. Lu tuh udah kayak ade gua sendiri, Na”
Sisiy menyela pembicaraan.
“Bukanya gua mau sok
dewasa atau bagaimana. Akhirnya, lu juga yang akan memutuskan. Kalo lu mau
dicintai maka cintai diri lu sendiri dulu. Apa lu tahu? Status lu Cuma pacaran
sama dia. Dia bukan keluarga lu, Tuhan juga bukan, dosen atau orang-orang yang
lebih perhatian sama lu, dia bukan siapa-siapa. Dia bukan suami lu. tapi apa
coba? Dia seenaknya bikin peraturan yang buat lu nngis tiap bulan. Tiap miggu.
Bukanya gua bosen denger lu nangis. Tapi apalah arti tangisan itu?. Menagisi
seseorang yang bahkan menginjak-injak martabat kita? Ya Tuhan, gua ingung harus
bicara kayak apa lagi, Na” Sisiy menggelengkan kepalanya. Menatap kedepan.
Menarik nafas.
“Setelah itu terserah
lu” Sisiy menarik nafas untuk yang kedua kalinya dan pergi meninggalka sohibnya
yang sedang memerah ingin menagis. Menangis bingung. Ia harus marah atau menerima.
Karena semua yang dikatakan oleh sohibnya itu benar.
Dia bukanlah
siapa-siapa. Hanya status pacar saja seenaknya membuat peraturan yang dapat
mengekangnya. Mengekang hidupnya.
Di taman ini, Liana
menutup wajahnya yang merah. Ia buncah. Menagisi temanya yang begitu perhatian
kepadanya. Mengingatkan semua yang begitu sia-sia selama ini. Berbualnbulan
menangisi orang yang bahkan sangat tidakk peduli pada kita. Liana memenuhi
hatinya dengan beribu penyesalan. Sohibnya selama ini selalu baik.
Di taman ini, Liana
mendapat sesuatu yang lebih berharga. Mendapat pmahaman baik yang lebih besar
dari apapun. Langsung dari sohibnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar