Daun

Senin, 08 Juli 2013

Pemahaman dari Sohib

Liana meringuk di ataas bantal. Menangis tak henti-henti di kamar sohibnya. Tak henti-henti pula menghabiskan tissue kamar sohibnya ini. Sisiy, sohib karibnya sejak masuk kuliah ini hanya menggeleng tak mengerti dengan Liana. Terus berusah menenangkan.
“Lu terlalu berlebihan, Na” Sisiy memberikan tissue untuk yang kesekian kalinya.
“Berlebihan gimana coba? Kan sudah beribu kali aku peringatkan padanya. Sekali lagi ia lakukan hal itu, maka tiada ampun atas hubungan kita ini. PUTUS!!” Liana menagis tak tertahankan di atas bantal Sisiy. Membuatnya menelan ludah melihat bantal penuh sesuatu .
“Ya udahlah. Lagian udah tahu dia play boy tingkat kabupaten, masih aja lu dipertahanin. Lu nya juga yang lebay kan?” Sisiy mulai tak tahan dengan kelakuan sohibnya ini. Menarik badan Liana.
“Besok gua ada jam kuliah pagi sangat. Jadi gua harap l ngertiin gua ya, Liana sayang??” Sisiy menepuk-nepuk punggung Liana. Berharap Liana pergi dari kamarnya dan tidak mengganggu tidurnya. Kuliahnya besok pagi lebih penting diurusi dibanding pacar yang gak jelas juntrungannya itu”
Liana menghapus air matanya. Ia berharap bisa tidur di kamar sohibnya ini. Tapi Sisiy menggeleng keras. Dia menunjukan banyak tugas yang harus diserahkan besok. Jika Liana menginap di kamarnya, maka insomnia Sisiy akan kambuh. Liana mendengus kesal. Pergi dari kamar sohibnya itu. Dalam hatinya mempertanyakan atas kesohiban diantara mereka. Teman macam apa?. Liana mengeluh kesal.
Pagi hari tiba, Sisiy sibuk merapihkan bajunya. Mengangkat berkas-berkas tugas yang harus ia bawa. Jangan sampai ada yang tertinggal. Satupun jangan. Sisiy melotot saat melihat Liana pagi-pagi mendatangi kamarnya dengan wajah yang benar-benar kacau balau. Tidak seperti Liana yang biasa. Sisiy menggelengkan kepala saat Liana sampai tepat berada di depan pintu kamarnya.
“Pagi sekali lu kuliah? Gakk bisa siangan dikit? Tyo tadi...”
“Aduh, Liana ku sayang. Bukanya ua mau jadi teman yang jahat. Tapi masalah ini juga penting, bukan? Gua harus kuliah dan ngasih tugas-tugas ini ke dosen killer itu. Lu tahu sendiri, beliau bisa kalap kalau tugas gak dikumpulin dalam ketepatan waktu yang beliau kasih, bukan?” Sisiy memotong pembicaraan Liana. Memegang lengan Liana. Memhon. Lalu berlalu meniggalkan Liana.
Tugas kuliah ini penting, sobat.
Liana tak menjawab apa-apa. Dia paham dan sadar dia salah jika mengentikan Sisiy untuk memberikan tugasnya pada dosen killer itu.
“Nanti ketemu di kampus ya??” Liana setengah berteriak. Sisiy melambaikan tangannya.
Pukul sebelas. Tugas Sisiy terselamatkan. Ia benar-benar beruntung kali ini. Dosen killer itu menyukai jawaban atas tugas-tugas yang diberikanny. Sisiy bersorak riag di dalam hatinya. Meneguk jus yang sejak tadi menemaninya di kantin, menunggu Liana.
Apa pasal, kantin kedatangan Tyo. Mantan pacar Liana atau enatahlah apa hubungannya. Sisiy menutup wajahnya dengan buku-bukunya. Kalau ia sampai terlihat, pasti lelaki itu mendekatinya dan bertanya seputar Liana dengan tatapan yang sangat mencurigakan. Bukan tatapan ingin tahu tentang Liana, tapi lebih tatapan menggodanya.
Tyo ternyata tidak sendiri, ia bersama tiga temannya. Memesan makanan ringan. Tertawa bersama. Tidak ada percakapan penting yang membuat telinga bergetar. Meja mereka hanya berjarak satu meja kosong dari meja Sisiy. Memungkinkan Sisiy untuk menguping yang tidak beres. Lima menit pertama hanya seputar kegiatan basket Tyo.
Dan
“Lu katanya mutusin Liana, Bro? Kenapa? Dia, kan cantek luar binasah!” satu temanya memulai pertanyaan yang membuat kupingku begerak sempurna.
“Gua bosen, dia aneh. Gua udah suruh dia jangan deket cowok lain, tapi tetap aja kayak gak punya cowok. Nyari pegangan mulu” Tyo menjelaskan dengan seenaknya. Sisiy menggelengkan kepala. Bukankah dia yang malah play boy?. Beraninya ngegodain teman satu kos Liana dan Sisiy, padahal masih berpacaran dengannya bukan?. Sisiy mendengus mendengarnya.
Kupingnya masih bergerak-gerak.
“Weh, sob. Lu sama aja dong kayak dia. Sekarang aja lu punya tiga pacar lain, kan?” temannya yang lain tertawa. Bertanya santai seperti tidak ada masalah. Teman yang lainnya tertawa gelak. Setuju.
“Gua ya gua, kalo dia mau pacaran sama gua, ya itu syaratnya” Tyo tertawa balik. Tergelak meminum jusnya.
Sisiy menelan ludah mendengar percakapan ini. Sungguh sangat keterlaluan. Memang siapa dia? Orang tua Liana? Seenaknya saja melarang-larang ini itu. Mau nikahin saja belum tentukan. Liana berdiri dan segera pergi dari tempat itu. Menelpon sohibnya agar bertemu di taman kampus.
Sesampainya di sana, Sisiy menunggu dengan tenang. Sohibnya itu benar-benar suka bermain-main dengan cinta. Sedangkan Sisiy hampir tidak pernah termakan omongan laki-laki macam Tyo. Dia pernah diangap tidak waras karena tidak pernah berpacaran. Tapi apa yang penting?. Bahkan kuliahnya lebih penting dari pada itu. Untuk penyemangat?. Tidak. Apanya yang semangat jika terus saja lelaki itu melarang ini itu. Tiap hari diganggu dengan sms yang bahkan hanya itu-itu saja isinya. Sisiy bahkan lebih paham hal itu. Siang ini Sisiy harus menjelaskan semuanya pada sohibnya itu. Entah ia mau terima atau tidak. Terserah pada sohibnya nanti.
Sudah hampir sepuluh menit Sisiy menunggu sohibnya.
“Siy, Tyo tadi bilang mau balikan sama gua! Gua mau balikan! Mau!” Liana datang sambil berteriak-teriak. Sisiy menggelengkan kepala. Menatap sohibnya lamat-lamat.
“Kenapa?” Liana betanya bingung.
“Gua gak boleh balikan sama dia? Masa gitu sih? Kan lu sohib gua” tanyanya sedih. Padahal berbicara saja belum.
“Karena gua temen lu, makany gua gak akan ngizinin, Na” Sisiy menatap Liana serius.
Liana bingung. Bertanya kenapa. Memegang tangan Liana sambil menggoyang-goyangkannya.
“Apa lu nganggep gua gak peduli dengan kehidupan cinta lu itu, Na?” Sisiy menatap Liana tajam.
“Gua berteman sama lu tuh udah tiga tahun. Selama ini bahkan u gak ngerti? Bahkan gua yanng paling ngertiin lu, sob. Tadi gua denger Tyo ngomong dia bosen sama lu. Terus lu bilang dia ngajak balikan lu? Mikir dong, Na” Sisiy mulai kesal dengan sohibnya.
Liana menggaruk epala. Wajahnya memerah kesal.
“Siapa yang ngonmong kayak gitu? Tyo? Lu gak usah bohong, Siy. Barusan gua ketemu sama dia, dan dia..
“Ngajak balikan? Lu tuh kan tahu, gua kan berbohong sama lu. Lu tuh udah kayak ade gua sendiri, Na” Sisiy menyela pembicaraan.
“Bukanya gua mau sok dewasa atau bagaimana. Akhirnya, lu juga yang akan memutuskan. Kalo lu mau dicintai maka cintai diri lu sendiri dulu. Apa lu tahu? Status lu Cuma pacaran sama dia. Dia bukan keluarga lu, Tuhan juga bukan, dosen atau orang-orang yang lebih perhatian sama lu, dia bukan siapa-siapa. Dia bukan suami lu. tapi apa coba? Dia seenaknya bikin peraturan yang buat lu nngis tiap bulan. Tiap miggu. Bukanya gua bosen denger lu nangis. Tapi apalah arti tangisan itu?. Menagisi seseorang yang bahkan menginjak-injak martabat kita? Ya Tuhan, gua ingung harus bicara kayak apa lagi, Na” Sisiy menggelengkan kepalanya. Menatap kedepan. Menarik nafas.
“Setelah itu terserah lu” Sisiy menarik nafas untuk yang kedua kalinya dan pergi meninggalka sohibnya yang sedang memerah ingin menagis. Menangis bingung. Ia harus marah atau menerima. Karena semua yang dikatakan oleh sohibnya itu benar.
Dia bukanlah siapa-siapa. Hanya status pacar saja seenaknya membuat peraturan yang dapat mengekangnya. Mengekang hidupnya.
Di taman ini, Liana menutup wajahnya yang merah. Ia buncah. Menagisi temanya yang begitu perhatian kepadanya. Mengingatkan semua yang begitu sia-sia selama ini. Berbualnbulan menangisi orang yang bahkan sangat tidakk peduli pada kita. Liana memenuhi hatinya dengan beribu penyesalan. Sohibnya selama ini selalu baik.
Di taman ini, Liana mendapat sesuatu yang lebih berharga. Mendapat pmahaman baik yang lebih besar dari apapun. Langsung dari sohibnya.

Tidak ada komentar: